“Dulu, setelah kepergian dia, ku sangka aku tak bisa jatuh cinta lagi.... Namun aku bersyukur, karena hal itu salah..”
..........................
Perih dan sakit. Itu yang ku rasa kala berjalan sendiri setelah kepergiannya. Kata orang, obat sakit cinta adalah kehadiran orang baru. Namun, bagiku, hal itu adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Aku sulit untuk menerima kehadiran bidadari lain dalam hidupku. Kehadiran sosok lain yang mengisi hatiku. Pernah aku mencoba untuk mendekati beberapa sosok lain yang dulu pernah aku dekati, namun semua itu semakin membuka luka yang pernah dia tinggalkan.Apakah aku tak bisa melupakannya? Apakah aku tak bisa memberikan cinta kepada bidadari lain selain dia?
“Hingga suatu hari, aku merasakan perasaan yang menakjubkan kala berjumpa dengan sesosok berkacamata, berambut hitam lurus dan dia melintas di depanku kala itu..”
Dia berjalan di depanku, di tengah keramaian kelas aljabar, sosok yang selama ini tak pernah aku lihat. Dialah Vani Febri Itsnani. Aku tak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta kepadanya, jika aku terobsesi pada rambutnya yang lurus kala itu, namun aku semakin jatuh cinta ketika rambut dia menjadi berombak, jika aku jatuh cinta karena dia berkacamata, banyak sosok di luar sana yang juga berkacamata. Terus kenapa?
Tuhan memang maha cinta. Dia menyembunyikan alasan kenapa aku mencintainya. Seiring waktu, kami akhirnya menjadi sepasang kekasih. Tanpa kami tahu, kapan kami resmi menjadi kekasih, tanpa aku ingat kapan pertama kali aku menyatakan cintaku kepadanya. Tak seperti dahulu, dimana semua tercatat.
“Dan aku bersyukur akan dua hal, pertama karena aku tak tahu kapan kali pertama kami menjadi sepasang kekasih dan kedua, karena aku pernah mencintai sesorang, sehingga sekarang aku bisa mencintai Vani secara terbaik dari diriku...”
Hari berganti hari, kami melalui hari-hari panjang bersama. Menikmati musim panas dan hujan bersama. Melewati jalan mulus dan terjal berliku bersama. Vani-lah yang merubah aku menjadi seperti ini. Aku yang dulunya pemarah dan tak sabaran, menjadi luluh ketika melihat dia menangis, sehingga membuatku menahan sikapku. Merubah aku yang dulunya kurus menjadi gemuk, merubah aku yang pendiem menjadi cerewet dan merubah yang tadinya kaku menjadi ceria. Cinta memang bisa merubah orang, seperti pun aku yang berubah karena cintaku kepadanya. Sama sepertiku yang bisa merubahnya menyukai kucing, padahal dulu dia tidak suka kucing, merubah dia memakai bahasa indonesia, membicarakan hal-hal kita menjadi sesuatu yang kekanak-kanakan. Memang, pada akhirnya aku benar-benar jatuh cinta kepadanya, bukan hanya suka, bukan seperti perasaan kekaguman kepada sosok-sosok lain yang datang sebelum dia. Waktu melukiskan segalanya.
“Dan aku tak menyangka bisa mencintainya sampai sedalam ini, mencintainya melebihi kala aku mencintai mantanku dulu...”



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.