I. MukadimahSepak bola merupakan salah satu olahraga terpopuler di jagat raya ini. Kepopuleran yang mampu membius impian anak-anak untuk menggelutinya. Sedemikian pula anak-anak di kampungku, waktu kecil pun aku sempat bercita-cita untuk jadi pemain sepak bola yang hebat. Bermain di lapangan berumput hijau, mencetak gol
dan disaksikan ribuan penonton di tribun. Tribun penonton yang penuh gemuruh menyebut namaku. Betapa senangnya hatiku di dalam impianku itu.
dan disaksikan ribuan penonton di tribun. Tribun penonton yang penuh gemuruh menyebut namaku. Betapa senangnya hatiku di dalam impianku itu.
Impian itu menjadi garis-garis indah dalam kehidupanku.
II. Awal mengenal sepak bola
Awal aku mengenal sepak bola karena ketidaksengajaan. Jujur, dulu aku sama sekali tidak tahu apalagi suka olahraga ini. Yang ku tahu mereka yang bermain sepak bola Cuma tendang-tendangan. Masih segar dibenakku, waktu itu Pak Asek yang menyuruhku main pas aku masih kelas 2 SD, aku yang gak tahu apa-apa, dijadikan penjaga gawang. Dan, luar biasanya, aku sama sekali tidak kebobolan. Bukan karena aku pintar, tapi karena samapi petandingan berakhir, timku tidak mengalami serangan yang berarti. Kalau pun diserang, bolanya malah keluar, hehehe…
Setelah itu, aku masih belum juga paham sepak bola. Karena aku sama sekali tidak terlibat dalam permainan. Masih di kelas 2 SD, karena keseringan membaca Doraemon petualangan, pikiranku waktu itu jadi penuh akan fantasi petualangan. Dan, lapangan kanoman, yang waktu itu masih kuno, terkesan masih liar, menjadi tempatku buat berpetualangan. Namanya juga lapangan, tidaklah jauh dari orang-orang bermain sepak bola. Dan aku, yang waktu itu masih ‘berpetualangan’ sering dimintai tolong buat mengambil bola yang keluar, yang sering disebut anak gawang. Benar-benar tak jauh dari sepak bola.
Kelas 3 SD, aku masih ingat moment yang membawaku kembali ke sepak bola. Waktu itu pelajaran olahraga, pak Hartono, wali kelasku saat itu, menyuruh siswa-siswa untuk bermain sepak bola dan siswi-siswi untuk bermain kasti. Tapi, aku waktu itu enggan buat bermain, dan lagi pula waktu itu temanku tatak juga tidak ikut, gak tahu kenapa? Tapi yang jelas kami disebut banci. Sejak itulah, ada perubahan tentang sepak bola di dalam diriku.
Piala Dunia 2002, menjadi batu perubahan dalam hidupku tentang sepak bola. Daya biusnya membuatku terpesona, apalagi setelah menonton pertandingan Italia vs Korea Selatan, aku menjadi suka sepak bola. Membicarakan sepak bola, hasil pertandingan bola, dan juga bermain.dan tim yang ku suka adalah AC Milan. Aku suka akan adanya Paolo Maldini. Entah kenapa, aku jadi suka jadi bek waktu itu. Sampai sukanya, aku memilih nomor punggung 3 dan aku tulis nama Maldini di atasnya.
Pertama kali aku bermain bola waktu itu dijadikan kipper, kini ketika pertama kali aku niat bermain bola, aku diposisikan sebagai bek. Itu waktu kelas 5 SD. Dalam formasi kami, dipasang 3 bek central, yaitu agung, aku dan pandu. Kata teman-teman aku yang paling solid dalam menggalang pertahanan,hehehe… dan aku semakin suka menjadi bek. Entah kenapa rasanya meluap-luap saat bisa mematikan penyerang, atau membuat penyerang berputus asa, atau saat semua orang terpana melihat peluang menjadi gol bisa aku gagalkan. Betapa senangnya. ..
Segala kesenangan itu entah kenapa kadang juga membuatku bosan. Kadang aku ingin sekali maju ke depan dan mencetak gol, namun itu belum bisa. Dalam stratregi tim SD waktu itu, 3 bek tidak diizinkan buat maju dalam keadaan apapun, jadi hanya fokus buat bertahan. Belakangan ku tahu, itu stratergi jadul,hehehe… makanya tim ini jarang banget menang, ya mungkin karena straterginya atau mungkin juga karena pemainnya.
Kesukaan bermain bola juga menyalur dalam pergaulanku di rumah. Aku jadi suka bermain bola di kampung, sering dimarahi oleh tetanggaku gara-gara buat rebut waktu menendang bola bersama teman. Dan temanku yang paling sering aku ajak adalah dwi, padahal selisih umur kami adalah 4 tahu, dan dia lebih muda dari aku, jelas dia kalahlah kalo main one on one, hehehe.. sepak bola mungkin bisa menyatukan, tapi sepak bola juga bisa membuat sesuatu jadi terpisah.
Dan aku mengalaminya…
III. Diasingkan
Karena sepak bola aku jadi hitam manis, hitam si iyah, manisnya? Iya juga kali ye.. hehehe.. gimana gak item? Aku main bola aja pernah jam 1 siang!! Dan mainnya tidak main-main, bisa sampai 2 jam. Dulu aku pernah sama Angga main sepak bola dari jam setengah 3 sampai jam 6. Berapa jam coba? Hebatnya, besoknya waktu di sekolah tidak pegal-pegal atau pun capek. Waktu itu masih kelas 5 SD, kalau sekarang si, main 2 jam, liburnya seminggu, hehehhe…^_^.
Dan karena nafsuku yang begitu besar untuk bermain bola, aku menjadi marah ketika teman-teman sekampungku membatalkan buat bermain bola. Aku marah juga sebel, namanya masih anak-anak, pikirannya juga masih pendek, aku memukuli teman-temanku yang menolak itu. Dan sejak itu, aku dijauhi oleh teman-teman sekampungku. Di asingkan dari pergaulan. Aku sadar aku salah, dan sekarang aku jadi malah pingin ketawa kalau inget masa-masa itu.. kug bisa gitu ya?
Itulah sepak bola, walau pun tidak langsung, tapi bisa memisahkan.
IV. Tim baru
Waktu itu kelas 6 SD, dan aku disingkirkan dari kampungku sendiri. Akhirnya, aku memilih bermain di luar kampungku, Briyan tengah. Aku jadi lebih sering bermain bola dengan teman-teman sekolahku, seperti Angga, Agung, Iko dan Agus. Mereka tidak tahu kalo aku diasingkan dari kampungku sendiri. Aku membentuk tim yang tim intinya dengan 4 anak tadi, ditambah adiknya iko, sane, lalu temannya sane, bayu dan aris. Dan disinilah, posisiku dimundurkan kembali menjadi kiper. Ini karena posisi kiper belum ada yang bisa ngisi, iko yang di SD kadang dijadika kiper kedua, juga tidak mau, akhirnya aku mencoba menjadi kiper, dan ternyata.. Menyenangkan..^_^.
Tim kami lalu melanglang buana, terutama ketika aku, agung, agus, iko dan angga kelas 1 SMP. Walau pun agung berbeda SMP, tapi kami tetap bermain bareng. Tim yang minim ini bisa menang melawan tim kampungnya A’am, temanku SMP. Waktu itu dia menganggap remeh aku, tapi setelah liet permainanku, dia angkat topi, hmmm . .. .^_^. Senangnya…
Memasuki akhir semester pertama kelas 1 SMP, tim ini mengalami kegoyahan, angga pindah rumah. Agung mulai fokus ke sekolahnya, agus mengalami masalah dengan sekolahnya, tinggal aku dan iko. Kami mulai jarang bermain bareng, akhirnya aku diajak iko untuk bermain bola dengan kampungnya, yaitu Briyan kulon. Pertama kali bermain, aku jadi bek. Dan aku banyak dikadali oleh penyerang-penyerang di sini. Di sini, pemainnya lebih jago dari kampungku. Ada pemain yang punya gocekan maut walau pun geraknya terkesan lambat, seperti sipur, pemain yang cepat dan jago gocek, mujo, pemain yang dinamis macam bambang, pekerja keras macam feno dan bowok, gelandang serang macam simen, dan pemain bertenaga kuda seperti aldi, yang ini sebenarnya warga sekampungku, tapi dia malah sering mainnya dengan kampong Briyan kulon. Dia besar di sini. Benar-benar tim yang berkualitas. Hampir tiap sore aku bermain bola dengan tim ini, belajar menggocek, belajar menghentikan penyerang, dan belajar menjadi bek yang kuat. Ada 2 posisi di tim ini yang aku tempati, sebagai bek juga sebagai kiper.
Di SMP aku juga sering mengajak teman-teman bermain bola, biasanya hari minggu. Bersama dengan Mifta, aku mengumpulkan teman-teman, kami bermain tiap hari minggu. Awalnya, tim ini sempat sepi, hanya aku, mifta, fahmi, kampran, afif, khamid, riza, dan reza. Namun ke depannya, kami hamper bisa mengajak semua cowok di kelas. Apalagi ketika tanding dengan tim dari sekolah lain, hamper semuanya ikut. Hingga kemudian berlanjut di kelas 2E, ketika hampir semua anggota tim dari kelas 1A masuk ke tim 2E. kami lalu menggencarkan tim ini, dibuatlah kaos yang walaupun memakan waktu lama namun akhirnya jadi juga. Aku memilih nomor 25, ada alasan kenapa aku memilih nomor punggung 25, yaitu karena seorang yang aku suka sejak SD dan sekarang satu SMP denganku tanggal lahirnya adalah 25 Februari. Tim ini sempat mengalami gangguan, kampran sudah agak sibuk tiap hari minggu pagi, jadi dia jarang ikut, hemek juga sama, mifta yang merupakan kaptennya, mulai sering cedera dan malas-malasan, afif, kadang ikut kadang tidak. Tinggal aku fahmi, reza, dan juga yang paling semangat, Riza Pahlevi. Akhirnya kami jadi jarang bermain tiap minggu, kalau pun ada, hanya3-4 orang, namun tetap latihan. Bagiku, ini buka sekedar sepak bola, tapi juga sebagai wadah buat kumpul-kumpul, itu sebabnya aku tidak pernah bosan menghampiri rumah mifta, kampran, afif, hemek, tiap minggu pagi buat mengajak main bola. Walau pun begitu, kami sempat merasakan bertanding dengan tim lain, pernah menang 4-0 juga, walau pun lebih banya kalahnya,hehehhe….
V. Kembali dari keterasingan
Keguncangan di tim 2E, tidak berarti menghalangi semangatku buat bermain di kampong atau di tim lain. Hamper tiap sore aku bermain bola di lapangan kanoman, sembari melihat dari jauh orang yang aku suka sedang menyapu halaman.hhheee… aku belajar banya di sini, terutama saat menjadi defender dan kiper, jika di tim 2E, aku melakoni banyak posisi, dari depan hingga belakang, di sini aku hanya fokus pada kiper dan defender. Sampai akhirnya ada pertandingan antara Briyan kulon, tempatku bermain bola dengan Briyan tengah, kampung halamanku. Jika boleh memilih, aku lebih ingin bermain di Briyan kulon, namun kalau berdasarkan pembagian wilayah, aku jelas di Briyan tengah dan akhirnya aku dipanggil oleh teman-teman buat memperkuat tim Briyan tengah. Jadi debutku setelah sekian lama diasingkan justru saat aku melawan tim dimana aku belajar sepak bola, hehehehe… dan, akhirnya, Briyan tengah kalah telak. Yah….
Sebelum debut ini, aku bahkan ikut memperkuat tim Briyan kulon melawan tim-tim di luar daerah, entah sebagai kiper atau pun defender. Aku pernah menjadi kiper saat melawan kampung Mberan, dan hanya kebobolan 1 gol. Namun, mentalku belumlah matang untuk menjadi kiper bertaraf interkampung, makanya aku ditempatkan sebagai defender tengah. Di duetkan dengan mito atau feno.
VI. Kelas 3 SMP, masa kejayaan
Dan debut itu, menjadi batu tapal. Perasaan terasing mulai agak hilang, hingga akhirnya aku kelas 3 SMP, lapangan waktu itu kadang sepi, teman-teman dari Briyan kulon tidak tahu kemana, akhirnya aku kembali bermain di kampung halaman. Di tim sendiri, dan bermain di lapangan yang merupakan bekas sawah. Sawah kalo musim kemarau kan kering, lha itu dibuat jadi lapangan sepak bola oleh teman, ya walau pun rasanya di kaki sakit, ya aku tetap aja main. Tidak masalah bermain dimana, asal itu tetap sepak bola. Pertama kali aku main disini, aku langsung cedera,heheh.. namun ada momen yang aku ingat benar, saat aku mencetak gol lewat sundulan, itu gol pertamaku di sini, dan gol yang aku cetak saat aku baru masuk beberapa menit. Aku dapat bola dan dihimpit oleh 3 pemain dan satu kiper, namun aku berhasil meloloskan diri dan mencetak gol. Sebuah hal yang sulit dan hamper mustahi untuk mencetak gol namun aku bisa melakukannya.
Kelas 3 ini, sebenarnya aku dilarang bermain bola sering-sering karena hampir ujian, maka aku menargetkan pada diriku sendiri, aku akan rehat beberapa minggu sebelum ujian dan mengatur jadwal keseharianku. Awal-awal kau masuk kelas 3, aku bahkan seperti terasing oleh anak-anak di kelasku. Mereka banyak yang kenal aku, tapi aku sedikit sekali mengenal mereka. Itu karena aku selalu sekelas dengan mantan-mantan 1A. namun sedikit-sedikit aku bisa beradaptasi dengan kondisi kelasku. Aku duduk dengan temanku, fandi, biasanya dipanggil kopet, walau pun agak sedikit menyebalkan, namun sebenarnya anaknya enak juga. Dan, di kelas 3 ini, semua mantan-mantan 2E disebar, jadi tidak ada lagi kelas unggulan. Semuanya rata. Dan ini berimbas baik, teman-teman mulai bisa mengajak anggota baru, menggantikan anggota lama. Aku mengajak kopet, ardi, dan masirin dari kelas 3A. hemek dan mifta memanggil ji’un, iko dan a’am dari kelas 3B. Dari kelas 3C, ada kampran yang kembali aktif, kresmanto, di kelas 3D, afif dan lukman juga sering mengajak teman-temannya, dan kelas 3E-lah yang paling berperan dengan adanya fahmi, reza, riza pahlevi, subaki ditambah angga, feno, elphat dan teman-teman lain, latihan kami tiap minggu jadi banyak orang dan penuh warna. Hingga ke depannya, seperti aku bilang, ini tak lagi jadi sekedar sepak bola tapi juga sebagai tempat berkumpul kita semua. Dan latihan tak lagi di lapangan kebon raja di belakang sekolah, tapi juga di lapangan kanoman atau di mana pun itu, asal bisa bermain sepak bola.
Di kampung halaman pun aku diperhitungkan kembali, aku dipanggil untuk memperkuat tim Briyan tengah saat kami bertaruhan dengan timsewunut, denasri kulon. Itu pertama kalinya aku dijadikan kapten di tim ini. Dan dipertandingan ini kami berhasil menang 2-1. Dipertandingan ini pula kali pertama aku mengambil tendangan 12 pas. Entah kenapa teman-teman menunjukku sebagai eksekutor.
Kemudian aku kembali dipanggil untuk memperkuat tim U-15 yang akan diberangkatkan untuk turnamen di kabundelan. Dan di sini, aku diberi nomor punggung 7, bukan aku yang memilih, tapi aku yang dipilihkan. Sebuah kehormatan. Denag seragam merah, kami berangkat. Pertandingan pertama, aku lupa melawan siapa, tapi kami sempat ketinggalan 2-0, hingga bisa menyamakan kedudukan 2-2. Dan pertandingan yang menggunakan bola plastik itu harus diakhiri dengan adu pinalti, dan aku yang menjadi eksekutor pertama berhasil menjalankan tugas dengan baik. Dan kami menang adu pinalti 4-2. Yah, walau pun kakiku cedera, yang penting kami bisa melaju ke babak selanjutnya. Dan dipertandingan selanjutnya, dengan kaki yang cedera, aku yang memulai bola kick-off langsung menggebrak dengan gol individu yang cepat. Menerima bola kick-off aku langsung menggiring bola ke gawang, melewati 4 pemain dan menceploskan bola di sela-sela kaki kiper. Penonton sempat terdiam dan langsung bergemuruh riuh. Lalu pertandingan menjadi 2-0, lalu disamakan menjadi 2-2, kemudian kami tertinggal 4-2, hingga akhirnya kami berhasil menyamakan kedudukan menjadi 4-4. Dan pertandingan pun harus diakhiri kembali dengan adu pinalti. Aku gagal mengulang kesuksesan menjadi eksekutor, jujur ada keraguan saat aku akan mengambil tendangan pinalti. Selain kakiku yang cedera, aku juga merasakan perasaan yang tidak enak. Memang tendanganku keluar, dan kami akhirnya kalah 6-4 melalui adu pinalti. Pertandingan terseru dan juga pahit buatku. Seandainya ini menang kami bisa melaju ke final. Namun, kami masih punya kesempatan merebut peringkat 3, dan tim yang dihadapi adalah … Briyan kulon, tim tetangga. Saudara kami, perebutan tempat ketiga menjadi derby Briyan. Aku yang pada pertandingan pertama mengalami cedera pada kelingking kaki kanan, sebenarnya sudah malas buat bermain. Teman-teman juga sudah kelelahan, tidak menguntungkan buat tim kami, karena perebutan tempat ketiga dilaksanakan sehari setelah pertandingan tim kami, sedangkan tim Briyan kulon punya waktu sehari buat istirahat. Akibatnya teman-teman sudah pesimis, dan sudah tidak minat buat memperebutkan tempat ketiga. Akhirnya dengan anggota tim yang tersisa, kami melakoni partai derby. Aku pun bemain tidak seperti biasanya, jadi malas buat bergerak. Akhirnya kami kalah telak 4-0. Dan pulang dengan tangan hampa, meskipun begitu aku punya kenangan disini, manis dan juga pahit, mencetak gol tercepat, ditunjuk jadi kapten, beri nomor punggung 7 dan juga gagal mengeksekusi pinalti.. bye bye bundelan cup U-15…. (usiaku saat itu sudah 15 tahun)
Sepulang dari kejuaraan itu, aku kembali ke tim di sekolah dan berlatih bersama Briyan kulon. Di sekolah sepak bola merambah dengan pesat, padahal tadinya aku piker, karena kelas 3 akan ada UAN, maka mereka akan takut bermain bola, karena takut kecapekan, tapi kenyataaannya tidak. Karena kekonsletan di otak mereka, malah jai pingin bermain bola. Dan tempat latihan kini dipindah ke lapangan kanoman, alasannya, di sini apa-apa serba mudah dengan adanya rumah kampran, hemek, afif, mifta dan juga rumahku. Walau kualitas rumputnya lebih bagus di kebon raja, belakang SMP kami. Aku juga mengajak teman se-timku dulu pas SD, si Agung untuk ikut bermain.
Di lapangan ini pula aku berlatih dengan tim Briyan kulon setidaknya sampai 1 bulan sebelum UAN. Banyak pemain-pemain hebat aku temui, sampai pemain-pemain muda macam Riskon dan Bayu sudah mulai berlatih dengan para seniornya. Bagiku mereka terhitung cepat untuk bermain dengan kami, aku saja baru masuk dengan latihan tim senior bergabung ketika kelas 2 SMP akhir, sedang mereka sejak kelas 1 SMP.
Waktu terus berganti, aku memutuskan untuk fokus dulu ke ujian dan meninggalkan tentang sepak bola, entah itu di kampung atau pun di sekolah. Kami semua fokus ke UAN daan juga UAS.
Ujian selesai, aku kembali berlatih. Semangatku terasa berkobar, apalagi di tim sekolah. Seolah-olah inilah saat-saat terakhir kami bisa bermain bola bersama. Setelah ini semua akan berpisah dan bermain sendiri-sendiri. Masa-masa SMP akan dan harus berakhir. Kenangan indah bersama kalian tak ‘kan terlupakan. UAN pun akhirnya membuka hasilnya, ada 11 anak dari angkatan kami yang tidak lulus UAN. Aku meraih hasil gemilang dalam UAN.
Dan tim SMP ini pun harus bubar dan bepisah menjadi tim nostalgia di masa depan. Mifta dan kampran ke SMK Kandeman, aku,kopet, riza pahlevi, fahmi, afif, hemek ke SMA 1 Batang, Subaki, ke Yogyakarta, Reza, elphat dan wawan ke SMA 2 Batang. Selamat tinggal tim terbaikku….
Ada sebuah kesedihan sangat mendalam saat berpisah dengan kalian. Dimana merasakan tawa saat melihat kelucuan bersama kalian, sedih saat kalian tak datang, dan juga bangga saat kita semua bisa menang …. Aku ingin mengulang masa-masa itu (andai aku bisa), dan aku suka kalian semua.. cerita tentang kalian akan jadi kenangan yang tiada terlupakan…


0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.