“Bersamamamu ku habiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu, rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya...”
.......................................
Kali ini aku berdiri di antara deretan bangku-bangku berwarna coklat, bangku-bangku yang satu mejanya memuat dua bangku, bangku-bangku yang penghuninya adalah mereka-mereka yang berseragam putih abu-abu...
Terbayang dalam benakku, kala menatap deretan bangku tersebut. Dimana ketika waktu ditarik mundur ada aku di kala SMA, duduk manis memperhatikan guru, dan ketika ku menoleh ke samping, ada mereka. Mereka yang pernah mengisi sisi samping kanan maupun kiriku ketika aku masih bersekolah. Mereka ialah...
Teman Sebangku.
Cerita ini adalah sebuah deretan masa lalu, masa dimana jaraknya dengan masa sekarang lebih jauh dari jarak keliling bumi. Masa dimana aku harus menggali dengan sangat dalam ingatan-ingatan yang telah tertumpuk dengan deretan ingatan-ingatan baru.
Bercerita tentang teman sebangku, teman yang pertama adalah ketika aku masih ingusan di kelas 1 SD. Aku masih ingat siapa yang jadi teman sebangkuku saat itu, dialah Ari dan Feri. Waktu SD dulu, jumlah siswa kelewat banyak, sehingga banyak bangku tak mampu memenuhi jumlah siswa. Dengan terpaksa, siswa-siswa pada zamanku saat itu menempati satu bangku untuk bertiga. Ari masih terhitung sebagai saudaraku saat itu, sedangkan feri adalah adik dari teman kakakku. Meskipun bertiga, namun kami tak pernah mempermasalahkan tentang itu, bagi kami saat itu yang menyenangkan adalah bisa bermain di sekolah,hehehe... Aku masih ingat dimana aku dan ari sering menulis di tembok kelas, menggambar di tembok kelas, sampai dimarahi guru,hehehe..
Waktu kemudian membuat kami harus naik kelas, kelas 2. Di kelas 2 SD, aku dan feri meninggalkan ari yang tidak naik kelas, di kelas inilah aku mulai akrab dengan yang namanya Angga Budi Prasetyo, atau lebih akrab disapa angga. Kebersamaan aku, feri dan angga berlanjut sampai kelas 3 SD. Karena ketika kelas 4, feri tertinggal di kelas 3. Waktu dan nilai menyeleksi semuanya, banyak siswa yang kemudian keluar atau tidak naik kelas, sehingga ketika kelas 4 SD, dimulailah masa dimana sebangku untuk 3 orang mulai tidak populer untuk diterapkan. Banyak cerita yang masih ku ingat tentang angga, si teman sebangkuku ini, dia itu anak guru sd 7 kasepuhan, anak yang pertama dari tiga bersaudara, anak yang sering berangkat karena selalu repot ketika mau berangkat sekolah. Pernah aku mau berangkat barenng dan menghampiri ke rumahnya, sampai sana dia malah belum mandi. Kalau berangkat sering jam 7 pas atau lebih malah. Tasnya yang waktu warnanya hijau, ber’cangklong’ satu. Namun yang aku sukai, adalah anaknya pinter, wawasan luas dan juga santai dalam menghadapi sesuatu.
..................
Teman sebangkuku saat SD inilah yang menemaniku kala aku mengalami masa-masa tak menyenangkan ketika di lingkungan rumah. Kami (juga bersama agung, iko, agus) sering bermain bola bersama ketika sore hari, membeli soccer bersama, main playstation bersama, tidak foto kenang-kenangan sd bersama, sampai akhirnya, kami melanjutkan di SMP yang sama.
SMP N 1 Batang.
Pertama kali aku masuk SMP, aku mengalami degradasi adaptasi, diaman aku susah untuk cepat menyesuaikan dengan suasana kelas saat itu, ditambah dengan telingaku yang sedang sakit, semakin membuatku minder untuk bergaul. Teman sebangkuku saat itu adalah Supranoto, atau biasa dipanggil kampran. Anak yang waktu itu terkesan sombong dan cuek kepadaku. Saat sebangku dengan aku saat itu, rasanya aku kurang dianggap. Sampai akhirnya ada renovasi kelas, yang membuat kami pindah ke kelas sementara dan berangkat siang. Aku yang belum tahu apa-apa saat itu, terlambat berangkat dan akhirnya duduk sendirian di bangku paling depan, paling pojok, paling sendirian. Masa-masa ini sempat membuat nilai matematikaku menurun karena aku kehilangan kepercayaan diri.
Namun, Tuhan memberiku kesempatan untuk bangkit, kelas yang lama telah usa direnovasi, dan akhirnya kami kembali menempati kelas baru. Aku duduk dengan seorang anak dari wirosari, dia bernama Muhammad Riza Pahlevi, atau biasa dipanggil Riza. Dari sinilah aku mulai bisa berteman dengan teman-teman lain seperti Sopan, Mifta, Afif, Khamid, dan bahkan seluruh teman di kelas 1A. Kami bahkan kemudian sering bermain bola ketika hari minggu pagi, sering main playstation bareng, dan bahkan kampran yang dulunya acuh tak acuh menjadi baik kepadaku.
Ya, orang pertama yang harus aku ucapkan terima kasih saat itu, adalah kepada Riza. “Thanks, telah menjadi teman sebangkuku saat itu..”
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Waktu terus berlanjut hingga ke kelas 2 SMP, kelas 2E. Kelas yang isinya anak-anak pilihan dari kelas sebelumnya. Aku sendiri heran, kenapa aku bisa masuk kelas 2E. Memang dalam doaku, aku pernah berdoa agar aku tetap bisa bersama dengan teman-teman di 1A sebelumnya. Dan itu bisa menjadi kenyataan. Di kelas 2E, hampir sebagian besarnya adalah personel 1A, seperti Mifta, Kampran, Afif, Khamid, dan tentunya Riza. Namun, kali ini aku tak lagi bersanding pada bangku dan meja yang sama dengan Riza. Aku bersanding dengan Khaerul Subaki. Yang biasa dipanggil Baki, dan juga merupakan personel 1A sebelumnya. Kebijakan wali kelas saat itu membuat aku dan baki duduk di depan. Di kelas 2E, aku semakin menggila dengan teman-temanku, bermain bola, membuat kaos, main playstation, dan baki, adalah kiper utama dalam tim sepak bola kami. Baki anak yang cerdas dan punya keberanian untuk tampil ke depan. Namun kebersamaanku dengan baki di kelas 2E, hanya ada di semester pertama, di semester kedua, melalui kebijakan wali kelas, aku disebangkukan dengan Dedi catur. Tak masalah denganku, karena di kelas ini, ku telah beradaptasi dengan semua teman laki-lakinya.
...................
Dan tantangan sesungguhnya ada di kelas berikutnya....
Kelas 3. Kelas dimana personel unggul 2E dipisah, dan menjadikan persaingan kelas 3 sebagai kelas yang mempunyai kemampuan merata. Tak ada lagi kelas unggulan seperti dahulu. Kelas 3 aku masuk ke kelas 3A. Dan teman sebangkuku saat itu adalah... Fandi Indra Budiman. Atau biasa dipanggil “kopet”. Kopet adalah anak denasri kulon, daerah yang punya dialek khas. Anaknya periang, sebenarnya cerdas, tapi sering main, dan agak usil. Kopet sering membuatku kesal karena sifat usilnya, namun pertengkaran itu cuma sebentar saja. Keusilannya juga sering membuat aji dan wawan kesal, namun dibalik itu, aku tahu, sifat kesetiakawanannya sangatlah kuat. Mungkin juga lebih baik dari aku. Aku masih ingat ketika aku dan kopet dimarahi oleh wali kelas saat itu dan disuruh untuk membeli minyak tanah. -_-
Dan masa SMP pun akhirnya selesai.
..............
Aku harus bersiap dengan masa-masa dimana teman-teman sebangkuku, menjadi bagian yang terpisah dan kemudian menjadi sibuk dengan urusan masing-masing.
Terfikir olehku sebuah pertanyaan :
“Sebenarnya siapakah yang menguji kesetiaan dari (per)sahabat(an), (per)cinta(an), kasih sayang? apakah manusia yang (sengaja) membuat sebuah tes untuk menyeleksi? ataukah waktu yang menjelaskan semua, tentang siapa yang baik atau pura-pura baik, yang tulus atau ada maunya? ataukah mungkin Tuhan yang menguji setiap manusia, yang mengatakan "Bahwa aku adalah ujian buat kamu, dan kamu adalah ujian buatku". siapakah?”
Ketika kau berpisah dengan teman-temanmu, karena berbeda sekolah atau karena tempat bahkan juga pekerjaan, disitulah, terlihat, tanpa perlu kau lakukan sebuah tes, akan terlihat siapakah teman-temanmu... Siapakah yang pantas kamu katakan sebagai teman. Teman sejati, dia akan selalu ingat dan tulus....
.............................
Dan aku bisa melihatnya.
Masa-masa di SMA dibuka ketika aku dengan mulus masuk ke SMA N 1 Batang, sedang angga, harus berbesar hati menuju ke SMA N 2. Sebuah pukulan berat, mengingat aku ingin agr angga juga bisa satu sekolah denganku, menemani iko, kampran, dedi, riza dan beberapa teman lain di sini. Sempat terfikir untuk pindah, namun akhirnya niat itu menjadi keinginan yang tak terealisasikan.
Dan aku, tetap menatap masa depanku di SMA N 1 Batang.
Kelas yang aku tempati adalah kelas X6, sempat ada keinginan untuk satu bangku dengan ainun, teman yang menjadi teman sebangkuku saat masa MOS SMA. Namun, ketika kelas sudah ditempati, aku berubah pikiran, dan akhirnya... Teman sebangkuku, ialah... Nur Wachid. Aku dan dia duduk di deretan paling dekat pintu, barisan ketiga. Di depanku ada duet Bayu-Sigit dan di depannya lagi ada Denis-Wahid. Kami berenam merupakan sebuah geng kecil di kelas ini. Nur wachid adalah orang subah, yang dari rumah sampai ke sekolah selalu dilaju, sehingga catatan ia terlambat lebih dari hitungan jari. Aku sendiri tak tahu kenapa dia tak ngekos saja, padahal jaraknya sangat jauh. Nur wachid ini punya pembawaan yang santai, dalam masalah apa pun, tangannya yang (sengaja atau tidak) kidal. Orangnya cerdas dalam hal komputer dan ilmu sosial. Mungkin gabungan dari setengah otak kanan dan setengah otak kiri.
Namun, kebersamaanku dengannya dalam satu bangku, terpisah oleh peminatan. Aku yang masuk IPA, sedangkan dia dan 4 orang lainnya dari genng kami, masuk IPS. Praktis, aku harus kembali menghadapi, siapakah yang akan jadi teman sebangkuku. Jujur, saat masuk ke kelas XI IPA, sempat terfikir olehku untuk pindah ke IPS bersama teman-temanku yang dulu, namun keinginan itu akhirnya terkubur dalam satu minggu masa percobaan tenggang untuk pindah jurusan. Itu karena teman sebangkuku, seorang yang sama-sama saling kenal untuk pertama kalinya, dialah.. Baskoro Adi Wibowo. Walaupun namanya seperti itu, dia dipanggilnya bukan baskoro, namun Baim. Dulu aku mengira kalau baim itu singkatan dari Baskoro Imut, ternyata bukan, Baim itu adalah Baskoro Impotent -_- hehehe.... Di kelas XI IPA bersama baim, kami sama-sama gila. Suka usil menempel tulisan ke punggung teman, makan di kantin yang depan sekolah, dan baim pulalah yang sering memeperebutkan jatah bangku untuk kami dengan berangkat pagi-pagi. Baim orangnya enak, suka komputer, suka main bulu tangkis, dan sering jadi bahan candaan buat teman-teman. Duetku dengan baim adalah duet konyol, namun kelebihannya pada kreatifitas melengkapi kelebihanku pada logika.
Dan, lagi-lagi waktu harus memisahkan aku dan teman sebangkuku.
Aku naik ke kelas XII IPA 1 sedang Baim ke kelas XII IPA 4. Di kelas XII ini, hampir semua anggotanya sudah aku kenal, karena merupakan gabungan nostalgia dari teman-teman SMP dan juga teman-teman kelas X dan XI. Kali ini, melalui permintaan untuk berduet, aku menerima tawaran temanku, Handis Wiyantoro untuk duduk sebangku. Ketua PMR angkatan 2007/2008 ini adalah orang yang punya dedikasi tinggi, cerdas, pemikirannya dewasa dan juga pantang menyerah. Namun, sistem moving kelas pada saat itu, membuatku harus berotasi dengan banyak teman lain, seperti Muhtamar, Joni, Khamid. Namun, bagiku, tetap aku bersama handis dalam tempat duduk. Kebersamaan kami, akhirnya terpisahkan lagi oleh waktu. Waktu terakhir dari masa yang disebut sekolah.
Ya, tak akan ada lagi istilah teman sebangku ketika masa-masa ini berakhir. Karena setelah ini, akan ada dua jalan, kuliah atau kerja. Ketika kuliah, tak kan ditemui dua bangku coklat dengan meja yang berderet, dan kalau kerja, yang ada, sebuah meja kerja atau lapangan yang penuh denga sinar matahari.
Dan, aku memilih untuk kuliah.
........................
Kini waktu telah berjalan amat jauh dari masa-masa itu. Deretan bangku yang dulu diisi oleh aku dan teman-temanku dulu, kini telah diisi oleh nama-nama baru.
Aku masih sering mendengar kabar-kabar tentang teman sebangkuku, tentang handis yang kini menjadi guru bahasa indonesia, tentang baim, yang menjadi staff fi PT KAI (dan sebentar lagi mau nikah ^_^) tentang riza yang sedang meniti karier sebagai guru, tentang kopet yang sedang studi dan menjadi peternak ayam (sukses ya pet), tentang baki yang sedang sibuk dengan kilang minyaknya, tentang nur wachid yang sebentar lagi akan skripsi (cepat lulus ya hid), tentang dedi yang masih PPL, tentang muhtamar yang kemarin baru saja menikah dan juga tentang dua orang teman sebangkuku, Angga yang sedang kuliah keperawatan dan meniti bisnis jual beli mobilnya (sukses ya ngga) serta tentang kampran, dari yang tadinya acuh, jadi teman yang paling sering bermain denganku, :D.
Semuanya masih teringat, dan masih sering ku dengar kabar tentang mereka.
..........................
Terkadang, waktu selalu menghalangi kita untuk bertemu dengan teman sebangku kita, dan ketika Tuhan memberi kesempatan, manfaatkanlah. Dan ketika teman-temanku menitipkan kepadaku untuk mengantarkan undangan pernikahan mereka, aku akan berkata : “Satu hal yang membuatku mau mengerjakan tugas ini ialah...
adalah di beri oleh-Nya kesempatan untuk bertemu kalian di sebuah dimensi yang paling baru... “
Terima kasih masa-masa sekolahku.
Terima kasih teman-teman sebangkuku. :D



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.