Ini adalah cerita ketika aku berkunjung ke tempat temanku saat itu.
Sebuah perbincangan biasa, yang memperbincangkan apa saja, pekerjaan, masa lalu, cerita sekarang dan juga tentang teman. Ada satu hal yang membuatku serasa di jewer kupingnya, membuat telingaku terasa panas, namun hati mengakuinya.
Sepertinya, semua kebenaran itu memiliki kesamaan, rasanya pedas dan sakit, namun itu sesuai dengan kenyataan. Perbincangan yang menyebalkan itu adalah tentang pertanyaan : “Apakah kau telah menemukan keahlianmu?”.
************
Dewasa ini, kita sering dihadapkan dengan kenyataan yang tak sesuai dengan apa yang ada pada teori yang terdapat pada buku pelajaran. Waktu SMA dulu, kita belajar banyak hal, dari yang renyah seperti seni sampai yang rumit otak atik seperti fisika matematika. Namun, semua itu mengerucut pada saat kita lulus SMA. Beberapa teman telah menemukan keahliannya. Seperti marketing, programming, menyanyi, dan sebagainya. Mereka memilih satu di antara sekian banyak bakat yang mereka miliki untuk mereka jadikan sebagai kuda tunggangan meraih masa depan. Sedangkan aku?
*******
Sejak aku kecil, aku memiliki ketertarikan kepada banyak hal. Kepada animasi, kepada karya sastra, olahraga, catur, sepak bola, musik, dan juga matematika. Ketika aku SMA, ketertarikan itu sempat mengerucut dan juga menggaet bidang lain. Mengerucut pada Matematika, dan mencoba hal baru di bidang diskusi dan juga lawak. Hingga akhirnya aku memilih matematika sebagai titik kerucut itu.
Ketika aku kuliah, aku menemukan ketertarikan kepada hal lain. Aku tak tahu kenapa, apakah mungkin karena rasa jenuhku bergelut terus dengan logika matematika, membuatku mencoba hal-hal lain. Rasa ingin tahuku bertambat kepada ilmu komputer, ilmu wiraswasta, ilmu photography, dan juga ilmu travelling.
********
Kini saat pertanyaan itu ditanyakan, aku harus mejawab apa?
Jujur aku ingin bisa menguasai semuanya, semua tentang komputer, matematika, catur, musik, wiraswasta, photography, design dan berbagai hal lainnya. Namun, aku sadar. Untuk menguasai semua itu adalah hal yang sangat sangat sulit. Aku sering terbentur oleh lingkungan, oleh kefokusan dan keadaan.
Mungkin ini adalah saat aku merenungkan bahwa, kemana aku harus memilih. Meilih satu keahlian untuk dijadikan kuda tunggangan.


0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.