“Dan... entah kenapa
aku bisa bertahan sejauh ini, bertahan di antara hujan, di antara jalan berbatu
dan juga kelamnya
malam.... mungkin itu karena kau begitu romantis untuk didamba...”
Ini adalah sebuah
cerita tentang aku, perjalanan, kopi dan tentunya juga KAMU. Iya, kamu. Sekali lagi
KAMU. Seseorang yang bisa membuatku bertahan kala dibentangkan oleh jarak. Oleh
rasa kerinduan yang mendalam setiap kali aku melihat fotomu di keseharianku.
Kata
orang, rindu itu seperti kopi. Yang terasa pahit, namun membuat kita terjaga
ketika meminumnya. Seperti pun aku, yang terjaga dalam kesadaranku, ketika di
keseharianku, aku tahu, kau sedang tak ada di sini.
Di sisiku.
Dan cerita tentang
kopi yang pertama, adalah ketika aku ke rumahmu. Ketika itu aku bahkan tak tahu
sama sekali rumahmu. Di antara kepenatanku mencari dimana rumahmu, kopi itulah
yang membuatku terjaga untuk menempuh jarak ratusan kilometer.
Dan itu untuk
menempatkan raga lelahku di sampingmu.
...........................
Sejak saat itu kopi
selalu menjadi teman perjalananku saat aku menuju rumahmu.
..........................
Dan cerita tentang
kopi yang kedua adalah ketika kita kemalaman saat aku hendak mengantarmu. Kala itu
kita mampir ke sebuah masjid, yang di dalamnya ada fasilitas dispenser beserta
bahan-bahannya. Ku tahu kau menyimpan rasa penat itu agar aku tak tahu betapa
lelahnya kau.
Seperti pun aku yang
berusaha untuk tetap segar, agar kau tak khawatir padaku.
Di selesainya do’a
kita kepada sang pencipta. Ku menunggumu di teras masjid itu. Ku ambil sebuah
gelas, ku sendokkan sesendok kopi bubuk dan juga gula. Dan tak lama, kedua
bahan berbeda warna itu bercampur dengan air panas.
Kau tahu? Aku bahkan
belum meminum kopi itu.
Dan itu aku buatkan
untukmu.
Untukmu yang tengah
berusaha menyembunyikan rasa dingin yang menyelimutimu.
Saat itulah kau
berkata kepadaku.. “kopinya enak, aku biasanya tidak suka kopi, namun kali ini
entah kenapa terasa berbeda...”
...........................
Kau tahu? Ada rasa
bahagia yang terkira ketika mendengar kau mengucapkan itu. Rasanya seperti anak
kecil yang baru dipuji oleh gurunya.
Rasanya seperti
melepas tas punggung yang berat dari bahuku.
Rasanya seperti
sedang menikmati malam yang romantis dengan bintang-bintang di langit.
..........................
Dan aku beruntung
memilikimu.
Sayangku.
..............................



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.