Kata orang, cinta itu bisa
melakukan apa saja yang diinginkan. Bisa merubah gula jawa jadi coklat, bisa
merubah jauh jadi dekat, namun, bagiku, cinta itu bisa segalanya, termasuk juga
menguatkan hati kala di keraguan.
Dan, ini adalah ceritaku kala
pertama main ke rumah kekasihku.. J
14
Agustus 2013,
Lebaran baru saja usai dengan
gemuruh petasan, namun meski begitu, suasana ini, belumlah terlalu terlambat
untukku menemui seseorang, seseorang yang kini mengisi hatiku. Sudah lama aku memendam keinginan untuk
mengunjungi rumahnya, namun, dalam pikiranku, aku ingin mengunjunginya dengan
cara aku menemukannya sendiri. Itulah
yang membuatku menolak ajakannya untuk main ke rumahnya.
Malam sebelum 14
Agustus, aku memikirkan apa saja yang akan ku bawa, yang ku pikirkan jarak
kotaku dan kotanya dekat, walau dipisahkan oleh pegunungan. Ya, bisa dibilang
Batang-Wonosobo hanya bertetangga, namun masalahnya, aku di Batang utara
sedangkan dia di pusat kota wonosobo. Ku pikir, “Paling lama 2-3 jam lah..”.
masalah lain yang ku pikirkan adalah, aku sama sekali tak tahu rumahnya,
yang ku tahu hanya alamat rumahnya, itu pun alamat rumahnya yang dulu, petunjuk
lain, aku hanya tahu nama ortunya. Bisa dibilang, ini adalah perjalanan nekat,
karena aku berangkat seorang diri, melalui jalan yang belum pernah aku lalui,
tanpa alamat yang jelas, namun, aku
yakin : AKU PASTI BISA.
Perjalanan dimulai keesokan
harinya, jam 6, ku melajukan motorku. Mengendarai sepeda motor yang mesinnya
hari kemarin sempat ‘terbakar’ karena kekurangan oli saat ke desa sodong, ku
melalui jalan ‘normal’, yaitu melalui jalan alternatif limpung-sukorejo. Jalan
yang belum pernah aku lalui sebelumnya. Perjalanan terasa panjaaang sekali,
jarak yang aku perkirakan hanya 2-3 jam sampai wonosobo, ternyata 2 jam
berjalan, aku baru sampai sukorejo,hehehe.... ternyata untuk mencapai wonosobo,
selain sukorejo, ku juga melewati kota temanggung, ku terus melaju, sampai di
persimpangan yang aku lupa namanya. Pokoknya kalau lurus, kita akan sampai ke
wonosobo lebih dekat, namun jalannya susah, sedangkan kalau belok, kita akan
sampai ke wonosobo melalui jalan yang lebih ‘mudah’ namun lebih jauuhhh. Waktu
yang semakin mepet, membuatku memilih jalan yang pertama. Jalan yang medannya
lebih ‘wow’. Aku pun melaju lurus, melewati hamparan sawah yang luas, panorama
hijau yang menyejukkan, hingga akhirnya ku temui sebuah gerbang bertuliskan “
SELAMAT DATANG WONOSOBO”. Ku masuki gerbang itu, ku temukan jalanan dengan
hamparan tanaman teh di kanan dan kiriku, bebukitan hijau yang menjulang
tinggi, dan jalanan kombinasi hancur dan halus. ternyata, aku melewati pucuk
wonosobo, bisa dikatakan rumah kekasihku, adalah di wonosobo bawah, sedangkan
aku di wonosobo atas, pantas saja kalau jalannya naik turun seperti ini.
Motorku saja sampai harus ku gas sambil jalan kaki agar bisa menembus bebukitan
yang ‘wow’ tingginya. Setelah berjuang
hampir satu setengah jam lamanya, akhirnya aku bisa mencapai yang namanya
Wonosobo kota. Sasaran pertamaku adalah alun-alun wonosobo. Karena kata
kekasihku, rumahnya dekat dengan alun-alun wonosobo. Berbekal alamat desa
Brokoh, RT : 03/01, kecamatan Pancurwening, rumah bapak sabarun, akhirnya ku
berhasil menemukannya. Bagaimana caranya? Pertama, carilah dari yang paling
besar, yaitu kecamatan Pancurwening, lalu kalau sudah ketemu, carilah desa
Brokoh, lalu carilah RT dan RW-nya, dan terakhir, gunakan nama kepala
keluarga.hehhe... J
Kekasihku bernama Vani Febri
Itsnani. Biasa dipanggil phaney. Aku yakin seyakin-yakinnya, dia akan terkejut
akan kedatanganku. Why? Karena ku tak mengabarkan kalau aku akan ke rumahnya
hari ini. Saat ku sudah di depan rumahnya, ku agak ragu-ragu kalau nanti salah
ketuk, saatnya ku akan menelepon untuk menyuruh dia keluar, ternyata kakaknya
keluar duluan dan melihatku. Kakaknya memang sudah mengenalku, dan dia langsung
memanggil phaney. Phaney pun sempat tidak percaya.
Singkat kata, aku disambut baik
di rumahnya, rumah nyaman dengan suasana sejuk pedesaan yang menentramkan hati.
Di rumah inilah, kali pertama aku dan phaney memakai apa yang namanya couple.
Hp couple : Nokia 3110 classic, nomor couple, IM3, 085642xxxx92 dan
085642xxxx93. Keinginan yang sudah lama sekali aku pendam. Sesungguhnya, aku
tak ada rencana untuk menginap, selain gak enak karena akan merepotkan, aku
juga tidak bawa baju ganti. Namun phaney dan keluarganya selalu menyarankan aku
untuk menginap. Aku belum bisa
memutuskan, akhirnya untuk menunda sementara pemikiran tentang itu, ku mengajak
phaney jalan-jalan.
Sasaran pertama adalah alun-alun
wonosobo. bagaimana pun, setiap kota pasti punya alun-alun, dan alun=alun
adalah simbol dari sebuah kota. Dari alun-alun kami, aku dan phaney, sempat
mampir untuk melihat perpustakaan kota wonosobo, lalu kembali lagi ke
alun-alun,hehehe.. di alun-alun banyak mainan buat hiburan, seperti sepeda,
skuter, kapal-kapalan, kami lalu menyewa sepeda untuk mengelilingi alun-laun
berdua. Di sini, gak sengaja ketemu dengan adik kosnya, yang kemudian aku suruh
untuk memfotokan kami berdua,hehee...
Dari alun-alun, lalu kami
berkeliling ke sekitar kota wonosobo, melihat SMA N 1 Wonosobo, melihat jalanan
kota wonosobo, hingga akhirnya tiba untuk memutuskan, akankah aku menginap atau
pulang hari ini?
Foto-foto saat di alun-alun :D
Jelaslah Phaney-juga keluarga-menyarankan aku untuk menginap,
karena selain kecapekan, tentunya tak ingin aku kenapa-kenapa kalau aku pulang
dalam keadaan kelelahan, jujur saja, aku memang kelelahan, karena selain karena
perjalanan, hawa dingin di kota ini juga mendukung mataku untuk terpejam.
Namun, di sisi lain, aku tak ingin merepotkan, lagi pula aku juga khawatir
kalau ibu mencemaskan aku kalau aku tidak pulang, karena aku Cuma bilang satu
hari saja.
Dan,
keputusan pun harus dibuat...
Di Pom bensin, tempat aku dan
phaney berfikir, akhirnya aku memutuskan untuk menginap. Dengan pertimbangan
kelelahan, dan aku juga sudah izin ke dieng-sedangkan aku belum sampai dieng-ku
menelepon ibuku, mengabarkan kalau aku harus menginap, didukung dengan cuaca
yang mendekati hujan, aku memutuskan untuk menginap. Kota ini ternyata dingin
banget ya, tanpa aku mandi pun, aku tidak merasakan sukar, seperti di Batang.
Di rumah phaney, aku di sambut baik, terutama oleh ibu dan mbaknya. J
Ku sempat membantu ibunya bikin
kue brownis lho... J
......................................
Malam
pun berlalu, di kamar tamu rumah phaney, ku rasakan tentramnya kota wonosobo.
....................................
15 agustus 2013,
Aku bangun sekitar pukul 7.
Ketika bapak phaney sudah berangkat ke kantor, dan ketika aku bangun, phaney
sudah di sampingku menunggu aku bangun. :* . setelah mandi dengan air hangat,
aku dan phaney sarapan bersama dengan megono ala wonosobo dan tempe kemul. Di
tambah dengan sambal bawang buatan ibu (calon) mertua,eh, :P, sarapan saat itu
terasa berbeda dengan sarapan di rumah. Jujur, ibunya phaney memang pinter
masak, dan phaney pun ku yakin juga pinter masak. Walau kadang
keasinan,hehee...
Selesai sarapan, tujuan kami
adalah : DIENG PLATEAU. Tempat yang mengingatku pada masa-masa kelas XI dulu,
kalau dengan nekat bersama 2 sahabat berjalan kaki dari Batang, seperti orang
jalanan, mengarungi dieng. Sekitar jam 10 aku dan phaney berangkat ke dieng,
ternyata dekat lho, seperti jarak pagilaran-Batang. Kenangan kelas XI dulu,
berganti dengan kenangan bersama phaney. perasaan cinta yang aku rasakan
padanya, bisa menembus jarak puluhan kilometer, bebukitan dan hutan yang
menjulang, terbayar lunas di hari ini, di telaga warna yang indah, dengan
warna-warninya, kesejukan anginnya dan hijaunya pepohonannya menjadi latar
belakang genggaman tangan kami, genggaman penuh rasa cinta. Aku mencintainya.
Untuk itu aku di sini,
Dari telaga warna, kami melaju
ke kompleks candi, teringat lagi kala dulu berjalan mencapai candi ini, kini
dua orang sahabat itu berganti menjadi sesosok gadis cantik, yang merebahkan
kepalanya di bahuku, menikmati masa-masa ini. Masa-masa dimana candi-candi itu,
orang-orang itu, menjadi pemain tambahan di antara pelangi cinta yang kami ciptakan
di bawah cahaya hangat matahari wonosobo.
Cinta
itu, seperti pelangi, yang memberi warna dalam perjalananku... memberiku hiasan
di kala aku sedih, memberi senyuman di kala aku kesepian.
Cinta
itu, seperti matahari. Yang menyinari aku di saat tenggelam dalam gelap
keputusasaan, yang memberi hangat di kala aku terdampar di hawa dingin
kesepian.
Dan
Pelangi serta Matahari itu ada padamu, phaney.
................
Setelah puas di candi-candi
ini, kami melanjutkan ke Dieng Plateau Theatre. Tempat yang belum pernah ku
singgahi. Kala kelas XI juga belum
sempat ke tempat ini, dan di sini, adalah masa-masa bersama gadis yang aku
cintai. Sebuah kenangan baru, yang tak menumpuk kenangan lama.
Tak terasa waktu terus berlalu,
hingga kami harus mengakhiri perjalanan di Dieng ini, bagaimana juga aku harus
pulang, agar ibuku tidak khawatir. Setelah sampai di rumah phaney, aku sempat
menyantap lagi sambal bawang yang enak itu. Di rumah ini, benar-benar aku
diperhatikan, aku bahkan ditawari untuk menginap lagi, walau ku tolak, diberi
oleh-oleh jajan buatan sendiri, dan juga perasaan cinta yang disampaikan
melalui tatapan mata kekasihku.
Foto-foto saat bersamanya di tempat ini, :D
| Ndut lagi sakit peyut :P |
Dan,
ku harus pulang, suatu saat aku pasti kan datang lagi, dan berharap untuk
tinggal lama di kota ini, bersama kau dan juga keluargamu...
Perjalanan pulang, bukanlah hal
yang mudah. Memulai start jam 5 sore, aku menempuh jalan yang berbeda saat aku berangkat.
Jika saat berangkat aku melalui jalur atas yang jalannya ‘wow’, kini aku harus
melalui jalur bawah, yang aku sendiri tak tahu medannya. Namun, seperti yang ku
ucapkan, “ Jalanin Aja..” aku melaju
menembus gerimis, sampai akhirnya aku harus memakai jas hujan. Jalanan yang
basah juga berkelak-kelok membuatku harus berhati-hati. Di iringi dengan
gerimis dan petir yang menggelegar, hatiku sempat merasakan takut. Apalagi
suasana semakin mendekati malam, mungkin disinilah kesabaran, keberanian dan
otakku dijui agar bisa mencapai rumah dengan selamat. Dengan melaju
perlahan-lahan, akhirnya aku bisa menembus kota temanggung dengan selamat dan
mencapai sukorejo. Di sini kembali aku diuji, dengan jalanan yang sepiiii
banggeeeet, dan gelaaap banggeeet, ditambah berkela-kelok turun, walau kadang
ada beberapa motor dan mobil yang melintas, namun itu jalan, sepii banget. Kali
ini, sungguh aku merasakan apa yang namanya takut di suasana gelap, bukan
karena setan, tapi karena perampokan. Bisa saja aku dirampok. Akhirnya aku bisa
melewati jalur sukorejo dengan selamat, demi keamanan aku melewati jalur
pantura ke Batang dari pada harus melewati jalur alternatif yang sepi.
Dan perjalanan ini berakhir
dengan selamat di rumah. Aku sampai rumah jam 1 malam, 16 Agustus. Ketika ibu
masih terjaga menungguku.
Rasanya lama sekali aku
meninggalkan rumah ini.
Terima kasih Tuhan.
Terima kasih Ibu.
Terima kasih Bapak.
Terima kasih sayangku, Phaney dan
keluarganya.
J
...............................

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.