“Hal yang aku sesali ialah saat
aku bertemu denganmu, adalah saat aku terjatuh dalam jurang patah hati, saat
aku menginginkanmu, justru saat sudah ada tembok perbatasan yang memisahkan
kita… andai saja semua itu tak ada sebelumnya..”
Namanya Vani Febri Itsnani, biasanya
dipanggil Vani. Dalam bahasa yang agak alay,hehehe…. Biasanya aku sebut dia Phaney.
Aku kali pertama bertemu phaney ialah saat semester 3, tahun 2010, kala itu
kita secara tidak sengaja serombel dalam rombel ganungan mata kuliah Aljabar
Linear 2. Kesan pertama aku bertemu dengannya ialah, aku terkesima. Padahal
sudah tiga semester aku kuliah, namun aku baru pertama melihatnya kini. Dan,
aku tahu, suatu saat aku akan mengenalnya lebih dekat.
Phaney lahir pada tanggal 24 Februari
1991, hari minggu pon. Dengan ini, dia jelas berzodiak pisces, mungkin ini yang
membawaku bisa dekat dengannya. Phaney lahir di kota dingin yang bernama
Wonosobo, kota yang dulu pernah jadi impianku, karena tempatnya yang cenderung
dingin dan sederhana, khas pedesaan. Kota yang daerah perbatasannya pernah ku
kunjungi, hal ini pula yang mungkin membuatku dekat dengannya.
Di kota Wonosobo, dia tinggal di
dusun Brokoh, Rt: 03/01, kecamatan Pancurwening. Sejak lahir hingga SMA dia
selalu di Wonosobo, sekolah kali pertama di SD Pancurwening (1997-2003), lalu
SMP di SMP Negeri 1 Wonosobo (2003-2006) dan kemudian bersekolah di SMA Negeri
1 Wonosobo (2006-2009), hingga akhirnya melanjutkan di S1, Pendidikan
Matematika di Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Phaney anak kedua dari 4 bersaudara,
kakaknya bernama Neri, adik pertamanya cewek, namanya puput, sedangkan adiknya
yang kedua itu laki-laki. Ayah Phaney bernama Sabarun yang sehari-harinya
bekerja sebagai PNS Non guru, dan ibunya, Sri Eni Nur H, yang dalam
kesehariannya bekerja sebagai Guru TK.
Ada banyak hal yang Phaney suka, dia
suka maem nasi goreng, pernah aku dan dia makan nasi goreng di warungnya Bu
tun, ketika dulu habis dari bawah. Sepulang dari menghabiskan malam berdua.
Ada banyak hal yang aku suka dari
Phaney, ialah dia tak pernah memaksaku untuk melakukan hal terlalu berlebihan,
dia juga tak meledak-ledak ketika marah, caranya dia memperlakukanku, caranya
dia berusaha demi aku.
Namun, di antara hal yang ku sukai
itu, ku rasa dia juga belum tahu, aku butuh dirinya yang bisa memberikan
periimbangan buatku. Dimana tak melulu aku yang memegang kendali atas semua
rencana, dia juga tak selalu manja kepadaku, membuatku selalu berfikir, apakah
benar-benar ia membutuhkanku?
Dan, ku mengharapkanmu di sini,
ketika aku telah usai menulis ini. Walau ku tahu, itu mungkin tak terwujud.
……………….
“Ku ingin kau menjadi milikku, entah bagaimana caranya , lihatlah
mataku untuk memintamu..
Ku
ingin jalani bersamamu, coba dengan sepenuh hati..
Ku
ingin jujur apa adanya dari hati…”
…………
-241012-



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.