“sebuah sekuel dari Aku dan Sepak bola..”
Ku tatap wajah-wajah baru di
kelas pertamaku di SMA Negeri 1 Batang, kelas X6. Diantara wajah-wajah lama,
teman SMP-ku dulu, bertabur sekelompok wajah-wajah baru. Dan waktu menerangkan
kepadaku, bahwa tim ini adalah tim yang biasa untuk ukuran tim sepak bola. Ya,
kami semua hanya menjadi sekadar pelengkap dalam suatu kejuaraan seperti classmeeting. Di ajang ini, aku masih
ingat kala aku menjadi penjaga gawang, di barisan pemain ada nama Ainun Najih
Haedar, ada Hari Widiatmoko, Wisnu Adi Tri Anggoro (Babe) dan juga Denis
Fiermansyah. Yah, dengan tim berkemampuan biasa, kami tidak bisa berbuat
banyak. Hanay ada satu kebanggaan yaitu ketika membawa tim gabungan X6 dan X7
memenangi pertandingan taruhan melawan tim gabungan X1 dan X3.
Di kelas X ini pulalah aku mengikuti
ekskul sepak bola, dengan teman-teman baru, sayang, ekskul ini hanya main-main
menurutku, tanpa struktur yang jelas, dan organisasi yang kacau, ditambah
dengan pelatih yang tak jelas, ini menjadi ironis bagi SMA Negeri 1 Batang.
“Waktu
terus berlalu, akhirnya aku naik kelas ke XI IPA 4..”
Kelas yang terletak di pojok
sekolah ini secara akademik, memang mempunyai prestasi yang luar biasa. Kelas
ini diisi oleh anak-anak yang luar biasa secara kemampuan satu mata pelajaran,
juga merupakan kelas yang di dalamnya merupakan punggawa-punggawa dan para leaders dari ekskul yang diikutinya. Secara tim sepak
bola, kami punya pemain-pemain hebat macam A’at (Jannata), Joni (Mufti Yuditya
Marantika), Handis, Fahmi, dan juga Bayu Wijonarko. Namun sayangnya, lagi-lagi
tim ini tanpa piala apa pun di kejuaraan apa pun. Di tim ini pulalah, aku tak
lagi menempati posisi penjaga gawang, karena posisi ini telah menjadi milik
‘Baim’ Baskoro.
“hingga
masa-masa SMA tinggak menjadi satu waktu lagi tersisa, masa-masa terbaik sebagai
sebuah tim sepak bola..”
Kelas berikutnya adalah kelas
XII IPA 1. Kelas yang berisi pemain-pemain hebat yang beberapa diantaranya
adalah anggota tim futsal. Mereka adalah Gusman, Joni, dan Simba, dengan
dukungan pemain-pemain non futsal, semacam aku, Hemek, Aliph, Handis, Bendhol ,
Muhtamar dan banyak pemain lain. Namun, momen terbaik di kelas ini adalah saat classmeeting, saat kami tergabung dalam
tim futsal, dengan kiper utama dipegang handis, dan di depannya berdiri Bendho,
dan dengan trio penyerang anggota tim futsal, Gusman, Joni dan Simba. Aku? Aku
tersingkir dari tim utama. Ini kali pertama sejak SD aku masuk tim cadangan di
kelasku sendiri. Pertandingan pertama, berlangsung mudah, karena hanya melawan
tim kelas X. Pertandingan kedua juga melawan tim kelas X dan ini pertandingan
yang paling mendebarkan, sempat tertinggal 3-0, dan pertandingan terasa
berantakan bagi tim kami, aku yang masuk menggantikan Gusman, berhasil membawa
perubahan, dengan memaksa pemain lawan melakukan gol bunuh diri, hingga
akhirnya pertandingan berakhir 4-3 melalui gol pamungkas dari Joni.
Pertandingan selanjutnya adalah semifina melawan kelas XII IPS 2. Kelas yang
didukung oleh Yudha ini adalah tim alot. Pertandingan yang hampir berakhir
dengan drama adu pinalti itu akhirnya berakhir dengan gol pamungkas Yudha.
“Dan
akhirnya, impian untuk menjuarai juara 1 pupus..”
Karena gagal lolos ke final, akhirnya hanya
perebutan gelar ketiga yang menjadi prioritas kami. Dengan motivasi yang tak
terlalu tinggi, kami turun minus simba, yang ikut seleksi POPDA, dan gusman
yang dicadangkan. Jadi handis, dikawal oleh aku, bndhol, muhtamar dan
dikomandoi oleh Joni. Namun pertandingan yang mempertemukan adik kelas dan
kakak kelas ini berakhir dengan kemenangan mudah untuk XII IPA 1. Kelas XI IPA
1 yang dikomandoi oleh adiknya bendhol pun harus mengakui keunggulan kelas
kakaknya.. J
....................
“Dan
itu menjadi kenangan dari sejuta kenangan di SMA.. dimana roda pasti akan
berputar, dimana masa kejayaan akan menjadi penurunan stastus untuk peningkatan
motivasi.. bahwa tak selamanya aku menjadi pemain utama dalam tim kelasku...”
............
Áku
rindu masa-masa itu.



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.