Minggu, 19 Mei 2013

Cerita Manis di KKN Margorejo 2012


Prolog : “Disadari atau tidak, ada dua hal yang bisa menyatukan jiwa pada diri tiap manusia.. yang pertama, adalah kesenangan dan yang kedua adalah kesusahan..:”

Ini adalah sebuah cerita kecil yang menyiratkan ribuan kenangan saat KKN UNNES 2012.

Cerita ini bermula setelah PPL usai, kami, mahasiswa yang mengambil mata kuliah KKN, harus segera bersiap-siap menghadapi KKN, setelah hanya libur seminggu dari PPL. Tak terkecuali juga aku, seminggu itu ku rasa terlalu pendek, saat ku lihat daftar nama teman satu posko ku, ku Cuma bisa berguman, “hmmm.. cowoknya Cuma dua orang, siap-siap jadi komting nih..” saat ku lihat tempat KKNnya dip eta google, “hmm.. Margorejo, lumayanlah dekat laut, mirip di daerahku..”.

Sebelumnya kenalan dulu dengan tim KKN desa Margorejo 2012, ialah mereka :

Jefri Mahendra Kisworo-Komardes
(Pend. Matematika)

Ikhlas Fian Neziana- Wakil Komardes
(Pend. Teknik Bangunan)
Nur Ida Farida- Sekretaris
(Pend. BK)
Qurrotul Aini- Sekretaris
(PGSD)

Riya Windahayani- Bendahara
(Pend. Bahasa Jawa)

Eni Ernawati- Bendahara
(Pend. Bahasa Perancis)
Desiana Devita Putri
(Pend. Teknik Tata Busana)

Tri Juniarum
(Pend. Geografi)
Noviana Ita Saputri
(PJPGSD)

Faristin Amala
(Pend. Akuntansi)
Ada keraguan sebenarnya di hatiku, apakah aku mampu untuk cepat beradaptasi dengan teman-teman KKN? Ku tahu, kelemahanku yang pertama sebelum terjun, adalah aku anti social dan lambat beradaptasi. Kami mengawali cerita dengan pertemuan pertama adalah di gazebo perpustakaan. Adalah riya yang mempunyai inisiatif atas ini,dengan menghubungi nomer hape seluruh teman-teman KKN, kami dikumpulkan. Sayang, waktu itu banyak yang belum bisa, jadi hanya ada aku, riya, mas fian, dan arum. Singkatnya, kami hanya perkenalan sebentar, sambil membahas siapa yang akan mengambil jaket. Berhubung aku lama tertahan di semarang, maka aku memutuskan untuk mengemban tugas ini.

Langkah pertama yang aku lakukan adalah mengumpulkan fotocopy ktm, Karena berdasarkan informasi yang aku dapat, untuk mengambil jaket, harus mengumpulkan fotocopy seluruh anggotanya. Walau pun pada kenyataannya, itu salah! Ternyata yang dikumpulkan hanya 1 saja itu pun sebagai perwakilan.

Dan di sini aku melihat ketidakberesan dalam sistem KKN…

Akhirnya masalah jaket pun clear, langkah berikutnya aku kumpulkan teman-teman untuk membagikan jaket, buku dan juga cocard. Agar terkesan lebih wah, aku ajak mereka ke Maspur, sialnya, yang datang belum bisa full. Akhirnya aku Cuma bisa membagikan jaket, buku dan cocard. Sembari menikmati makanan dan curhat sedikit tentang apa yang harus kita lakukan pas KKN nanti..

Tanpa sadar, aku terpilih menjadi komardes…

Suasana Desa Margorejo di Pagi Hari
Pembekalan pun dimulai, ada ratusan mahasiswa terkumpul di dalam auditorium ini. Tidak ada yang luar biasa di pertemuan ini. Yang ada adalah mas fian datangnya telat, dan aku harus menghadapi Dosen Pembimbing lapangan(DPL) yang cerewat. Kami disuruh tanda tangan kertas yang isinya adalah rincian dana, karena disuruh cepat-cepat hampir tak sempat kami untuk memeriksa isinya.. agak aneh memang… ada kalimat menyalahkan dari DPL buatku saat itu. Dan mulai hari inilah, aku mengemban tugas sebagai komardes desa Margorejo.



Keanehan pun semakin berlanjut..
“kami, diharuskan untuk membayar biaya hidup sebesar Rp. 22.500/hari. Padahal, kami sudah membayar sebesar lima ratus ribu untuk pendaftaran KKN, kemanakah uang itu?”

28 Oktober 2012, sore itu kami diharuskan mengikuti upacara penerjunan KKN UNNES di depan lapangan gedung H, hampir-hampir aku merasa ini hanya sebuah formalitas pertanggunganjawab satgas kepada rector UNNES, hampir-hampir pula aku merasa kasihan kepada rector UNNES, karena hampir tidak didengarkan saat berpidato..
Sungguh kasihan…

Acara Perkenalan dengan warga Desa Margorejo
Akhirnya hari itu datang juga, 29 Oktober 2012. Kami satu tim posko KKN UNNES daerah kecamatan Cepiring bertolak ke Kendal. Ada yang berangkat naik mobil ada juga yang naik motor sendiri. Di tim kami ada 3 motor, aku dan Ita, mas fian dan desi, riya dengan ama. Sedangkan sisanya naik mobil sambil menjaga barang-barang. Jika ku lihat, sebenarnya ini pelayanan yang menguras keringat mahasiswa. Di sini aku diberi amplop berisi 100 ribu  untuk transport, tadinya DPL bilang padaku kalau itu uang mahasiswa yang mengelola, sampai akhirnya diralat, kalau itu uang, diserahkan ke Lurah agar dikelola untuk transport. Tanpa belajar pun aku tahu, kalau DPL ku itu juga belum paham akan tugasnya sendiri.


Pembacaan ProgJa KKN

Kami sampai di Kendal, di kantor kecamatan cepiring, sekitar pukul 10 siang. Kami masih harus mengikuti upacara penerimaan . upacara yang cukup lama, aku dikenalkan oleh dosenku ke Lurah Margorejo, Pak Mohammad Asrori namanya, saya diminta oleh DPLku untuk meminta nomor hapenya, setelah ku minta, ku minta izin untuk ke belakang sebentar, eh, pas kembali, beliau sudah tak ada. Otomatis, kami, seperti kehilangan induk semang, dan ternyata beliau sudah pulang duluan dengan mengajak mas fian dan desi. Astaga.. kami ditinggal begitu saja!! Mana aku tak tahu jalannya, dan juga barang-barangnya, gimana membawanya nih?? 

Akhirnya kami berinisiatif untuk mencari angkot agar bisa membawa barang-barang kami ke posko, keberuntungan datang, kami bisa nebeng ikut ke margorejo bersama dengan rombongan tim Korowelanganyar. Perjalanan dari kantor kecamatan hingga desa Korowelanganyar ternyata jauh juga, ada sekitar 8 km. ketika sampai di posko Korowelanganyar, aku sempat berguman dalam hati, “busyet.. Margorejo desa terakhir pasti lebih jauh dari sini..” dan mobil pun berjalan.. 3 menit kemudian mobil berhenti, ku kira mau beli bensin atau apa, ternyata… kami sudah sampai di depan posko. Di rumah pak Lurah. Ternyata posko KKN kami sangat dekat dengan posko KKN Korowelanganyar..hahahaha….

Kami disambut dengan cukup baik di sini, menu makan siang kali pertama saat itu ialah daging sapi yang digulai, maklum masih suasana lebaran idhul adha. Baru saja aku menikmati makananku, Pak Lurah sudah memanggilku untuk mengikuti rapat di desa Damar sari, rapat mengenai biaya hidup selama KKN. Boleh dibilang kami satu tim mengharapkan agar biaya hidup dikurangi, bagaimanapun angka 22.500 terlalu mahal buat kami. Namun, apa yang dibicarakan saat rapat itu bukanlah pengurangan biaya hidup, namun system pembayarannya. Selain membahas system pembayaran yang dilakukan 3x itu, kami, para komardes juga diberitahu tentang ketidakberesan DPL kami dalam menjalankan tugas. Ini diperburuk dengan telpon dari DPL-ku untuk segera membayar uang biaya hidup, padahal kami belum tahu apa-apa dan juga baru saja sampai di posko.

Suasana posko tampak lengang, teman-teman belum terbiasa satu sama lain. Kami diberi dua kamar, bila membagi berdasarkan gender, tentunya satu kamar akan diisi oleh 8 cewek dan satunya lagi 2 cowok. Berhubung terasanya tidak adil, maka akhirnya kami pun menyepakati untuk dibuat lima-lima. Jadi lima cewek di kamar timur, sedangkan 2 cowok dan 3 cewek di kamar barat. Mungkin, hanya di posko kami yang cewek dan cowok tidur dalam satu kamar.

Ruang pemisah kamar 1 dan 2
Malamnya, kami langsung mengadakan rapat, tentang apa yang harus dilakukan pada esok pagi selama seminggu. Ya, kami punya seminggu untuk observasi, 27 hari efektif untuk kegiatan, dan sisanya adalah penyusunan laporan. Jujur, aku pun masih bingung tentang kegiatan kami besok.

Esok harinya, aku dan mas fian disibukkan dengan kegiatan pembuatan plang menuju posko kami. Karena jalan menuju posko kami ternyata juga searah dengan posko-posko lain kami akhirnya memutuskan untuk melakukan merger  plang. Yaitu Cuma membuat satu plang yang kemudian dipisah-pisah ketika akan mendekati posko. Harapannya sih, agar lebih mudah dan lebih murah,hehehehe… psoko-posko yang terlibat antara lain posko kami, Margorejo, lalu ada Kaliayu, Korowelangkulon dan tetangga kami,  Korowelanganyar. Pembuatan plang ini memakan waktu sampai malam hari, akhirnya aku dan mas fian pulang pas akan adzan isya’. Malam harinya, teman-teman mengadakan rapat, tanpa aku ikut. Ya, kepalaku terasa sakit, dan juga aku tidak mood untuk membahas program.

Suasana Kamar 2

Suasana kamar 1

Kandang Sebelum kamar

Pintu masuk ke kamar 1 dan 2

Belakang kamar

Dapur

Kamar mandi

Ruang berkumpul
Hari demi hari berlanjut, kegiatan observasi mulai dilakukan. Disaat teman-teman lain sedang disibukkan dengan kegiatan observasi, aku justru dipusingkan dengan agenda rapat kecamatan, pembuatan plang dan program, masalah uang biaya hidup, adaptasi dengan lingkungan, serta persiapan Rakorcam 1. Jika dibayangkan, semua itu membuatku tidak betah di sini, ditambah lagi dengan amanahku sebagai komardes, semakin membuatku drop. Dalam bayanganku, seorang ketua itu harus bisa segalanya, sedangkan aku? Sempat ada pikiran untuk mengundurkan diri sebagai komardes, namun melihat semangat juang teman-temanku, aku merasa malu jika harus menyerah sekarang. Bagaimana pun aku dipilih oleh mereka, dan juga berjuang bersama dan demi mereka.

Disadari atau tidak, ada dua hal yang bisa menyatukan jiwa pada diri tiap manusia.. yang pertama, adalah kesenangan dan yang kedua adalah kesusahan..: dan benar, kami mulai disatukan melalui kesusahan itu. Saat ada kabar kalau DPL akan melakukan kunjungan kami mulai bekerja keras untuk menyiapkan plang dan papan nama posko. Kami bekerja hingga malam hari, menggunting, memilok, mengecat, hingga akhirnya nama plang dan papan nama posko pun selesai. Begitu selesai, kami baru sadar kalau ternyata, nama desa pada papan nama posko salah, harusnya Margorejo, malah ditulisnya Margoejo,hehehe.. luar biasa, dari yang mengeprint kertas, yang melubangi, yang menonton, hingga yang mengecat tidak ada yang menyadarinya,hehehe…

6 November 2012, disinilah awal dari pembebasanku dari belenggu beban bathin. Saat rakorcam penyampaian program, aku sempat mengalami nervous  saat menuju ke kantor kecamatan. Kami, para komardes diharuskan menyampaikan program kerja yang akan dijalankan saat KKN ini, hati semua komardes pastinya dag dig dug, ketegangan juga dialami olehku, apri dan Nugroho. Kami bahkan sampai tidak nafsu makan gara-gara menunggu giliran untuk maju. Keberuntungan datang, setelah presentasi dihentikan gara-gara terlalu menghabiskan waktu, kami pun bernafas lega. Jajan yang sebelumnya tidak dimakan, akhirnya bisa dimakan dengan lega,hahha..

Dan inilah awal dari cerita manis, berjudul : KKN Margorejo

Penanaman Pohon Bakau
Rasanya semua beban hilang setelah Rakorcam 1. Aku mulai bisa mengikhlaskan biaya hidup , mengikhlaskan amanahku sebagai komardes, dan, walau masih agak anti social, ku mulai suka suasana di desa ini. Sumber dari kekuatan kami adalah anak-anak, itu tercermin dari kegiatan pertama kami dulu sebelum Rakorcam, 4 November 2012, kami satu tim mengajan anak-anak kecil di desa ini bermain di laut jomblom. Tujuan utamanya adalah penanaman pohon, ya, kami perlu dokumentasi penanaman pohon, dan anak-anak inilah tokoh utamanya.. sehabis menanam pohon dan membersihkan pantai, kami bermain di pesisir pantai, walau kegiatan ini juga diwarnai cederanya Desi, namun aku melihat kesetiakawanan dari tim kami…
Itulah yang telah lama ku rindukan..

Bersenang-senang di pantai jomblom

Anak-anak kecil pulalah yang pertama kali kami kenal, ketika pertama datang ke sini, malamnya kami sudah harus diminta untuk mengajari anak-anak, aku melihat antusias luar biasa dari anak-anak ini. Namun sayang, kami belum bisa terjun saat itu karena harus merapatkan program.

Anak-anak pulalah yang membuatku dan mas fian berkeringat, ya, kami bermain bola di pematang sawah belakang posko. Walau kaki terasa sakit karena berulang kali kejeglong , namun, inilah suasana yang aku rindukan….

Masalah berikutnya yang harus kami hadapi adalah kami belum dikenal oleh warga sekitar, terutama oleh perangkat desa. Ya, walau sudah seminggu, namun kami belum melakukan perkenalan karena terkendala beberapa hal. Akhirnya seminggu setelah rapat tani, kami punya kesempatan untuk membuat acara perkenalan KKN. Berbagai persiapan sudah dilakukan, dari penyebaran undangan, konsumsi, tempat, dan persiapan lain. Hingga akhirnya sudah selesai semua, jam setengah 9, kami sudah siap, tinggal menunggu para tamu undangan datang, kami menunggu di depan. Satu menit berlalu, 5 menit, 10 menit.. belum juga ada yang datang. Sepi. Di sinilah muncul awal jargon candaan kami, “tiga jam kemudian….” , “ngeekk”. Akhirnya tamu-tamu pun datang pada pukul setengah 10. Inilah susahnya di desa, terkadang warganya susah datang jika bukan acara yang berhubungan dengan pembagian bantuan. Kegiatan ini pun berakhir dengan baik tanpa ada kendala yang berarti.

Ada dua hal yang bisa menyatukan hati tiap manusia, pertama adalah rasa senang, dan yang kedua adalah rasa susah...

Kagiatan Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja
 Jujur, jika dibandingkan dengan posko KKN lain, ku rasa Poskoku benar-benar disebut KKN. Dari tempatnya yang terpelosok dan terpjok, sinyal yang jarang untuk operator selain XL, kamar yang berdekatan dengan kandang ayam, dan masih berlantai tanah, suara-suara jangkrik, dan juga serangan nyamuk di malam hari, semua menjadi bumbu-bumbu yang menyatukan kami sebagai bahan mentahnya...
Kegiatan kami selanjutnya adalah pembentukan POSDAYA, kami kebingungan sampai harus berkunjung ke tempat pak Nganoto, guru SD di SD Margorejo. Oh ya, di sini hanya ada satu SD. Akhirnya di gambarlah sebuah gambaran abstrak POSDAYA yang diberi nama “Margo Jaya”. Program-program kami lumayan banyak, ada Bimbingan belajar, Penanaman Pohon, pembuatan Tong sampah, Pembuatan Plang Gang dan Plang larangan buang sampah sembarangan, ada juga mengajar ngaji, pelatihan senam, pelatihan payet jilbab, dan membantu mengajar di sekolah.


Para remaja peserta penyuluhan
Aku memegang bimbel, karena memang kayaknya ini yang paling mudah,hehehe... selain juga menemani anak untuk ikut POPDA Catur bersama Desi. Di timku aku bergabung dengan Aini, ini yang menjadikan aku sering digosipkan dengan Aini. Mas fian menjadi tulang punggung di tim Plang, bersama dengan Riya dan aku, sedang di tim pelatihan senam untuk Ibu PKK dan anak-anak SD menjadi milik Ita, Eni dan seluruh cewek.

Beberapa kegiatan yang berkesan adalah ketika kami mengadakan penyuluhan kesehatan reproduksi. Ya, di desa kami ada sedikit kasus yang berhubungan dengan itu, dengan dikomandoi oleh sang ketua panitia, Ita, kegiatan yang berlangsung dengan canda tawa khas dewasa itu berakhir dengan manis walau pun harus agak mundur. Ada juga kegiatan saat kami menajdi tentor bimbel, yang lama-lama jadi agak merepotkan. 


kami dan ibu-ibu
Harus diakui, antusias anak-anak di sini luar biasa, hampir tiap malam mereka datang ke posko KKN, walau pun malam itu tidak ada kegiatan bimbel, yang kadang memaksa aku dan Aini buat turun tangan juga. Atau juga ketika kami memasang tong sampah organik dan anorganik di SD dan di kelurahan, mengambil waktu yang tepat, kami berencana untuk membiasakan kebersihan di desa ini.  seperti pula pemasangan plang buang sampah, yang tertunda lama-lama gara-gara kemalasan aku dan mas fian, dan juga pemasangan plang gang, yang ternyata salah dengan namanya,hehehe...
Namun, tak hanya cerita tentang kegiatan program, ada juga saat kami jalan-jalan ke Kendal kota setelah beberapa harinya mengerjai Ita di hari ulang tahunnya, yang apesnya juga hujan pas itu, atau saat semua pulang hampir 4 hari lamanya, dan tinggal aku dan Arum yang di posko berdua, akhirnya aku bermain dengan temanku ke panati jomblom, tanpa Arum karena tak mau diajak. Seperti pula saat mas fian menghilang di hari jum’at, dan aku hari sabtu berlayar, padahal di sabtunya ada kegiatan lomba untuk perpisahan.
.........................
Gokil Di Posko
Kemesraan sejenis

Persiapan ULTAH Ita

Saat ngerjain ita

waseemmm

yang tua yang berkarya

Kingkongku penyelamatku


......................
Jalan-Jalan Ke Tirta Arum

"Berawal dari Idenya bos ita.."


makan bakso di kendal kota







.........................
Sungguh, semua itu menjadi cerita yang tak bisa secara panjang untuk diceritakan.
Hari –hari di posko pun menjadi indah dengan mereka, dengan anak-anak yang hampir tiap sore mengajak bermain bola, mengajak bermain boy-boynan, dengan senam-senam bersama, mengecat tong sampah, mengecat plang, bersendau gurau dengan teman-teman, dengan kipas angin yang ekstrim, dengan gandapura yang mampu membakar casing hape, dengan desi yang kadang lola, dengan mas fian yang gokil, dengan ita yang keras, dengan arum yang aneh, serta semuanya...

....................
Lomba perpisahan, malam terakhir, perpisahan dengan warga, sosialisasi sampah dan sebagainya...


Sosialisasi sampah Organik dan Anorganik



Lomba untuk perpisahan





Penyerahan kenang-kenangan

Malam terakhir dengan anak-anak




.......................................
Hingga akhirnya semua akan dan harus berlalu, jaket hitam hijau harus dilepas, suara-suara anak yang memanggil kami KKN, akan menjadi simphoni yang perlahan hilang, ya, kami akan menghadapi perpisahan, setelah hampir 45 hari di sini. Diawali dengan penyampaian hasil kerja di kecamatan, kemudian lomba perpisahan dengan anak-anak, malam perpisahan dengan anak-anak, perpisahan dengan kecamatan melalui demo expo, perpisahan dengan warga desa Margorejo, dan...

Cerita di malam terakhir Tim KKN Margorejo.

“Malam itu, dengan iringan musik peterpan, semua tentang kita, kami berkumpul di kamar cewek, dengan bergandengan tangan melingkar, kami bercerita satu persatu, tentang kesan, dan pesan kami selama ini.. tentang aku yang berusaha menutupi kesedihanku dengan lawakan hambar, tentang ita, yang emosional dan menahan tangis, tentang Eni yang pendiem tapi memiliki hati yang dalam, tentang arum, yang ternyata tetap aneh di malam terakhir, tentang ida yang ternyata memendam kekesalan kepadaku, tentang Riya yang secara dewasa mengutarakan semuanya, tentang desi yang menahan sedih, tentang Aini, yang idem juga,  tentang amala, yang meminta kejelasan di malam terakhir, dan tentang mas fian, yang dibalik gokilnya, tersirat kedewasaan yang besar. Hanya aku sulit mengatakan ini secara jelas, Aku bangga punya kalian, punya teman seperti kalian, individu-individu luar biasa yang mampu menjadi tim solid yang bisa menutupi kekuranganku sebagai pemimpin, tak hanya permintaan maaf dan terima kasih yang bisa membalas kebaikan kalian, semoga kita tetap bisa bersama dalam waktu yang berbeda. Amien.
Dan malam itu, hampir semuanya menahan tangis dan sedih di tengah kantuk yang melanda.
............................
Sebuah Video untuk malam terakhir





.........................

Dan, akhirnya masa-masa ini kan berakhir besok.
Esoknya, ku lihat air mata mengalir di wajah teman-teman, bapak ibu Margorejo, mengiringi penarikan kami dari desa untuk kembali ke Universitas. Selamat jalan semuanya, sukses untuk di masa depan kita....
......................
Kini, saat aku telah kembali ke kamar kosku, tersemat kerinduan akan bantal keras di kamar KKN, nyamuk-nyamuk yang menyerang di malam hari, King kong yang menjadi obat anti nyamuk, gandapura, kipas angin, suara kokok ayam dan jangrik di malam hari, air mandi yang lengket, serta semua senyuman bahagia teman-teman KKNku dan seluruh warga Margorejo.
Andai bisa ku ulang lagi, atau setidanknya menjadi mimpi indah di saaat aku tidur nanti...
...........................
KKN UNNES DESA MARGOREJO, 29 Oktober- 12 Desember 2012. J

Entri Populer

"Sabar dan Jalanin aja Jef.."

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...