Sabtu, 14 Desember 2013

Pelangi dan Matahari

Kata orang, cinta itu bisa melakukan apa saja yang diinginkan. Bisa merubah gula jawa jadi coklat, bisa merubah jauh jadi dekat, namun, bagiku, cinta itu bisa segalanya, termasuk juga menguatkan hati kala di keraguan.

Dan, ini adalah ceritaku kala pertama main ke rumah kekasihku.. J

14 Agustus 2013,

Lebaran baru saja usai dengan gemuruh petasan, namun meski begitu, suasana ini, belumlah terlalu terlambat untukku menemui seseorang, seseorang yang kini mengisi hatiku.  Sudah lama aku memendam keinginan untuk mengunjungi rumahnya, namun, dalam pikiranku, aku ingin mengunjunginya dengan cara aku  menemukannya sendiri. Itulah yang membuatku menolak ajakannya untuk main ke rumahnya.

Malam sebelum 14 Agustus, aku memikirkan apa saja yang akan ku bawa, yang ku pikirkan jarak kotaku dan kotanya dekat, walau dipisahkan oleh pegunungan. Ya, bisa dibilang Batang-Wonosobo hanya bertetangga, namun masalahnya, aku di Batang utara sedangkan dia di pusat kota wonosobo. Ku pikir, “Paling lama 2-3 jam lah..”.  masalah lain yang ku pikirkan adalah, aku sama sekali tak tahu rumahnya, yang ku tahu hanya alamat rumahnya, itu pun alamat rumahnya yang dulu, petunjuk lain, aku hanya tahu nama ortunya. Bisa dibilang, ini adalah perjalanan nekat, karena aku berangkat seorang diri, melalui jalan yang belum pernah aku lalui, tanpa alamat yang jelas,  namun, aku yakin : AKU PASTI BISA.

Perjalanan dimulai keesokan harinya, jam 6, ku melajukan motorku. Mengendarai sepeda motor yang mesinnya hari kemarin sempat ‘terbakar’ karena kekurangan oli saat ke desa sodong, ku melalui jalan ‘normal’, yaitu melalui jalan alternatif limpung-sukorejo. Jalan yang belum pernah aku lalui sebelumnya. Perjalanan terasa panjaaang sekali, jarak yang aku perkirakan hanya 2-3 jam sampai wonosobo, ternyata 2 jam berjalan, aku baru sampai sukorejo,hehehe.... ternyata untuk mencapai wonosobo, selain sukorejo, ku juga melewati kota temanggung, ku terus melaju, sampai di persimpangan yang aku lupa namanya. Pokoknya kalau lurus, kita akan sampai ke wonosobo lebih dekat, namun jalannya susah, sedangkan kalau belok, kita akan sampai ke wonosobo melalui jalan yang lebih ‘mudah’ namun lebih jauuhhh. Waktu yang semakin mepet, membuatku memilih jalan yang pertama. Jalan yang medannya lebih ‘wow’. Aku pun melaju lurus, melewati hamparan sawah yang luas, panorama hijau yang menyejukkan, hingga akhirnya ku temui sebuah gerbang bertuliskan “ SELAMAT DATANG WONOSOBO”. Ku masuki gerbang itu, ku temukan jalanan dengan hamparan tanaman teh di kanan dan kiriku, bebukitan hijau yang menjulang tinggi, dan jalanan kombinasi hancur dan halus. ternyata, aku melewati pucuk wonosobo, bisa dikatakan rumah kekasihku, adalah di wonosobo bawah, sedangkan aku di wonosobo atas, pantas saja kalau jalannya naik turun seperti ini. Motorku saja sampai harus ku gas sambil jalan kaki agar bisa menembus bebukitan yang ‘wow’ tingginya.  Setelah berjuang hampir satu setengah jam lamanya, akhirnya aku bisa mencapai yang namanya Wonosobo kota. Sasaran pertamaku adalah alun-alun wonosobo. Karena kata kekasihku, rumahnya dekat dengan alun-alun wonosobo. Berbekal alamat desa Brokoh, RT : 03/01, kecamatan Pancurwening, rumah bapak sabarun, akhirnya ku berhasil menemukannya. Bagaimana caranya? Pertama, carilah dari yang paling besar, yaitu kecamatan Pancurwening, lalu kalau sudah ketemu, carilah desa Brokoh, lalu carilah RT dan RW-nya, dan terakhir, gunakan nama kepala keluarga.hehhe... J

Kekasihku bernama Vani Febri Itsnani. Biasa dipanggil phaney. Aku yakin seyakin-yakinnya, dia akan terkejut akan kedatanganku. Why? Karena ku tak mengabarkan kalau aku akan ke rumahnya hari ini. Saat ku sudah di depan rumahnya, ku agak ragu-ragu kalau nanti salah ketuk, saatnya ku akan menelepon untuk menyuruh dia keluar, ternyata kakaknya keluar duluan dan melihatku. Kakaknya memang sudah mengenalku, dan dia langsung memanggil phaney. Phaney pun sempat tidak percaya.

Singkat kata, aku disambut baik di rumahnya, rumah nyaman dengan suasana sejuk pedesaan yang menentramkan hati. Di rumah inilah, kali pertama aku dan phaney memakai apa yang namanya couple. Hp couple : Nokia 3110 classic, nomor couple, IM3, 085642xxxx92 dan 085642xxxx93. Keinginan yang sudah lama sekali aku pendam. Sesungguhnya, aku tak ada rencana untuk menginap, selain gak enak karena akan merepotkan, aku juga tidak bawa baju ganti. Namun phaney dan keluarganya selalu menyarankan aku untuk menginap. Aku belum  bisa memutuskan, akhirnya untuk menunda sementara pemikiran tentang itu, ku mengajak phaney jalan-jalan.

Sasaran pertama adalah alun-alun wonosobo. bagaimana pun, setiap kota pasti punya alun-alun, dan alun=alun adalah simbol dari sebuah kota. Dari alun-alun kami, aku dan phaney, sempat mampir untuk melihat perpustakaan kota wonosobo, lalu kembali lagi ke alun-alun,hehehe.. di alun-alun banyak mainan buat hiburan, seperti sepeda, skuter, kapal-kapalan, kami lalu menyewa sepeda untuk mengelilingi alun-laun berdua. Di sini, gak sengaja ketemu dengan adik kosnya, yang kemudian aku suruh untuk memfotokan kami berdua,hehee...

Dari alun-alun, lalu kami berkeliling ke sekitar kota wonosobo, melihat SMA N 1 Wonosobo, melihat jalanan kota wonosobo, hingga akhirnya tiba untuk memutuskan, akankah aku menginap atau pulang hari ini? 

Foto-foto saat di alun-alun :D









Jelaslah Phaney-juga keluarga-menyarankan aku untuk menginap, karena selain kecapekan, tentunya tak ingin aku kenapa-kenapa kalau aku pulang dalam keadaan kelelahan, jujur saja, aku memang kelelahan, karena selain karena perjalanan, hawa dingin di kota ini juga mendukung mataku untuk terpejam. Namun, di sisi lain, aku tak ingin merepotkan, lagi pula aku juga khawatir kalau ibu mencemaskan aku kalau aku tidak pulang, karena aku Cuma bilang satu hari saja.

Dan, keputusan pun harus dibuat...

Di Pom bensin, tempat aku dan phaney berfikir, akhirnya aku memutuskan untuk menginap. Dengan pertimbangan kelelahan, dan aku juga sudah izin ke dieng-sedangkan aku belum sampai dieng-ku menelepon ibuku, mengabarkan kalau aku harus menginap, didukung dengan cuaca yang mendekati hujan, aku memutuskan untuk menginap. Kota ini ternyata dingin banget ya, tanpa aku mandi pun, aku tidak merasakan sukar, seperti di Batang. Di rumah phaney, aku di sambut baik, terutama oleh ibu dan mbaknya. J
Ku sempat membantu ibunya bikin kue brownis lho... J

......................................
Malam pun berlalu, di kamar tamu rumah phaney, ku rasakan tentramnya kota wonosobo.
....................................

15 agustus 2013,

Aku bangun sekitar pukul 7. Ketika bapak phaney sudah berangkat ke kantor, dan ketika aku bangun, phaney sudah di sampingku menunggu aku bangun. :* . setelah mandi dengan air hangat, aku dan phaney sarapan bersama dengan megono ala wonosobo dan tempe kemul. Di tambah dengan sambal bawang buatan ibu (calon) mertua,eh, :P, sarapan saat itu terasa berbeda dengan sarapan di rumah. Jujur, ibunya phaney memang pinter masak, dan phaney pun ku yakin juga pinter masak. Walau kadang keasinan,hehee...

Selesai sarapan, tujuan kami adalah : DIENG PLATEAU. Tempat yang mengingatku pada masa-masa kelas XI dulu, kalau dengan nekat bersama 2 sahabat berjalan kaki dari Batang, seperti orang jalanan, mengarungi dieng. Sekitar jam 10 aku dan phaney berangkat ke dieng, ternyata dekat lho, seperti jarak pagilaran-Batang. Kenangan kelas XI dulu, berganti dengan kenangan bersama phaney. perasaan cinta yang aku rasakan padanya, bisa menembus jarak puluhan kilometer, bebukitan dan hutan yang menjulang, terbayar lunas di hari ini, di telaga warna yang indah, dengan warna-warninya, kesejukan anginnya dan hijaunya pepohonannya menjadi latar belakang genggaman tangan kami, genggaman penuh rasa cinta. Aku mencintainya. Untuk itu aku di sini,

Dari telaga warna, kami melaju ke kompleks candi, teringat lagi kala dulu berjalan mencapai candi ini, kini dua orang sahabat itu berganti menjadi sesosok gadis cantik, yang merebahkan kepalanya di bahuku, menikmati masa-masa ini. Masa-masa dimana candi-candi itu, orang-orang itu, menjadi pemain tambahan di antara pelangi cinta yang kami ciptakan di bawah cahaya hangat matahari wonosobo.

Cinta itu, seperti pelangi, yang memberi warna dalam perjalananku... memberiku hiasan di kala aku sedih, memberi senyuman di kala aku kesepian.

Cinta itu, seperti matahari. Yang menyinari aku di saat tenggelam dalam gelap keputusasaan, yang memberi hangat di kala aku terdampar di hawa dingin kesepian.

Dan Pelangi serta Matahari itu ada padamu, phaney.

................

Setelah puas di candi-candi ini, kami melanjutkan ke Dieng Plateau Theatre. Tempat yang belum pernah ku singgahi.  Kala kelas XI juga belum sempat ke tempat ini, dan di sini, adalah masa-masa bersama gadis yang aku cintai. Sebuah kenangan baru, yang tak menumpuk kenangan lama.

Tak terasa waktu terus berlalu, hingga kami harus mengakhiri perjalanan di Dieng ini, bagaimana juga aku harus pulang, agar ibuku tidak khawatir. Setelah sampai di rumah phaney, aku sempat menyantap lagi sambal bawang yang enak itu. Di rumah ini, benar-benar aku diperhatikan, aku bahkan ditawari untuk menginap lagi, walau ku tolak, diberi oleh-oleh jajan buatan sendiri, dan juga perasaan cinta yang disampaikan melalui tatapan mata kekasihku.

Foto-foto saat bersamanya di tempat ini, :D




Ndut lagi sakit peyut :P


















Dan, ku harus pulang, suatu saat aku pasti kan datang lagi, dan berharap untuk tinggal lama di kota ini, bersama kau dan juga keluargamu...

Perjalanan pulang, bukanlah hal yang mudah. Memulai start jam 5 sore, aku menempuh jalan yang berbeda saat aku berangkat. Jika saat berangkat aku melalui jalur atas yang jalannya ‘wow’, kini aku harus melalui jalur bawah, yang aku sendiri tak tahu medannya. Namun, seperti yang ku ucapkan, “ Jalanin Aja..” aku melaju menembus gerimis, sampai akhirnya aku harus memakai jas hujan. Jalanan yang basah juga berkelak-kelok membuatku harus berhati-hati. Di iringi dengan gerimis dan petir yang menggelegar, hatiku sempat merasakan takut. Apalagi suasana semakin mendekati malam, mungkin disinilah kesabaran, keberanian dan otakku dijui agar bisa mencapai rumah dengan selamat. Dengan melaju perlahan-lahan, akhirnya aku bisa menembus kota temanggung dengan selamat dan mencapai sukorejo. Di sini kembali aku diuji, dengan jalanan yang sepiiii banggeeeet, dan gelaaap banggeeet, ditambah berkela-kelok turun, walau kadang ada beberapa motor dan mobil yang melintas, namun itu jalan, sepii banget. Kali ini, sungguh aku merasakan apa yang namanya takut di suasana gelap, bukan karena setan, tapi karena perampokan. Bisa saja aku dirampok. Akhirnya aku bisa melewati jalur sukorejo dengan selamat, demi keamanan aku melewati jalur pantura ke Batang dari pada harus melewati jalur alternatif yang sepi.

Dan perjalanan ini berakhir dengan selamat di rumah. Aku sampai rumah jam 1 malam, 16 Agustus. Ketika ibu masih terjaga menungguku.

Rasanya lama sekali aku meninggalkan rumah ini.

Terima kasih Tuhan.

Terima kasih Ibu.

Terima kasih Bapak.

Terima kasih sayangku, Phaney dan keluarganya.

 J

...............................

0 komentar:

Posting Komentar

silakan beri komentar, kritik, atau saran.

Entri Populer

"Sabar dan Jalanin aja Jef.."

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...