Aku tahu dalam keseharianku, ada dirimu di janjiku.
Aku tahu dalam setiap perjalanan waktuku, ada akalku merasuki setiaku.
Dan ku tahu, egoisku menjadi batas yang selayaknya aku rubuhkan.
Kau, bukanlah bidadari.
Kau, bukanlah dewi,
Namun, di keseharianku dulu.
Kau selalu mencoba bersama.
Kala melihatmu tersenyum manja, kau ingatkanku.
Kepada dia, yang kini jauh di negeri sana.
Kala mengajarimu yang aku bisa,
Kau ingatkan aku,
Akan rangkaian momen yang mesra antara aku dan dia.
Dan kau lah, ingatan yang tertinggal.
Aku suka melihatmu tersenyum karena candaku,
Seperti pun dia kala dulu.
Aku suka berjalan bersamamu,
Seperti pun dirinya waktu itu.
Waktu pun yang berbicara lebih banyak kepada kita.
Egoisme pun berbuat lebih banyak daripada kita.
Ku ingin kau minta maaf dan mengakui kesalahanmu.
Berbicara secara langsung kepadaku,
Menatap langsung mataku.
Aku ingin kau yang memulai,
Bukan aku.
Karena kau yang salah.
Aku tersiksa akan penyakit dalam hati,
Aku terbelenggu akan jerat egoisme.
Otakku berkata, “ini harus berakhir”.
Dalam bahasa yang lain, aku tak ingin kehilanganmu.
Hari-hariku sepi tanpa ada canda tawa dalam perkumpulan kita.
Kau yang biasanya bersamaku menemui mereka,
Kini terlihat bodoh memikirkan kesalahanmu.
Atau kau tak merasakan salah?
Atau bahkan bagimu aku yang salah?
Katakanlah maaf dan akuilah salahmu secara langsung.
Tanpa ku paksa.
Dan tanpa terpaksa.
Seperti mereka-mereka yang salah padaku.
Katakanlah, kau kangen aku.
Katakanlah, kau butuh aku.
Hari berganti hari.
Masih saja sepi.



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.