Kamis, 11 Mei 2017

Kopi, Kau dan Aku



“Dan... entah kenapa aku bisa bertahan sejauh ini, bertahan di antara hujan, di antara jalan berbatu dan juga kelamnya malam.... mungkin itu karena kau begitu romantis untuk didamba...”

Ini adalah sebuah cerita tentang aku, perjalanan, kopi dan tentunya juga KAMU. Iya, kamu. Sekali lagi KAMU. Seseorang yang bisa membuatku bertahan kala dibentangkan oleh jarak. Oleh rasa kerinduan yang mendalam setiap kali aku melihat fotomu di keseharianku. 
Kata orang, rindu itu seperti kopi. Yang terasa pahit, namun membuat kita terjaga ketika meminumnya. Seperti pun aku, yang terjaga dalam kesadaranku, ketika di keseharianku, aku tahu, kau sedang tak ada di sini.

Di sisiku.

Dan cerita tentang kopi yang pertama, adalah ketika aku ke rumahmu. Ketika itu aku bahkan tak tahu sama sekali rumahmu. Di antara kepenatanku mencari dimana rumahmu, kopi itulah yang membuatku terjaga untuk menempuh jarak ratusan kilometer.
Dan itu untuk menempatkan raga lelahku di sampingmu.
...........................
Sejak saat itu kopi selalu menjadi teman perjalananku saat aku menuju rumahmu.
..........................
Dan cerita tentang kopi yang kedua adalah ketika kita kemalaman saat aku hendak mengantarmu. Kala itu kita mampir ke sebuah masjid, yang di dalamnya ada fasilitas dispenser beserta bahan-bahannya. Ku tahu kau menyimpan rasa penat itu agar aku tak tahu betapa lelahnya kau.

Seperti pun aku yang berusaha untuk tetap segar, agar kau tak khawatir padaku.
Di selesainya do’a kita kepada sang pencipta. Ku menunggumu di teras masjid itu. Ku ambil sebuah gelas, ku sendokkan sesendok kopi bubuk dan juga gula. Dan tak lama, kedua bahan berbeda warna itu bercampur dengan air panas.
Kau tahu? Aku bahkan belum meminum kopi itu.
Dan itu aku buatkan untukmu.

Untukmu yang tengah berusaha menyembunyikan rasa dingin yang menyelimutimu.
Saat itulah kau berkata kepadaku.. “kopinya enak, aku biasanya tidak suka kopi, namun kali ini entah kenapa terasa berbeda...”
...........................
Kau tahu? Ada rasa bahagia yang terkira ketika mendengar kau mengucapkan itu. Rasanya seperti anak kecil yang baru dipuji oleh gurunya.
Rasanya seperti melepas tas punggung yang berat dari bahuku.
Rasanya seperti sedang menikmati malam yang romantis dengan bintang-bintang di langit.
..........................
Dan aku beruntung memilikimu.
Sayangku.
..............................


0 komentar:

Posting Komentar

silakan beri komentar, kritik, atau saran.

Entri Populer

"Sabar dan Jalanin aja Jef.."

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...