Derai ombak masih halus menggapai kakiku. Senja perlahan datang, matahari mulai enggan menyinari bumi, bersembunyi membawa hangat sinarnya. Aku masih merasakan sakit di kepalaku. Ada bekas memar tergambar di keningku. Yah,, pukulan dia memang cukup keras. Aku tak pernah bisa percaya, wajahnya yang memancarkan kasih sayang, berubah buas karena ketidakpercayaan. Seandainya dia lebih tahu, perasaan cinta ini seperti laut, yang tiada habis airnya mesti terpanggang sinar mentari. Dalam lamunku, cakrawala tampak menggambarkan kamu menangis kini,karena seribu kataku tak bisa meyakinkanmu, sejuta maafku tak bisa menyejukkan hatimu.
“brraaakkk..!!!”, suara buku yang kau jatuhkan, masih terngiang bebas dipikiranku. Seolah-olah angin ini adalah roll film yang diputar kembali. Aku berusaha menjelaskanmu, tentang puisi itu. “sungguh, aku gak ada apa-apa dengan dia, kami cuma berteman. Puisi yang aku buatkan untuk dia, hanya untuk membantu dia membuatkan tugasnya,, sungguh. Aku gak bohong!!”. “Tapi kau buatkan dia tanpa izin dulu sama aku, kamu anggap aku apa?? Ha?? Aku gak percaya lagi ma kamu!! Aku benci kamu!!”.
“braaaakkkk...!!”, kembali kau membanting buku itu lagi, apa pun yang ada, kau lemparkan padaku. Ada tangis dalam amarahmu, aku tahu itu. Sungguh, aku tak tahu bagaimana menjelaskan padamu, “brraaaakkk.. duakkks..”, kau memukulku. Keras. Sekeras hatimu yang tak bisa menerima penjelasanku. Egoismu terpecah mempengaruhi aku. Darahku terasa panas, ada kebencian muncul padamu saat itu. Aku beranjak pergi, kau mencoba menahanku. Aku memilih pergi. Hati ini telah terpengaruh emosi.
Dan.. aku pergi ke suatu pantai, pelabuhan batu . pantai terpencil yang sunyi akan hiruk pikuk manusia, tempatku menepikan sejenak emosiku. Akal sehatku, meyakini perasaan cinta dan sayangku padamu, hati kecilku, selalu berkata kaulah sebenarnya cinta untukku. Tak pernah berharap aku menjauh darimu, atau membuat benci antara kita..
Suara pantai terasa sejuk di telingaku. Pasir-pasir menawarkan halus untuk merebahkan beban pikiranku. “sssshhh... kepalaku rasanya sakit sekali..”. jam menunjukkan pukul 6 sore, aku masih ingin disini. Engganku, beranjak dari sini. Biar senja jadi kekasihku saat ini. Kepalaku terasa sakit sekali, dadaku terasa berdegup kencang, entah kenapa hatiku gelisah..
seperti akan ada sesuatu yang akan terjadi.
“perasaan cinta.. yang kini merasuki kehidupanku.. bersamamu.. kau t’lah bawa aku melayang menembus batas ruang waktu, damai ‘tuk kita...” . ringtone hapeku berbunyi, serasa enggan aku membuka sms yang masuk.namun perasaan terasa tak enak, mengalahkan egoku. ku buka hapeku.
Ada satu pesan singkat :
“mas.. aku sakit..;-(”
Aku kaget. Ku buyarkan perasaan benciku padanya. Langsung aku menuju rumahnya. Aku takut dia kenapa-kenapa.
Dia tampak lemah berbaring di ranjang, wajahnya tampak putih pucat. Melihatku datang, dia berusaha memelukku, seperti seorang anak kecil yang mengharapkan pelukan ibunya ketika petir menggelegar. Aku langsung membawanya ke Rumah Sakit kotaku. Bagiku, dia sungguh berharga, sebenci apapun aku padanya, tetap aku mencintainya. Karena dia adalah bagian dari kisah hidupku, sebuah batu perubahan dalam kehidupanku.
Rumah sakit terasa hening, detak-detak jam berpacu dengan detak jantungku. Aku melihat wajah kecilmu, di hapeku, foto saat engkau mengirimkannya padaku, kau yang sungguh teramat manis, bergerak kesana kesini, seperti peri kecil yang memaksaku merindukanmu, yang mengalahkan egoku tentang cinta. Kini, terbaring lemah, wajah kecil itu menjadi wajah putih pucat, aku tak kan rela jika engkau pergi. Di kesunyian ini, dalam kesendirian ini, sungguh teramat sungguh, aku meminta kepada Tuhan :
“Tuhan, selamatkanlah dia”
Tuhan adalah Maha segalanya, dia mendengar satu kalimat harapanku. Wajah pucat itu, berangsur-angsur menjadi cerah. Awan mendung telah perlahan pergi, aku meilhatmu bergerak lagi.
Dan hidupmu, hidupku, tetap berlanjut. Sakit kepalaku perlahan-lahan hilang. Hari berganti hari, kau pun sembuh. Namun, sekali dosa, tetaplah dosa (bagimu). Dan sekali salah tetaplah salah. Bagimu, tak ada tempat atau kesempatan bagi pengkhianat. Bayang-bayang tetaplah bayang-bayang. Sekali buku terteku lembaran kertasnya, selama itu bekas tekukan itu akan tetap ada. Salahku padamu, bukanlah terhapus, tapi menjadi sesuatu catatan hitam yang mungkin akan kau ingat seumur hidup. Dan , tipe-X maafku pun tak bisa menghapusnya, malah menjadi sebuah tumpukan coretan baru di catatan yang hendak ku hapus itu. Kau tak (bisa) mempercayai aku lagi, walau sungguh aku mencintaimu.
Setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan, jalanilah waktu yang sedikit sekali dalam pertemuan itu, sebelum datang waktu tangan melambai dan wajah tak pernah berjumpa. Jika kau beruntung atau bahkan berjodoh, berharaplah untuk pertemuan kembali. Pasti kan tercipta pertemuan kembali. Seperti kisah adam dan hawa. Berharaplah...
Dalam kesibukanku, setelah kata-kata perpisahan itu turun, aku merasakan sakit di kepalaku. Tiap kali kau sedih, kepalaku sakit. Tiap kali kau menangis, kepalaku pun sakit. Tiap kali kau jatuh sakit, kepalaku pun sakit. Namun, kau tak pernah (bisa) percaya, tak pernah berusaha untuk kembali.
Januari.
Februari
Maret.
.....
Januari kedua..
....
Januari ketiga...
......
Di tahun ketiga pun...
Sakit di kepalaku masih ada.
Dan, “Brrraaaaakkk..!!!”.
Suara ombak memecah karang..
Lamunanku terbuyarkan, “apakah kau baik-baik saja disana..?”.
......
Sakit.


0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.