Rabu, 24 Juli 2013

Hujan

Hujan turun, menemani kehampaan yang aku rasakan di keramaian kota ini. ku terendap langkah di kekosongan, tanpa tahu harus kemana? tanpa mengerti, harus melakukan apa. seolah semua yang terjadi di sini, tak ada awal dan tak ada akhir. ini semua karena engkau. cerita-cerita tentang kita, amat selalu ku nantikan lagi hadir di kesepianku kini. sayang, kita terbelenggu dalam amarah yang teramat sangar menyiksa, dikekang ego yang amat menyakitkan hati, jarak yang terbentang antara kita saat ini, tak lah jauh. hanya berselang lima -tujuh menit, antara kau dan aku. namun itu, seolah menjadi ratusan kilometer kini. seakan-akan kau amat jauh kini. seakan-akan kau kau tak memikirkan aku lagi.

Hujan turun, menemani ceritaku denganmu. seperti saat kita berkejar hujan di bawah sana, di sungai sana. saat kita berpacu dengan tetesan air yang jatuh kala mengajar di bawah sana. tak biasanya kini hujan, seolah-olah itu menjadi air mata yang tak bisa kita keluarkan kala menahan pedih perih yang datang, kala merasakan sepi yang amat sangat menyiksa. ku ingin kau tahu, ku sangat menginginkanmu ada di sampingku di sini. mendengarkan pintaku lirih,

Hujan turun, ketika aku mengucapkan lirih pintaku. kau tak mendengarnya. kita telah melalui semuanya bersama selama ini. membuat menu berbuka puasa bersama, membuat tugas bersama, bermain bulu tangkis bersama, dan semua memang pintaku. memang semua aku yang meminta. namun aku ingin kau tahu, pinta yang aku ingin kau tahu, meski aku tak mengucapkannya...

"aku ingin kau membuatkan aku nasi dengan telur mata sapi dengan taburan cabai hijau di atasnya, tanpa aku harus memintamu untuk memasaknya.."
"Aku ingin kau menuangkan segelas susu hangat, tanpa aku harus memintanya.."
"Aku ingin kau mengajakku membuat acara, pergi ke suatu tempat, dengan atau tanpa uang, tanpa aku harus mengatakan bahwa aku merasa bosan dengan rutinitas yang kita jalani.."
"Aku ingin kau mengerti, bahwa aku tak suka melihatmu mengikuti amarahku, di saat seharusnya kau menjadi hujan yang meredakan api yang membara di hatiku.."
"Aku ingin kau mengerti, bahwa aku tak suka melihatmu sebal, dengan segalanya, sehingga membuat kita tak bisa melakukan rencana yang seharusnya kita lakukan.."
"Aku ingin kau mengerti, ku ingin kau menjadi penopang kekuatan, di kala aku lelah, lemah, dan bimbang dalam mengambil keputusan.."
“dan, aku ingin kau mengerti, sebelum engkau membaca yang aku goreskan ini untukmu..”


Hujan masih belum reda, sunyi sepi antara kita berdua pun masih ada. entah sampai kapan, jarak yang bertempuh lima tujuh - menit itu menjadi ratusan kilometer. aku merindukanmu. ku berharap, ada matahari pada saat hujan reda nanti.

0 komentar:

Posting Komentar

silakan beri komentar, kritik, atau saran.

Entri Populer

"Sabar dan Jalanin aja Jef.."

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...