Minggu, 25 Desember 2011

Dia adalah Dekat

Prolog : Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.…”

Terkadang, kita selalu merasa sombong. Merasa kalau ketika ada masalah, kita tidak pernah bersyukur atas masalah tersebut. Kita tidak pernah merasakan pertolongan Tuhan kalaitu, padahal, bila kita telaah lebih dalam,kita bisa merasakan betapa sayangnya Tuhan kepada kita.

Sebuah kisah

ketika ayahku terkena stroke saat bulan Ramadhan 2011, aku merasakan down yang teramat sangat. Dimana keadaan masih berpacu dengan kuliah dan juga tugas lainnya. Keadaan rumah juga masih bereforia dengan baru menikahnya mbakku, tapi Dia memberikan ujian dengan jatuhnya ayahku terkena stroke. Aku tahu kalau ayah punya riwayat darah tinggi yang panjang, punya kecenderungan makanan yang tidak sehat, perokok, egoisme yang besar dan juga pemarah, namun aku tahu kalau beliau punya kekuatan tubuh yang kuat. Sakitnya Beliau terjadi di bulan ramadhan, tepat saat mbakku dan mas Lutfi pulang ke rumah untuk sekedar melepas rindu. Aku yang mendengar kabar sakitnya beliau kaget, waktu itu, aku dapat smsnya malam hari. Besok paginya aku langsung pulang ke Batang, padahal aku dalam menunggu kepastian akan ujian Geoan. 

Sesampainya di Batang, aku menuju ke ruang ICU RSUD Batang, wah, di ruang ICU, berarti gawat banget dong? Itulah yang ku pikirkan. Betapa tidak aku menjadi berfikir negatif kepada Dia, bagaimana tidak. Kami baru saja menyelenggarakan pesta pernikahan mbakku yang berarti sebelumnya menghabiskan banyak dana, lalu bagaimana tidak aku harus melobi dosenku untuk menunda ujian geoan, bagaimana tidak, mbakku dan ibuku harus meninggalkan pekerjaannya sementara buat menunggui bapakku, bagaimana tidak, aku harus menunda bahkan mungkin membatalkan untuk masuk bisnis Orion, dan bagaimana tidak, bila membayangkan bapak tidak bisa apa-apa lagi, semuanya menjadi bilangan-bilangan negatif yang berseliweran di kepalaku.
Ramadhan, 17. Sebuah ayat turun kepadaku : Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan,) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.…” (QS: Al-Baqarah 214). Pertolongan Allah amat dekat, ya itu kata yang terngiang benar dalam hatiku. Meski aku agak susah buat melaksanakan shalat saat itu, tapi aku percaya bahwa pertolongan Allah amat dekat. Dan, setidaknya 70% amanahku tercapai.

Ramadhan, 19. Surat-Nya menyejukkan hatiku, Dia berkata : Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,  sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”(QS :AlamNasyrah 5-6).
Dia meyakinkan aki, bahwa dalam satu kesulitan akan ada 2 kemudahan, dan pasti badai itu akan berlalu.
Aku membuka hatiku kepada-Mu ya Allah, sudah sepantasnya aku begitu. Terlalu muluk aku merasa sombong. Dan bila aku telaah lagi kejadian awal sakitnya bapak, betapa Dia telah menolongku. Andai saja ketika bapakku terkena stroke, ibuku, mbak peni dan mas lutfi tidak sedang di rumah, apa yang akan terjadi? Atau, kalau pun mereka di rumah, tapi andai saja ibu tidak bertanya kepada ayahku dan tidak menyadari jawabannku ayahku yang tak jelas, dan andai ibuku tak menghampiri ayahku yang waktu itu duduk tiada berdaya, apa yang akan terjadi?

Andai maswik tidak perasa, kalau di rumah sedang ada masalah besar, apa yang akan terjadi? Andai waktu itu tak ada becak yang bisa dipakai buat mengantar? Atau kalau pun ada, andai waktu mengantar ke RSUD ada kejadian yang tak diharapkan terjadi. Bagaimana nanti?

Atau kembali awal, bagaimana jika andai bapakku terkena stroke sebelum dia samapi di rumah dan sedang dalam perjalanan pulang sehabis beli iwak manuk?

Andai.. andai.. dan andai. Tapi semua pengandaian itu sirna, lihatlah betapa sayangnya Dia kepadaku, kepada keluargaku, kepada bapakku dan juga kepada kita semua. Lihatlah, betapa dekatnya Dia menolongku, menolong keluargaku, menolong bapakku, menolong kita semua, sampai kita sendiri tak terasa ketika ditolong-Nya. Sungguh maha segalanya Dia. 

Hari-hari di rumah sakit adalah hari-hari yang memuakkan. Kami seperti camping, banyak nyamuk, mirip juga dengan barak pengungsian. Tapi, bila ditelaah, betapa sayangnya Dia kepadaku. Aku diberinya hiburan disamping kesulitan. Betapa lucunya melihat nenek-nenek yang sepengungsian denganku, dengan santainya merokok yang disebutnya ngampret. Betapa pingin ketawanya, melihat pasien di sebelah ranjang bapakku, walau sakit komplikasi tiga macam, tetapi malah misuh-misuh ­tidak jelas. Walau dia ingat Yang di atas sana, tapi mulutnya tetep aja bau hewan.

Atau betapa lucunya, mendengar ibuku bercerita kalau teman sepengungsian kita, suaminya sakit, tetapi ketika nama asli suaminya dipanggil oleh petugas buat menemui keluarganya, sang istri malah bingung dan tidak menjawab panggilan petugas. Kenapa? Karena sang istri lupa nama asli sang suami. Jadi dia tak menyahut ketika nama suaminya dipanggil. Ada-ada saja.

Rumah sakit seperti kotak drama, dimana walau ada kesedihan namun juga ada kelucuan. Ada hikmah dibalik musibah. Di rumah sakit aku sadar, betapa drama kehidupan sangatlah singkat. Dimana hati miris melihat seorang ibu, menangis histeris melihat nafas anaknya yang baru berumur 3 bulan habis. Betapa sedihnya, sang istri yang lupa nama suaminya harus menhan pedih ketika sang suami mengakhiri perjuangannya dan menghadap Sang Kuasa. Semua adalah pemain kotak drama rumah sakit.

Hari berganti hari, tak terasa ramadhan hampir berakhir. Aku melewatkan hampir separuh bulan puasa ini di rumah sakit. Dan tensi ayahku perlahan-lahan turun walau belum terlalu stabil. Gerak tubuh ayahku pun masih belum terlalu kuat, terutama bagian tubuh sebalah kanan yang diserang. Tapi, kami memutuskan untuk menjalani rawat inap. Pertimbangannya, selain biaya, kami terutama bapakku sudah tidak betah di rumah sakit. Kami juga sudah menyiapkan pengobatan alternatif sebagai solusi. Kami tahu, obat dari dokter tidak terlalu efekti untuk mengobati bapakku. Maka dari itu, kami mengombinasikan obat dokter dan juga obat alternatif.

Hari-hari setelah keluar dari rumah sakit pun, bukanlah hari-hari yang mudah. Emosi dan ingatan bapakku yang belum stabil, terkadang membuat masalah di malam hari. Ada keputusasaan dalam diriku, apakah ini akan berakhir? Dan Dia memberiku jawaban : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung (Ali Imran : 200). Disaat aku habis kesabaran, Dia menyuruhku untuk terus bersabar dan menambah kesabaran. Kesabaran tanpa batas yang dia harpkan kepadaku.
Bulan berganti bulan, bapakku sedikit demi sedikit beranjak membaik. Kini beliau sudah bisa bekerja walau belum terlalu full. Dokter memvonis beliau tidak boleh makan sembarangan, tidak boleh merokok, tidak boleh berfikir terlalu berat dan marah-marah. Kini, beliau lebih menghargai akan kehidupannya, akan sangat berharganya keluarganya.

Dan sekarang, bagiku, aku bersyukur akan ujian ini, betapa aku bisa menyelesaikan amanahku walau hanya 70%, aku bisa membersihkan harta orang tuaku melalui zakat mereka yang dilewatkan padaku. Aku bisa lebih memahami betapa Allah maha tahu cara mendewasakan diriku.

Andai, peristiwa itu tak ada. Tak kan ada kehangatan kekeluargaan yang lebih baik dari ini. Tak ada matahari yang bersinar lebih hangat dari ini. Badai memang sedang akan berlalu. Matahari kini telah berganti. Kami berdiri tegak menghadapi badai ini. Karena kami yakin, sesudah kesulitan akan ada dua kemudahan.

Epilog : “kini, tiap kali melihat senyum di wajah bapakku, di wajah ibuku, di wajah mbakku, aku menyadari, betapa berharganya kebahagiaan bisa bersama mereka. Dalam senang atau pun susah, dalam dunia atau pun akhirat..”.Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.” (QS: Al-Baqarah 186)

0 komentar:

Posting Komentar

silakan beri komentar, kritik, atau saran.

Entri Populer

"Sabar dan Jalanin aja Jef.."

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...