Sebentar lagi adalah pertengahan bulan Agustus,
Tak terasa.. Sudah lima tahun aku di sini.
...............
Suasana malam ini terasa hening sekali, berbeda sekali dengan malam pada tahun-tahun sebelumnya, suasana yang romantis untuk menulis segala yang teringat tentang kamar ini.
Aku masih ingat, kala itu 15 Agustus 2009, kali pertama aku menempati kamar ini, kali pertama aku tinggal jauh dari orang tua, kali pertama aku mengenal dunia kemandirian. Banyak kenangan terjadi di kamar ini, di kos-kosan ini, banyak kenangan dan cerita terbayang malam ini. Cerita kala pertama datang dan makan malam di warung towernya Bu tun, cerita kala PPA dan OKPT. Ketika itu di kos ini aku dan teman sekamarkulah yang paling muda, ada mas Adit yang waktu itu semester 9, ada mas olan yang semester 7, ada mas reza yang semester 5 dan ada mas rizky dan mas arif yang semester 3. Suasana yang ramai dengan karakternya masing-masing. Masih teringat kala aku dan teman sekamarku sering nonton film sampai malam di kamarnya mas adit, diajak makan mas adit sampai ke warung-warung yang jauh. Dulu setiap ada film baru, selalu mas adit mengajak nonton film, yang sering jadi candaan bioskop. Atau kala disuruh mengantar dan menjemput mas adit di kalibanteng. Saat bertengkar melalui telfon dan sms dengan mantanku terdahulu, cerita tentang mas olan yang sering mengajak main futsal di lapangan auditorium, mas adit yang mengajak lari sore tapi larinya kalah cepat dengan caraku jalan kaki, atau tentang pintu yang sering ku kunci kala menonton ‘film’ sampai teman sekamarku tidak bisa masuk kamar gara-gara tidak bawa kunci dan ku ketiduran,hehehe....
Kala itu laptop belum semurah dan sepopuler sekarang. Masih ingat kala aku dan temanku sering internetan dengan paket 1 atau paket 2 di warnet sebelah kos, atau tentang ‘fap-fap’ diwarnet dekat apotik pada malam hari karena tarifnya murah. Teringat juga cerita kala makan lauknya keripik tempe, sahur dengan roti dan okky jelly drink, kebiasaan hibernansi pada akhir pekan, komputer yang tiap semester selalu di instal ulang, celana dalam yang sering hilang di jemuran, nasi goreng yang memiliki efek ‘wow’ dari masakannya Bu Tun, rebutan ember dengan tukang bakso yang ngontrak di depan kos. Waktu itu aku juga belum punya motor, masih jalan kaki untuk ke kampus, masih pinjam motor punya teman sekamarku. Selalu ada cerita, dimana kita slalu pulang bersama ke Batang, berangkat bersama ke Semarang, kehujanan bersama, kepanasan bersama. Cerita kala meminjam motor untuk ngelesi. Sekarang, semua cerita itu, pahit dan manis di kos ini, di kamar ini menjadi sesuatu yang sangat romantis untuk di kenang.
....................
Setahun pun berlalu, aku yang dulu hampir sering pulang karena mempunyai pacar di Batang, kini telah usai cerita itu. Kini aku sering berada di Semarang. Namun, mas Adit pun akhirnya beranjak ke podium wisudawan, masih teringat nasihatnya, “Kuliah itu ibarat perjalanan kita dari rumah ke Semarang, pastinya akan ada jalan terjal, jalan berlubang, yang menentukan cepat tidaknya kita berjalan adalah kita sendiri. Terkadang kita tak berhati-hati menempuh jalan, saranku, fokuslah pada perjalanan, jangan ikuti cerita yang aku alami...”. Saat itu aku belum terlalu mengerti.
Mas Adit pergi, mas reza pindah ke pkm dan mas olan pindah ke kos lain. Kepergian mereka digantikan oleh Ardian dan duet Bruri-Purna. Ardian mewarisi kamar mas Adit sedangkan kamar mas reza-mas ola diisi oleh Bruri-Purna. Ardian orangnya tertutup dan acuh tak acuh, bahkan dia tak tahu nama tetangga kamarnya, sedangkan Purna hanya bertahan setengah semester setelah akhirnya keluar dari kuliah. Tinggal Bruri. Bruri bertahan setahun di sini, anak aneh yang sifatnya ‘klemar-klemer’ namun bisa dapat cewek cantik, dunia memang adil ya :D
Tahun kedua aku di kos juga dimeriahkan dengan kedatangan Angga dan Gaple. Angga hanya bertahan beberapa minggu dan akhirnya keluar dari kuliah, sedangkan Gaple, walau sebenarnya beda kos dengan kami, namun sering tidur di kamar ini.
Di tahun ini pulalah aku kali pertama aku memiliki motor, sehingga aktivitasku menjadi lebih mudah. Walau begitu, berangkat kuliah aku tetap jalan kaki, sedangkan motor hanya aku gunakan saat ngelesi atau pulang saja.
Setahun berlalu, mas arif pun pindah, Ardian juga pindah, Bruri juga memutuskan hijrah ke kos lain. Tiba dimana kos menjadi puncak dari keramaian selama aku ngekos di sini. Kamar Bruri di isi oleh teman sejurusanku, Apri dan Fendra, kamar mas Arif diisi oleh Ivan dan Dio, dan kamar ardian diwariskan oleh Jamal-Roni, ditambah dengan kamar dadakannya ‘Alam’. Total sekos ada 10 orang, jumlah terbanyak selama aku mengekos. Efek positifnya, suasana kos menjadi ramai dan ceria, penuh cerita. Ada cerita ketika main gitar malam-malam, cerita tentang listrik yang bolak-balik anjlok gara-gara tidak kuat memenuhi kebutuhan listrik anak kos, ada cerita ivan yang selalu dikambinghitamkan oleh teman-teman,hahahaa... Saat itu, benar-benar suasana yang paling ramai sepanjang aku mengekos disini. Namun, dibalik keramaian itu ada juga waktu dimana semuanya menjadi tidak betah karena listrik yang selalu anjlok, parkir yang penuh, aku yang menjadi ketua kos selalu bilang, jalanin saja, ntar juga terbiasa. Sebagai ketua kala itu, selalu aku berpihak kepada anak-anak walau sebenarnya berpihak kepada pemilik kos lebih menguntungkan.
......................
Setahun pun berlalu, masa-masa ramai pun berakhir. Lima sekawan alam-roni-jamal-dio-ivan pindah secara serentak, mengiringi kepergian mas risky yang pindah secara tidak baik-baik setengah tahun sebelumnya. Pada tahun ini tersisa aku-afif yang di kos, apri-fendra PPL di luar kota, pengganti jamal-roni adalah soni yang agak tertutup, dan reza yang mengisi kamar dio-ivan juga tidak terlalu sering bergaul. Praktis setahun ini, hanya 3-5 bulan aku di kos. Menikmati sepi yang datang perlahan, keramaian yang berangsut-angsur hilang.
..........................
Masa PPL dan KKN pun akhirnya selesai. Aku menyadari, masa-masa di kos-kosan pun tinggal sedikit lagi. Masa-masa dimana aku, afif, apri dan fendra menghadapi masa-masa skripsi. Masih ingat kala kami sering bermain remi sampai larut malam, bertukar file, buka puasa bersama, berangkat kuliah bersama. Pada masa ini, Apri wisuda dan memutuskan pindah sembari menunggu masa wisuda. Fendra pun mengikuti langkah apri sebagai teman yang baik, Sony pun sudah berfikir hal yang sama, Mas Rizky digantikan oleh satpam jafar. Aku/ masih bertahan disini dengan teman sekamarku.
...........................
Setelah wisudanya Apri, semuanya berangsur-angsur berubah secara drastis. Tidak ada lagi warung bakso di depan kos, digeser oleh warteg, warnet sebelah juga sudah tutup, kos menjadi sepi, meski Sony digantikan oleh Hajut dan Tiyas dan Rendra datang melengkapi aku, afif, jafar dan reza. Praktis hanya aku, afif, rendra dan tiyas yang sering berkumpul karena berasal dari daerah yang sama.
...........................
Kadang aku merasa seperti Gibson di film XXX, “Perang selalu datang dan pergi, namun prajuritku akan tetap abadi..”. Boleh jadi banyak anak kos datang dan pergi, namin aku selalu berfikir untuk bertahan di sini. Sebenarnya sedikit pun, sejak aku ngekos di sini, tak pernah terbersit dihatiku untuk pindah kamar apalagi pindah kos, bahkan saat teman sekamarku menawari pindah, aku merasa nyaman dengan segala cerita di kamar ini. Kamar yang memberikan keberuntungan bagi teman-teman yang mau tes, kaamr yang penuh darah nyamuk dijadikan gambar, kamar yang malam hari terasa panas namun pagi hari dinginnya setara dinginya malam, kamar yang sebagai tempatku dan teman sekamarku mengerjkan tugas, membuat skripsi, menonton film, main game, ‘ngglendengi pemilik kos’, menonton tv,, atau tentang kasur yang kayak ‘Tumor’, sprei yang tak mampu menutup kasurnya, bantal yang empuknya sudah hilang, perang dengan nyamuk tiap malam, jin yang suka merusakkan barang elektronik, benar-benar penuh kenangan yang sulit dilupakan.
......................................
Hingga kini tiba dimana masa tua akan datang. Masa dimana aku harus pindah dari sini, mengakhiri cerita di kamar ini.. Saaat ini memang aku hanya pindah kamar, namun suatu saat aku akan pindah dari kos ini, dari kampus ini dan mungkin juga dari kota ini. Semua akan menjadi cerita tak terlupakan hingga tua nanti.
...................
Terima kasih masa-masa aku di kos ini.
.....................
Esok, 15 Agustus 2014, kita akan berpisah. Menjalani kehidupan yang lebih dari ini, selamat tinggal kamarku tersayang....



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.