Bagian 1 : “Kisah Ramadhan”
“seperti kebanyakan
kata orang, setiap ada pertemuan, selalu akan ada perpisahan. Seperti pun itu
kata Tuhan, selalu ada kematian setelah kehidupan.. walau begitu, aku ingin
mempunyai arti sedikit lain dari akhir sebuah perjumpaan..”
Wajah-wajah baru akan
selalu datang. Kita hanya butuh waktu untuk menjumpanya. Dan wajah-wajah baru
juga akan hilang, kita pun hanya butuh waktu untuk menemuinya. Inilah cerita
awal dari saat aku akan PPL di SMK Muhammadiyah 1 Semarang. Kami selalu punya
pilihan akan suatu kehidupan, dan karena pilihan itulah kami bisa bertemu di
gedung B3 FBS. Dari yang perkenalan sampai pembentukan struktur organisasi,
kami bentuk disana. Di sini pulalah aku kali pertama mengenal yang namanya Ayu,
Niken (Bahasa jawa), Nitta, Rio, Anif (Bahasa Inggris), Ria, Rendra (Akuntansi)
dan Chila dan Juju (Bahasa Arab). Ditambah dengan Yana, teman se-Matematikaku.
Sekolah kami
beralamat di jalan Indraprasta. Sebuah nama jalan yang merupakan jalan satu
arah. Dan di sana hanya ada satu Indomaret, dan sekolah kami terletak di
belakang Indomaret, satu gedung dengan SMP Muhammadiyah 1 Semarang.
Keberangkatan kami
dimulai di akhir Juli, meski sempat diwarnai oleh keterlambatan Rendra, namun
kami tetap berangkat dengan semangat. Sesampainya di sana, yang pertama aku
rasakan adalah, bahwa di sini panas sekali ya, hehehe… SMK Muhammadiyah berbagi
gedung dengan SMP 1 Muhammadiyah sehingga menyebabkan hanya terdapat sedikit
ruang. Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa hanya terdapat tujuh kelas, 2
kelas X, 2 kelas XI dan 3 kelas XII. Ada dua jurusan untuk kelas X dan XI,
yakni Animasi dan Akuntansi, sedangkan untuk kelas XII ada 3, Pemasaran,
Akuntansi dan Animasi.
Selama hampir
seminggu kami observasi dan pencarian data di sana, kami mengalami kebosanan.
Jujur, aku sempat tidak betah, selain karena di sini panas, juga karena jam di
sini terlalu banyak, kami masuk 6.45 dan selesai jam 3.15, ditambah lagi belum
ada jam menajar, jadi kami hanya bisa plonga plongo mainan
laptop,weleh….
Ohya, sampai
kelupaan, sebelum kedatangan kami, sudah ada yang datang lebih dulu dari IAIN
Walisongo Semarang, nama Umi dan Ghovur. Dua orang ini bagaikan gula dan
kopi,hehehe… lumayanlah buat nambah orang di sini.
| Suasana di Ruang PPL |
Kedatangan kami
adalah pada masa-masa Ramadhan, jadi kami masuk jam setengah 8 dan selesai jam
2. Di sekolah kami hanya mainan laptop, dan kadang ikut pengarahan. Waktu itu
di sekolah masih hanya ada kelas X dan XI. Aku dan Yana diberi waktu untuk
mengajar setelah lebaran. Tadinya aku diberi kelas XI dan kelas X diserahkan
semua ke Yana, namun keputusan itu diubah, aku diberi kelas X Animasi, Yana
kelas X Akuntansi dan kelas XI Akuntansi diserahkan kepada kami berdua.
Sekolah kami sedang
dalam masa-masa persiapan akreditasi, sehingga banyak jam kosong. Untuk mengisi
waktu luang selama kekosongan, kami terkadang disuruh masuk ke kelas untuk
mengganti mengajar atau cuma menunggui kelas. Aku masih ingat kala pertama
kelas ku masuki ialah kelas XII Pemasaran, waktu itu bareng Juju dan Chila.
Kemudian ke kelas XII Akuntansi, ini kelas yang luar biasa, sebagian besar
pengurus IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) SMK Muhammadiyah 1 berada di sini.
Aku masih ingat ketika itu jam sudah berakhir, tapi mereka masih antusias untuk
mendengarkan kami perkenalan.
Sisi lain.
Minoritas
Itu adalah sisi kami
dalam kelas, di luar kelas kami tetaplah mahasiswa biasa yang sedang menimba
ilmu. Aku sadar akan kelemahan diriku dalam social, ialah waktu adaptasi yang
lama. Bila teman-teman lain sudah mulai akrab, aku justru sedang berusaha buat
membiasakan diri dengan lelucon-lelucon mereka. Bahkan dengan teman
se-matematikaku saja aku agak kesulitan. Entah kenapa aku lebih akrab dengan
kaum minoritas, ya, bisa dibilang di awal-awal aku lebih akrab dengan ghovur
dan Umi. Bila ditilik ke belakang, aku tahu, itu karena Ghovur itu gayanya
mirip dengan mas kosku dulu, dan si Umi itu temannya wahyu, jadi aku lumayan
bisa adaptasi dengan mereka.
Dengan teman-teman
UNNES? Jujur aku kesusahan. Mereka kebanyakan bercanda dengan bahasa inggris
dan arab, aku gak mudeng. Entah kenapa lelucon mereka terdengar biasa saja
buatku.
Formasi Boncengan 1
Apa itu formasi
boncengan? Formasi boncengan adalah korespedensi satu-satu (wuihh istilah
matematika) yang bertujuan agar setiap personil PPL dapat berangkat ke sekolah.
Secara garis besar ada dua blok, yaitu blok Semarang bawah yang di isi oleh
Niken dan Nitta, dan blok Semarang atas yang diisi oleh aku, Yana, Ayu, Rio,
Juju, Chila, Ria, Rio dan Rendra. Dalam formasi awal berangkat, aku dan Yana,
Juju dengan Chila, Ria dengan Rendra, Rio, Anif sendiri karena Ayu pada
awalnya ngekos di bawah. Lalu Niken
berangkat sendiri, di laju dari demak, dan Nita, bolak-balik naik becak walau
kadang juga di jemput. Inilah formasi awal boncengan.
Buka Bersama
| Chila, Yana, Jefri, Ruman |
Selayaknya bulan
Puasa, tentunya ada acara BUBER. Kami buka bersama dengan anak-anak IPM. Bicara
anak IPM, ku rasa semua akan kenal dengan yang namanya Euis Siti Khodijah. Ya,
ku rasa dari seluruhnya, dia yang paling cerdas. Yang paling cerewet ada dua,
yaitu si Lingling (Lidya) dan Gisella.
Lomba di Bulan
Ramadhan dan Agustusan
Tahun ini merupakan
tahun yang istimewa karena 17 Agustus masuk dalam bulan ramadhan. Untuk mengisi
acara agustusan, SMK Muhammadiyah mengadakan beberapa lomba yang diikuti oleh
kelas X dan XII, karena kelas XI masih magang. Dari sekian banyak lomba, aku
ikut menjadi juri dalam lomba adzan, ku rasa itu yang paling aku bisa. Ada 3
orang yang menjadi juri dalam lomba ini, ialah aku, Yana dan Rio. Seolah-olah
kalau diperhatikan ini seperti dalam Indonesia idol. Jurinya 3, ceweknya 1.
Mungkin inilah adzan Idol,hehehe..
| Suasana Menjelang Buber |
Aku dalam memberikan
penilaian asal saja yang penting dia itu intonasinya pas, dan sikapnya ketika
adzan baik. Sebenarnya, aku juga gak mudeng adzan yang benar-benar baik itu
gimana? Hehehe…
Lomba-lomba selesai,
kami ada agenda untuk membagi zakat. Ada sedikit keanehan bagiku, jadi zakat
yang kami bagi dilakukan di siang hari, kemudian kami bagikan kepada warga atau
orang di sekitar lingkungan Indraprasta. Kami dibagi menjadi beberapa tim, ada
yang ke tugu muda, ke pasar bulu, kalau timku ke jalan Imam Bonjol. Di timku
ada Umi, Ghovur, Ria dan juga Lingling. Kami membagikan zakat ke pemulung
sampah, tukang becak, yang terpenting kepada warga sekitar yang kurang mampu.
Bayangkan, jam 11-12 kami turun ke jalan, panas-panas puasa lagi. Huufftt…
| Suasana Pembagian Zakat |
Kegiatan berakhir,
kami pun pulang ke kampung masing-masing. Tanggal 16, kami kembali ke Semarang
untuk mengikuti upacara 17 Agustus. Dan, di sinilah kali pertama aku melihat
wajah-wajah kelas XI yang telah kembali dari magangnya.
Rasanya berbeda sekali,
“dulu aku yang berdiri di sana, sembari memberi hormat kepada bapak ibu
guru, kini, aku yang berdiri di depan mereka, sembari dihormati sebagai seorang
guru…”
Jadi teringat
masa-masa sekolah dulu.


0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.