Hujan turun, menemani
kehampaan yang aku rasakan di keramaian kota ini. ku terendap langkah di
kekosongan, tanpa tahu harus kemana? tanpa mengerti, harus melakukan apa.
seolah semua yang terjadi di sini, tak ada awal dan tak ada akhir. ini semua
karena engkau. cerita-cerita tentang kita, amat selalu ku nantikan lagi hadir di
kesepianku kini. sayang, kita terbelenggu dalam amarah yang teramat sangar
menyiksa, dikekang ego yang amat menyakitkan hati, jarak yang terbentang antara
kita saat ini, tak lah jauh. hanya berselang lima -tujuh menit, antara kau dan
aku. namun itu, seolah menjadi ratusan kilometer kini. seakan-akan kau amat
jauh kini. seakan-akan kau kau tak memikirkan aku lagi.
Hujan turun, menemani
ceritaku denganmu. seperti saat kita berkejar hujan di bawah sana, di sungai
sana. saat kita berpacu dengan tetesan air yang jatuh kala mengajar di bawah
sana. tak biasanya kini hujan, seolah-olah itu menjadi air mata yang tak bisa
kita keluarkan kala menahan pedih perih yang datang, kala merasakan sepi yang
amat sangat menyiksa. ku ingin kau tahu, ku sangat menginginkanmu ada di
sampingku di sini. mendengarkan pintaku lirih,
Hujan turun, ketika aku
mengucapkan lirih pintaku. kau tak mendengarnya. kita telah melalui semuanya
bersama selama ini. membuat menu berbuka puasa bersama, membuat tugas bersama,
bermain bulu tangkis bersama, dan semua memang pintaku. memang semua aku yang
meminta. namun aku ingin kau tahu, pinta yang aku ingin kau tahu, meski aku tak
mengucapkannya...
"aku ingin kau
membuatkan aku nasi dengan telur mata sapi dengan taburan cabai hijau di
atasnya, tanpa aku harus memintamu untuk memasaknya.."
"Aku ingin kau
menuangkan segelas susu hangat, tanpa aku harus memintanya.."
"Aku ingin kau
mengajakku membuat acara, pergi ke suatu tempat, dengan atau tanpa uang, tanpa
aku harus mengatakan bahwa aku merasa bosan dengan rutinitas yang kita
jalani.."
"Aku ingin kau
mengerti, bahwa aku tak suka melihatmu mengikuti amarahku, di saat seharusnya
kau menjadi hujan yang meredakan api yang membara di hatiku.."
"Aku ingin kau
mengerti, bahwa aku tak suka melihatmu sebal, dengan segalanya, sehingga
membuat kita tak bisa melakukan rencana yang seharusnya kita lakukan.."
"Aku ingin kau
mengerti, ku ingin kau menjadi penopang kekuatan, di kala aku lelah, lemah, dan
bimbang dalam mengambil keputusan.."
“dan, aku ingin kau mengerti, sebelum engkau
membaca yang aku goreskan ini untukmu..”
Hujan masih belum reda,
sunyi sepi antara kita berdua pun masih ada. entah sampai kapan, jarak yang
bertempuh lima tujuh - menit itu menjadi ratusan kilometer. aku merindukanmu.
ku berharap, ada matahari pada saat hujan reda nanti.



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.