Prolog : “saat pertama kau tanyakan kepadaku apa yang akan aku lihat tentang lingkaran yang ada di dalam kotak, aku jawab : ......”Aku masih mengingat jelas moment saat itu, saat dalam hatiku ada kebencian, ada kejenuhan, ada penyakit dalam hatiku. Namun, di bawah restu-Nya kau tak pernah menyerah memperjuangkan aku, padahal aku sendiri dalam keadaaan malas dan lemah dalam mencapai perjuanganku. Selalu dan selalu,
ada pertanyaan dalam hatiku, “sampai kapan ini akan terus bertahan”, atau, “kapan kita akan jaya?”, dan atau “kenapa kalian begitu antusias dan komitmen kepada apa yang kalian perjuangkan?”. Sebuah pertanyaan besar yang akan dijawab oleh waktu.
ada pertanyaan dalam hatiku, “sampai kapan ini akan terus bertahan”, atau, “kapan kita akan jaya?”, dan atau “kenapa kalian begitu antusias dan komitmen kepada apa yang kalian perjuangkan?”. Sebuah pertanyaan besar yang akan dijawab oleh waktu.
Dia selalu mengatakan bahwa aku bisa, bisa menjadi yang terbaik. Tuhan memberiku logika, yang kata dia adalah matematika tingkat rendah, yang semua orang bisa. Dan kata dia, aku cerdas, aku selalu bermain dengan otakku daripada dengan tenagaku. Kata dia, aku jago stratergi dan kata dia, aku telah melebihi matematika tingkat rendah. Semua katanya menjadi satu kalimat yang sangat kuat, “kamu pasti bisa jef...”.
Aku datang kepadamu. Dengan membawa penyakit hatiku, hatiku mengatakan untuk tidak menemuinya, namun nurani dan otakku mengatakan untuk menemuinya. Aku tak ingin jatuh lebih dalam lgi ke jurang neraka kebencian. Aku ingin sembuh.
Matahari datang ke bumi dengan sinar hangatnya, aku merasakan cahaya-Nya masuk ke dalam jiwaku. Cahaya yang membuatku kuat dan berani menemuinya, menerima kebenaran-Nya. Tak semua mansia berani menerima kebenaran. Di depanku, kau mengucapkan salam hangat yang selalu kau tujukan untukku tiap kita bertemu. Semangatmu, kasih sayangmu, memberikan suasana cerah yang menghapuskan mendung di hatiku. Kau menggambarkan sebuah kotak besar dan 5 buah lingkaran sembari berkata kepadaku :”jef, lihatlah gambar ini. Ada 5 lingkaran di dalam kotak, apa yang akan kamu lihat? Lingkarannya atau kotaknya...?”.
Aku pun menjawab dengan cepat, “aku memilih lingkaran.”. kau mengulanginya lagi, :”jef, lihatlah gambar ini. Ada 5 lingkaran di dalam kotak, apa yang akan kamu lihat? Lingkarannya atau kotaknya...?”. dan aku tetap kepada jawabanku,”lingkaran”.
Kau mengerutkan dahi dan menerangkan kepadaku :”jef, lingkaran ini ibarat kita. Dengan warna yang berbeda jelas aku, kau dan juga mereka itu semuanya berbeda. Sedangkan kota ini, adalah tali persatuan kita. Kita yang berbeda warna, disatukan oleh-Nya dalam satu kotak kan? Jika kamu hanya meilhat lingkarannya, kamu hanya akan melihat dirimu sendiri, kamu hanya akan memikirkan dirimu sendiri, kamu akan mengalami stress ketika lingkaran lain berbeda dengan kamu. Kamu akan stress melihat orang lain berbeda pendapat denganmu. Kau tidak akan bisa melihat betapa berharganya punya sebuah kotak yang bisa menampung lingkara itu. Kamu tidak akan bisa merasakan betapa bahagianya punya sebuah keluarga baru. Dan yang terburuk, suatu saat kamu pasti akan berfikir untuk pergi dan keluar dari kotak ini. Karena bagimu, kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Bagimu, tak ada tali persatuan yang mengikat kita. Itulah suatu kerugian yang sangat besar jika kau pergi.”
Lalu kau kembali menerangkan kepadaku lagi : “jika kau melihat kotaknya, kau akan tahu betapa berharganya suatu tali persatuan. Dimana kepentingan pribadi dikalahkan oleh kepentingan bersama. Kau akan tahu, betapa bahagianya punya sebuah keluarga. Kau akan bisa menerima perbedaaan setiap individu. Kita hidup secara sosial jef, setiap kita butuh orang lain, sebagaimanapun orang lain butuh kamu. Aku butuh kamu, dan kamu butuh aku. Bukankan tujuan kita sama? Bukankah kita ingin menang, bukankah kita ingin buat dunia ini harmoni? Bukankah itu pertanyaan yang selalu kau tanyakan padaku? Kitalah yang menentukan jef, tapi kau tak kan bisa sendiri, sebagaimanapun aku, tak kan bisa sendiri. Bersamalah kita bisa lebih kuat. Itulah kenapa aku ada di sini, dan itulah kenapa kamu ada di sini jef... pikirkanlah.... ku tahu kau pasti bisa.”
............
Aku tertegun mendengar kata-katanya, ada pelajaran besar saat itu, betapa keegoisanku runtuh oleh nasehatnya. Apakah benar aku terlalu memikirkan diri sendiri?
........
Epilog :“Saat kau kesal kepada seseorang, ingatlah tentang kota dan lingkaran. Betapa ruginya jika kita harus kehilangan lingkaran lain, hanya karena penyakit hati. Betapa sedihnya kehilangan lingkaran lain, entah karena lingkaran itu keluar atau karena kotak itu hancur. Betapa berharganya nyawa seorang manusia.”


0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.