Ketika susah, lebih aku bisa bertahan dalam ketiadaan. Namun, dalam perih tentangmu.
Aku merasakan sesak di dadaku.
Ku kira, itu (hanya) karena pengap udara kamarku.
Namun, sebanyak apapun oksigen ku hirup,
Sesak itu tiada hilang.
Seolah-olah itu jadi penyakitku kini.
Dalam cinta, ada benci.
Ku yakin, dalam duri-duri benci yang tumbuh itu, adalah bahasa kasar dari perasaan cinta.
Dan, aku pernah merasakannya.
Ketika hawa iblis dalam tubuhku perlahan-lahan keluar,
Aku memakan duri-duri benci itu.
Tenggorokan ini terasa perih, dadaku terasa sesak.
Dan, jiwaku hampa.
Otakku berfikir untuk membunuhmu.
Namun, duri-duri itu membunuh jiwa iblisku.
Ku lihat cahaya-Nya.
Ku dengar suara-Nya.
Dan, ku rasakan cinta-Nya.
Masa-masa koma telah aku lewati.
Aku telah melihat surga,
Dan aku telah menyaksikan neraka.
Hidupku, baru lagi.
Dan 19 itu menjadi nol.
Namun, sesak itu masih ada.
Di sela sibukku, oksigen yang ku hirup,
Meresapkan ke otak.
Membawaku mengingatmu.
Cinta ini telah menjadi milikmu.
Janji ini telah ku tambatkan padamu.
Batas waktuku, adalah suatu saat,
Ketika kita bertemu.
Dan, Dia katakan : “ Tidak”.
Itulah akhir.
Selama nafas masih berhembus.
Selama jantung masih berdetak.
Selama itulah aku mencoba.
Itulah awal.
Inilah kisah maha cinta.


0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.