"Yang paling menyedihkan dari sebuah cinta, adalah ketika cinta itu berakhir..."
.............................
Ini adalah sebuah sekuel dari kisah dua langit. Kisah dimana akhirnya aku dikirim ke langit masa lalu dan dia dikirim ke langit masa depan sebagai hukuman dari pertikaian kami berdua. Di masa lalu, aku menjadi langit yang dingin. langit yang hatinya membeku karena kehilangan. karena ulahku itu, bumi, yang ada dinaunganku, menjadi dingin pula. Bumi yang tadinya hangat menjadi dingin, menjadi masa-masa dimana daratan menjadi luas karena permukaan air laut membeku, masa dimana tumbuhan-tumbuhan menjadi layu karena matahari yang tertutup oleh langit mendung. Puncak kemarahanku adalah ketika aku memecah lautan di bumi dengan bebatuan meteor, yang membuat tsunami, serta air laut dan pasir-pasir yang di naik ke udara, kemudian menutupi permukaan awan. entah berapa ton pasir serta berapa meter kubuk air yang naik hingga awan-awan menjadi hitam. Matahri hilang, hangat musah berganti dunia yang dingin.
Bencana baru saja dimulai. Mereka-mereka yang hidup menjadi mati. karena dingin. karena tumbuh-tumbuhan yang mereka makan, tak bisa lagi menjadi produsen. Mungkin, hanya sebagian dari mereka yang berhibernansi yang dapat bertahan hidup. mereka-mereka yang bertingkat rendah, namun bisa bertahan hidup di bawah awan gelap dan dingin.
AKu tersadar, aku telah membuat sebuah kekacauan karena kebekuanku. karena kesedihanku. karena kebencianku. 'Tuhan, apakah masa lalu ini memang seperti ini? apakah skenario yang kau buat memang seperti ini? atau apakah karena ulahku, sejarah berubah dan mereka-mereka yang di bawah sana menjadi mati?'
Dia tak menjawab. Dia hanya memberiku sebuah jam waktu. jam yang bisa memajukan masa lalu ini menjadi sebuah masa depan. masa depan yang berjalan perlahan namun memiliki selang waktu yang sama dengan masa depan dimana dia di langit masa depan.
Waktu terus berjalan, perlahan pasir dan air itu turun kembali ke bumi. awan gelap yang semula menutupi langit di bumi telah menjadi warna biru cerah. tumbuh-tumbuhan yang sebelumnya layu dan mati, telah berganti tumbuh digantikan oleh penerusnya. namun, tetap ada kesedihan setelah badai berlalu, aku melihat mereka-mereka yang bertaring, mereka-mereka yang besar dan mereka-mereka yang buas kini telah mati. jasad-jasad mereka tergeletak di tanah dan secara perlahan membusuk tertimbun oleh waktu. Tak ada lagi mereka. Mereka-mereka yang dulu, kini telah digantikan oleh mereka-mereka yang baru, mereka-mereka yang baru itulah mereka-mereka yang bertahan hidup, yang berhibernansi mengarungi masa-masa gelap dan dingin.
'Tuhan, apakah kini aku membuat suatu kesalahan lagi?'
jam waktu yang diberikan Tuhan terus berjalan. Es-es yang dulu menutupi permukaan tanah bumi, kini telah mencair. Tuhan memperlihatkan kepadaku bagaimana zaman es telah berakhir. Bumi yang dulu dingin kini telah menjadi hangat. Aku kini bisa melihat betapa cantiknya bumi. Bumi yang dari jarak terjauh pandangku, hanya sebuah bola biru, kini menyimpan banyak sekali perhiasan alam yang artistik seperti gunung-gunung tinggi yang hijau, hutan-hutan yang teduh, lautan luas yang dingin dan menghanyutkan, sungai-sungai yang mengalir teratur, atau pun kabut yang penuh misteri.
Tanpa sadar, aku jatuh cnta kepada bumi.
'Tuhan, apakah di masa depan bumi masih cantik alami seperti ini?'
...............................
Pernah aku menemui bumi, dan melihat diriku dari permukaan tanahnya. Bumi mengatakan, bahwa langit itu tinggi sekali, Bumi mengatakan bahwa langit itu biru, Bumi berkata bahwa langit di saat fajar itu cantik, Bumi berkata bahwa langit di kala siang itu cerah sekali, Bumi berkata bahwa langit di kala senja itu elok sekali dan Bumi berkata bahwa langit di kala malam itu penuh misteri yang mempesona.
dan (kembali) tanpa sadar, perasaanku kepada bumi menjadi semakin kuat, Aku selalu berusaha menjaga bumi, memberikan dia langit cerah di kala dia kedinginan, meberikan dia langit fajar yang sarat biru dan embun kala dia terbangun dari lelapnya, memberikan dia langit senja yang penuh lembayung orange di kala dia merebahkan bebannya, dan memberikan dia langit malam yang penuh dengan bintang dan sebuah bulan purnama yang terang benderang agar dia merasa nyaman di kala menyambut tidurnya.
Aku benar-benar jatuh cinta kepada bumi. Dulu aku pernah berkata bahwa jika ada yang lebih kejam dari jarak, maka ialah waktu. Tuhan benar-benar Maha Pendengar dan juga Maha Sutradara. Dia memberiku suatu ujian kembali kepadaku.Dimaa aku jatuh cinta kepada bumi, namun walau kami bisa saling menatap, kami bisa saling bertemu di garis horizon antara laut dan langit, namun kami terpisah jarak. Ya.. Bumi dan langit selalu berdampingan namun memiliki jarak.
Siapakah yang tahu jarak antara langit dan bumi?
apakah dua juta tahun cahaya?
apakah lima ratus ribu tahun cahaya? dua triliun tahun cahaya?
ataukah nol dan tak ada jarak sama sekali?
Entahlah, aku tak pernah tahu. yang aku tahu selalu ialah, ketika di pantai, kita bisa bertemu di garis horizon antara langit dan bumi, kita bisa bertemu di kaki-kaki garis pelangi, kita bisa bertemu di titik dimana matahari tepat akan terbit, kita bisa berjumpa di titik dimana matahari tepat akan terbenam, dan kita bisa bertemu di bidang langit kala terang itu terdegradasi menjadi hitam.
Bumi, katamu langit itu biru, padahal langit itu hitam.
Bumi, Kataku kau biru, padahal kau hijau, biru, coklat.
Bumi, katamu aku tinggi, padahal aku hanya sedikit di atasmu
Bumi selalu menerima langit apa adanya. Bumi menerima langit yang sedih dan marah, yang menimpakan hujan dan petir, namun bumi selalu menghiburnya dan merubah petir serta hujan itu menjadi listrik dan sawah-sawah yang hijau.
Bumi menerima langit yang kadang tak tepat waktu menghadirkan langit fajar atau langit fajar yang tak elok di pandang, dan merubahnya menjadi hari yang cerah dengan bunga-bunga yang tumbuh di permukaannya.
Bumi selalu menerima langit yang kadang memberinya langit malam yang hanya gelap tanpa bulan dan membosankan, namun dia merubahnya menjadi malam yang romantis dengan cahaya lilin dan kicauan jangkrik.
Bumi juga selalu memaafkan langit ketika senja datang dan lembayung orange yang dibuat gagal menjadi artistik, namun dia merubahnya menjadi senja yang sakral dengan pujian-pujian dan Do'a kepada Tuhan yang penuh dengan pengharapan.
Sejak kapan langit bersanding dengan bumi?
tak ada yang tahu, hanya Tuhan yang tahu.
Tuhan memang telah menyandingkan bumi dengan langit.
Tuhan telah memerintahkan langit untuk menjaga bumi. Menjaganya agar tak bersedih di kala penghuninya membuat masalah. menjaganya d setiap waktu. menjaga agar bumi tetap tersenyum. walau langit dan bumi itu terbentang jarak tak hingga, namun hati langit dan bumi....
Tak ada jarak sama sekali.
.......................
Kini langit dan bumi berjalan bersama, menikmati pagi yang beriringan berubah menjadi malam. menikmati lautan biru, menikmati hujan yang mendewasakan, menikmati gunung-gunung yang tinggi, menikmati kabut yang penuh misteri, menikmati malam yang penug bintang dan bulan, dan juga.....
menikmati romantisnya langit senja.
Entri Populer
-
Ketika aku berbicara tentang hujan. Itu bukan berarti benar-benar aku menyukai tentang hujan. Bukan menyukai tentang bagaimana setiap...
-
I. Mukadimah Sepak bola merupakan salah satu olahraga terpopuler di jagat raya ini. Kepopuleran yang mampu membius impian anak-anak untuk ...
-
Aku merasa lelah berjalan di tepian ini, Tak terasa jarak yang ku tempuh. Seberapa jauhkah? Ku terhalang pesona, Malam-malam penu...
-
Aku ingin menjadi sebuah nafas , yang selalu kau butuhkan dalam hidupmu, Aku ingin menjadi nyanyian , yang selalu kau rindukan kedamaiannya,...
-
Prolog : “ku coba memahami tempatku berlabuh, Terdampar di keruhnya satu sisi dunia.. Hadir di muka bumi, Tak tersaji indah, Ku ingin rasaka...



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.