
Maret 2011, Semarang. Aku baru saja menyelesaikan deadline untuk tugas besok. Tekanan kuat pada otakku membuatku lupa akan segalanya. Entah itu sms yang masuk ke inbox hp-ku, teriakan merdu radio tuaku atau pun rasa lapar yang menggerogoti perutku. Ku rebahkan sejenak tubuhku di kasur kamar kosku, menerawangi sejenak kenangan-kenangan bersamanya dulu, bersama kekasihku saat itu. Lumayanlah, untuk melepas sejenak penat yang menyelimuti tubuhku.
Aku merasa kosong,dan pikiranku melayang saat itu, November 2009,
dua bulan setelah jadian dengan dia. November identik dengan musim hujan, tapi geliat rintik-rintik hujan tak menyurutkan langkahku membawanya menikmati malam saat itu. Jam menunjukkan pukul 9 malam, hujan belum juga reda. Langit masih sombong dengan mendungnya. Aku dan dia terlalu lama menghabiskan waktu mencari tas kecil untuk dia. Menjelajahi kios demi kios di mall terkemuka di kotaku, hingga akhirnya ketemu, tas pink cantik dengan hiasan boneka puppy di setiap sisinya. Perut terasa lapar, setelah berjalan-jalan hampir 3 jam. Senyum jam menunjukkan pukul 20.45 WIB, mall sudah akan tutup. Kedai-kedai makan sudah mengemasi barang-barang mereka. Aku pun mengajak dia keluar mall, menikmati gerimis yang membuat malam semakin manis. Romantis, kata pujangga. Tak ada warung nasi yang buka saat itu, beberapa lain hanya menjual bakso dan soto. Dia tidak suka bakso, takut ada boraks katanya, dan juga tidak memilih soto, tidak suka makan taucho (bumbu campuran untuk soto), karena dia alergi dengan taucho.
Akhirnya, kami berjalan dan memilih kedai “Burjo”, sebuah kedai mie sederhana. “Ada menu apa saja mbak”?, tanyaku kepada penjualnya. “Cuma ada Indomie mas, kalau minuman ada es teh, es jeruk, teh hangat, coffemix dan lainnya , mas sama mbaknya mau pesan apa”?, tanyanya kepadaku. “kami pesan Indomie goreng dua mbak, sama telur juga ya, sama minumnya teh hangat dan coffemix”, jawab kekasihku. Dia memang paling mengerti aku, apa yang aku suka makan, apa yang aku suka minum, diat tahu. Sembari menunggu pesanan datang, kami bercanda, rintik-rintik hujan masih saja turun, walau tak sederas tadi. tak apalah, setidaknya malam ini jadi lebih romantis dengan adanya gerimis.
Mungkin, bagi kebanyakan orang, kami membuat mereka iri. Maklumlah, sepasang sejoli baru, semua terasa mesra. Aku melihat jam di hpku, 21:21 WIB. Angka yang unik, menurutku. “Aneh juga kenapa bisa kembar ya”?, tanyaku dalam hati. Tak lama berselang, pesanan pun datang. Indomie goreng dengan telur mata sapi, bawang goreng yang bertaburan menghiasi permukaannya, benar-benar terlihat lezat. Aromanya yang harum, menggoda hati untuk segera mencicipinya. Aku dan dia makan selayaknya sepasang sejoli yang sedang dimabuk asmara, saling menyuapi, mesra selayaknya pengantin yang sedang menikmati bulan madu mereka. Kelezatan indomie, dengan mie-nya yang kenyal, dan bumbunya yang sedap bercampur dengan balutan cinta dan kemesraan, membuat malam ini terasa indah. Aku menyebutnya : “21:21 special moment”. Sejak itu, kami sering menghabiskan malam minggu di kedai Indomie ini.
Lamunanku tentang masa itu terbuyar, teman sekamarku datang membuka pintu. Tampak basah kuyup dia, memang hari itu hujan turun deras sekali. Tekanan pada saat menyelesaikan deadline tadi sampai membuatku tak sadar kalau hujan tadi. “Huufft... sudah setahun lebih moment itu terjadi, dan sudah hampir setengah tahun aku tak bertemu dia, sedang apa dia di Jakarta sana..”?, tanyaku dalam hati. Hujan masih deras, perutku pun mulai meronta-meronta minta diiisi. Ingin beli nasi pun tak mungkin, mau masak nasi juga tak mungkin, beras sudah habis. “Jef, gimana kalau kita masak mie aja, aku masih punya persediaan di lemari, kan enak tuh dingin-dingin begini masak yang anget-anget”?, tanya temanku. “terserah kau sajalah, aku titip masakin ya, kepalaku agak pusing, aku mau rebahan bentar.”, jawabku.
Tak beberapa lama, terdengar suara hitter dicuci. Kami anak kos, memang menggunakan hitter atau biasa disebut “teko lisitrik” untuk memasak mie. Air pun dimasukkan ke hitter. Detik berganti detik, menit berganti menit, air pun mendidih, temanku memasukkan dua bungkus mie, aku tak tahu mie apa itu. Tak beberapa lama, semua pun telah siap. Bau sedap yang sangat ku kenal, tapi aku tak bisa menerka, apa itu. “Jef, udah mateng nih, gari mangan thok (tinggal makan doang).”, kata temanku. “yo kang (ya mas).”,jawabku. Aku pun segera bangun, dan.... astaga!! Bau yang sangat ku kenal itu ialah Indomie goreng. Ku lihat dua bungkus indomie terserak di lantai kamarku. “ Dasar temanku ini gak bisa rapi sedikit”, batinku. Aku ingin tertawa menerima ini semua, saat ku memikirkan dia di masa itu, special moment itu, kini... huufftt.. Tuhan kau memang luar biasa. Dalam hati, aku berdoa, “Tuhan, semoga dia ingat apa yang pernah dia alami bersamaku saat itu. Tuhan, sedang apakah dia disana?”. Uppss.. aku lupa, ada beberapa sms yang belum aku buka sejak tadi, ternyata dari teman sekampusku, menanyakan tentang deadline tugas tadi. Kulihat jam di hpku... 21:21 WIB. Astaga!!!
Semarang, April 2011
Jefri Mahendra Kisworo


0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.