Rumah sakit. Tahun ’90-an...
Ini adalah cerita ibuku yang menunggui aku. Di sepinya dunia saat itu, masa-masa aku tak mengenal siapapun kecuali sesosok wajah lembut ibuku, aku bertarung dengan nafasku. Aku tak melihat apa pun atau pun merasakan apa pun. Penerjemahanku mengenai hidup masihlah kosong. Ya, mungkin karena baru berapa hari aku melihat dunia, dan itu hanya sekelumit dari kotak-kotak yang nantinya akan terbuka. Kata ibuku, nafasku seperti garis-garis diskrit,, patah-patah. Memang itulah yang diharapkan, seluruh orang yang didalam ruangan itu, kata ibuku, berharap garis-garis patah-patah itu tetap ada. Kata ibuku, nafasku terlihat pendek dan berat. Seolah-olah oksigen dalam ruangan itu, terasa terbatas. Padahal, tiga orang lain, ibuku, ayahku, nenekku, tidaklah merasakan itu. Hanyalah aku, berjuang untuk hidup. Tapi aku,
tak pernah mengerti saat itu, apakah aku berjuang untuk hidup? Sedang aku, bernafas saja tidak tahu. Separuh nafasku di nirwana kehidupan, separuh lagi di taman sunyi kematian.
tak pernah mengerti saat itu, apakah aku berjuang untuk hidup? Sedang aku, bernafas saja tidak tahu. Separuh nafasku di nirwana kehidupan, separuh lagi di taman sunyi kematian.
Rumah sakit. Pukul 11 malam...
Nafasku terasa berat, dan pendek-pendek. Malam yang dingin tiada terasa dingin atau pun membosankan bagi ibuku. Baginya, inilah medan peperangan antara keputus asaan dengan secercah harapan. Dengan bersenjatakan do’a, ia berdiri tegar menghadapi semua. Matanya menatap alat pengukur kehidupan dan nafasku, detik demi detik, dia lewati pertempuaran dengan secercah harapan. Di do’anya, terucap: “Tuhan, mungkin ini hari terakhirku bisa melihatnya. Kalau Kau menghendaki dia berumur panjang, biarkanlah dia berumur panjang. Walau pun aku harus susah karena kenakalannya, aku rela, asalkan dia hidup. Namun, bila waktunya sedikit sekali, biarkanlah aku melihat nafas terakhirnya...”
Rumah sakit. Pukul 2 malam...
Tuhan adalah maha segalanya, dan do’a yang diucapkan ibuku itu, menjadi pedang penusuk keputus asaan, menjadi cahaya penghapus kegelapan. Tuhan telah memilihku untuk hidup. Kasih sayangnya, memelukku erat. Nafasku perlahan-lahan normal, jarakku dengan kematian semakin menjauh. Aku melihat cahaya lampu menerangi senyuman harapan ibuku. Tangisnya beubah menjadi tangis bahagia. Andai aku bisa berkata, ingin ku katakan: “tak usah sedih ibu.. aku pasti hidup, karena ku ingin melakukan sesuatu untuk segala do’amu..”.
“sesungguhnya, sesuatu perjuangan sudah dimulai, jauh sebelum kita dilahirkan. Membunuh atau terbunuh. Adalah sebuah hakikat yang sudah ditetapkan sejak dulu kala..”
Dan hidupku, terasa lurus. Do’a ibuku yang menukar kerelaannya dengan kenakalanku, belumlah terwujud. Tuhan, belumlah menagih janji atas do’a ibuku. Aku hidup sebagai manusia yang berfikir dengan logika. Ya, mungkin kenakalanku, adalah pengingkaran kepada sesuatu yang gaib. Kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta, kepada kesombongan untuk bisa melakukan segalanya.
Tuhan lebih mengetahui daripada aku. Dia-lah pemilik maha kepastian akan segala rencana. Akulah bagian kecil dari rencana-Nya.
Kota kecil di bumi Tuhan. Pertengahan 19-an...
Lagi-lagi aku bertarung dengan nafasku. Separuh nafasku melayang tak tentu arah. Separuh menuju kehidupan. Separuh lagi di sisi dingin kematian. Otakku, merasakan hawa kehidupan, meresapkn secercah keberanian, tapi pelukan dingin kematian,seolah-olah enggan membiarkan aku hidup. Rasa takut yang teramat sangat membatasi gerakku. Perasaan dingin dari arah belakang, ketakutan meninggalkan masa lalu, kebekuan dari arah kiri, jawaban-jawaban buruk dari segala yang ku tanyakan, dan jawaban dari ketidaktahuan atau prasangka saja, kabut tebal dari arah kanan, mataku tak bisa mengetahui apa yang ada dalam kabut itu, seolah-olah aku takut, dan dari arah depan, dimana secercah harapan bertempur hebat dengan keputus asaan. Ya, seperti sebuah de javu aku kembali harus bertemu dengan secercah harapan dan rasa putus asa. Dan ini bukan cerita ibuku lagi, dimana akulah yang memperjuangkan kehidupanku, dimana aku membuat do’a untuk mengalahkan setan yang ada dalam nafasku. Otakku mengatakan, “inilah hidupku, hidup itu sebuah pilihan, dan itu simpel , kita ambil keputusan dan jangan pernah menyesalinya. Jalani yang telah diputuskan, kelak syukur akan kau panjatkan kepada-Nya..”. Namun, hatiku mengatakan enggan. Perasaan buruk akan sebuah perkataan otak, menjadi sebuah pengingkaran yang tak semestinya ada.
Sekali lagi, Tuhan Maha segalanya. Di jurang kematian yang curam dan sunyi itu, dimana aku hanya sendiri, tanpa penjagaan setia ibuku, Tuhan menyelamatkan aku. Rasa pengingkaranku akan keberadaan-Nya runtuh, di kesombonganku, aku mengakui aku butuh Dia. Rasa sayang-Nya memelukku erat seperti dulu, ketika aku selamat dari cengkraman separuh nafas.
Aku melangkahkan kakiku, meninggalkan jurang kematian menuju taman langit kehidupan. Nafasku kembali normal, jiwa dan ragaku terasa hidup. Masa-masa kritisku telah lewat, rasa muak akan kehidupan, seperti kala ditinggal kekasih tercinta, rasa jijik menghirup nafas seperti kala kekasihku meninggalkanku, berubah seperti katak yang keluar dari tempurung. Dari kesempitan dan kebodohan yang telah kronis melekat. Dan itu semua telah berganti. Inilah sesungguhnya kehidupan. Aku melihat wajah-wajah menyambut kehidupanku. Wajah-wajah asing yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Aku seperti bayi yang baru lahir, saat kalian tertawa, akulah yang menangis.. tawa kalian adalah simphoni indah penyambutanku. Tangisanku adalah harapan kebahagiaan bagi kita semua.
Hari berganti hari, banyak hal yang tak ku mengerti terjawab. Garis tanganku, yang telah Dia gariskan, aku telah mengerti. Kini, aku sadar kenapa aku dipisahkan dari sang hawa, kenapa aku selalu menjaga jarakku dengannya, dan kenapa aku bisa selamat dari hawa dingin malaikat kematian. Terima kasih Tuhanku, Allah SWT.
(Thanks to : Allah SWT)



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.