Kau seperti kaca. Di keseharianku, yang tiap pagi selalu ku pandangi wajahku di depan kaca, betapa sempurnanya Sang Kuasa menciptakan diriku, yang utuh tiada kurang suatu apa pun, maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Ku melihat diriku sebagai sosok yang sempurna, selayaknya Dia yang menyebutkan manusia itu makhluk paling sempurna, dan kau
–tiadalah berbeda- yang elok selayaknya bunga mawar di sepiku, menjadi bagian dari tulang rusukku. Dari sebuah pertemuan yang kemudian menjadi alasanku untuk selalu melihat kaca, melihat wajahku, apakah aku pantas bersamamu? Dan kau dulu, selalu yakinkan aku, saat kau memintaku menjadi pendamping hidupmu, saat kau menangis kala kita akan dipisahkan. Saat kau mendukungku ketika aku dipojokkan.
–tiadalah berbeda- yang elok selayaknya bunga mawar di sepiku, menjadi bagian dari tulang rusukku. Dari sebuah pertemuan yang kemudian menjadi alasanku untuk selalu melihat kaca, melihat wajahku, apakah aku pantas bersamamu? Dan kau dulu, selalu yakinkan aku, saat kau memintaku menjadi pendamping hidupmu, saat kau menangis kala kita akan dipisahkan. Saat kau mendukungku ketika aku dipojokkan.
Kau seperti kaca, yang tiap hari rindu aku pandang. Menatap wajahmu, seperti aku menatap cerminan diriku, sebagai pantulan jawaban, pantaskah aku berdiri di sampingmu. Dan kau jawab: “pantas”, seperti kala kau dulu genggam tanganku, berjalan tanpa menghiraukan pandangan orang, karena dunia ini terasa milik kita berdua.
Kau seperti kaca, yang selalu aku bersihkan kala kau terasa buram. Kala jenuh dan sedih di wajahmu datang, pertanyaan pun mengambang, bisakah aku membahagiakanmu? Dan kau jawab: “bisa”, walau kita tiada bisa keliling dunia, senyum di wajahmu tetap mengembang.
Kau seperti kaca yng jernih dan bening, sehingga aku bisa bebas melihat cahaya, yang hapuskan murungku saat aku berfikir kejenuhan saat intrik datang, namun kau menjawab,”semangat”. Kau tetap tertawa diatas kejenuhanku, menumpuk rasa bosanku dengan senyummu, menghapuskan murungku dengan canda dan sifat manjamu.
Kau seperti kaca, yang tergantung manis di dinding hatiku.
Kau seperti kaca.
Namun kaca itu, yang selalu tergantung dalam dinding hati, perlahan-lahan goyah. Terlalu banyak gempa dan terlalu besar skala gempa yng menimpa. Hingga akhirnya kaca itu jatuh. Pecah. Canda tawamu, cintamu, sifat manjamu, senyummu, hancur. Aku tiada bisa menikmati lagi kilauan magis cinta dalam kaca. Kaca yang jatuh itu, pecah, menjadi beling-beling kaca yang kemudian terserak kemana-kemana. Aku yang gelap mata kalai itu, kesal, dan membuang baling-beling itu ke lautan. Ombak dilautan membawa beling-beling kaca itu ke penjuru dunia. Dan nyaris aku lupakan tentang kaca itu.
Kini, aku hidup tanpa kaca itu. Tak ada lagi cerminan diri, tak ada lagi kilauan cahaya yang membiaskan gelisahku. Hidup seperti hampa saat kita tak bisa bercermin, tak bisa melihat refleksi diri kita.
Namun, Tuhan maha tahu, dia mengembalikan beling-beling kaca itu sedikit demi sedikit kepadaku. Menamparkan ombak yang berisi beling kaca itu kepadaku, airnya masuk ke tenggorokan beserta beling kaca itu. Rasanya sesak di tenggorokan, dan oksigen terasa sedikti sekali. Dalam hatiku, ada luka yang terjadi karena goresan belin kaca itu. Rasanya sakit sekali. Sakit sekali. Hampir dalam setiap detik hidupku setelah itu, selalu menelan air laut yang bercampur beling-beling kaca.
Kau seperti kaca yang pecah, yang pecahan terbawa dalam setiap gadis mirip denganmu yang ku temui. Dan suasana saat bersamamu, sifatmu, manismu, menjadi pecahan kaca yang terbawa dalam gadis itu. Dan itu seperti beling kaca yang menggores hati. Rasanya sakit sekali. Kenangan masa lalu seolah menjdi luka yang terbuka lebar dan mengucur darah. Cinta ini seolah menjadi penyakit akut yang tiada bisa sembuh.
Kau seperti kaca.
Dan beling kaca itu menggoreskan hatiku.
Aku mencintai kaca itu.



1 komentar:
kacanya itu siapa jef?
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.