“kematian, akan selalu dan pasti akan datang..”
Sebuah malam gelap menghampiriku saat itu. Saat-saat hati terasa sangat perih oleh luka yang menggores. Saat kebekuan akan keceriaan menghampiriku. Aku melihat semuanya, seperti garis-garis pendek yang seolah-olah nafas akan menjadi akhir. Itu saat, aku kehilangan cinta. Saat aku kehilangan seseorang yang pernah menjadi bagian dari kehidupanku.
Ku tahu, ada banyak cara untuk mati. Entah seperti tentara yang mati di medan perang? Entah seperti romeo yang mati di tragisnya kronologi cinta? Atau seperti penguasa-penguasa yang mati karena karena harta, karena tahta, atau juga karena wanita? Aku tak tahu, seperti apa aku akan mati. Namun, aku punya rancangan kematianku sendiri.
Ini ada, kala aku kehilangan cinta. Aku merasakan sesak teramat sangat di dada. Seolah-olah di sini tak ada udara? Atau sedikit udara. Tapi dimana ini?
Aku melihat kebiru-biruan dengan cahaya kuning orange di sisi sebelah sana, benda setengah lingkaran nampak akan tenggelam perlahan. Ku lihat pula, wajah-wajah orang terdahulu, ibu, ayah, mbak, nenek, kakek, dan seluruh orang-orang yang pernah ada dalam kehidupanku.
Aku pun mendengar suara gemericik air, seperti gumpalan air yang didorong angin. Ku dengar pula, suara lembut yang aku kenal, beriringan dengan nada amarah tinggi yang sangat aku kenal.
Aku juga merasakan, semakin lama, apa yang aku lihat, wajah ibu, ayah, mbak, dan mereka semua, perlahan-lahan hilang, seiring dengan suara lembut dan nada tinggi amarah itu. Sekarang, aku hanya melihat kebiruan yang menjadi gelap, dan.. suara deburan ombak yang keras. Nafasku terasa sesak. Air masuk ke dalam tubuhku, menghancurkan organ-organ di tubuhku.
Dan, semua itu menjadi begini…
Kematian, aka nada dan pasti ada. Aku membayangkan, aku ingin mati di laut biru. Di tempat yang katanya adalah asal muasal kehidupan. Di tempat yang dingin, tempat yang unik. Sebuah penguburan di bawah air.
Jika dulu, kala aku berfikir untuk tidak hidup lagi, aku berfikir untuk mati tenggelam di laut. Mengikat kedua tangan dan kakiku dengan batu, sehingga aku tak bisa bergerak. Lalu, menjatuhkan diri ke dasar laut. Aku akan melihat kenangan-kenangan kala aku hidup mengambang mengeringi ketenggelaman dan kepergianku. Sampai akhirnya aku jatuh ke dasar laut, kemudian tubuhku berdiri lurus dan tangan membuka, setinggi bahuku. Seolah-olah aku tersalib di bawah laut.
Namun, semua itu, tak terwujud. Aku masih hidup sampai sekarang, bahkan saat aku berfikir bahwa umurku hanya sampai 18 tahun, Tuhan masih memberiku ‘koma’ selam setahun.
Dan, setelah itu aku mengalami transisi. Sebuah kehidupan kedua.
Bagiku, secara garis besar, ada dua kematian di dunia ini. Kematian secara fisik dan juga kematian secara nonfisik. Kematian secara fisik, adalah saat kita tak bisa lagi membuka mata kita, saat nafas kita berhenti. Hampir tidak ada yang perlu ditanyakan tentang ini. Kedua, adalah kematian nonfisik. Adalah saat kita mengalami kehidupan yang kedua, saat kita sadar, bahwa masih ada hari esok setelah hari lalu. Bahwa, masih ada yang harus kita perjuangkan. Bukan hanya kita hidup dalam masa lalu, masih ada nafas untuk masa depan. Dan, kematianku yang pertama, adalah kala aku berusaha membebaskan dari bayangan cinta pertamaku. Sungguh, rasanya seperti candu. Sangat susah untuk benar-benar bersih dari bayangan masa lalu. Hingga, aku temukan cahaya, di garis lain, yang selama ini, aku tak pernah tahu.
Namun, kini ku mengalami degradasi tentang kehidupan kedua.
Aku merindukan kehidupan kedua yang pernah aku rasakan.
Kematian, memang akan ada dan selalu ada. Jika aku boleh meminta kepada Tuhan, tentang kematianku esok, aku ingin mati dalam sejahtera, aman dan damai dan di dekapan-Nya, di tengah birunya laut yang tenang, dengan cahaya matahari senja yang elok, deburan ombak yang tenang dan juga semilir angin sejuk yang menjadi aluran kenanganku saat hidup.
Amien.
……………………………………………………….
“Cinta terkadang membuat kita berfikir untuk mati saat dia menusukkan pedangnya, aku tak ingin merasakan kepedihan itu lagi…kini aku melihat cahaya di sebuah jalan baru. Bahwa kehidupan telah berubah, dan semua akan jadi lebih baik-baik saja”



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.