Jumat, 24 Februari 2012

Daerah Perbatasan

Sesosok malaikat membawaku ke angkasa
Aku melihat sayap-sayap milik pejalan tirani terdahulu
Tangan dan kaki mereka terbelenggu
Leher mereka terjerat
Seolah-olah satu tangan iblis merasukinya.
Mereka memang bermata satu.

Sayap-sayap mereka membawanya ke sebuah kotak
Penuh akan warna dan rasa
Tangan-tangan mereka merambah warna
Mencampurkan nila dalam rasa
Dan, kotak pun menjadi kelam.

Ada tangisan dalam kotak,
Menjerit di antara tepuk tangan para pejalan tirani
Tragedi kemakhlukan.

Ada sebuah titik terang
Melebar menjadi sebuah garis.

Membagi kota menjadi dua warna.

Hitam.
Putih.

Garis itulah daerah perbatasan.
Tempat yang pernah aku diami.
Tempat yang kemudian harus ku putuskan.
Kita, suatu saat akan berada dalam derah perbatasan

Antara hidup dan mati.
Cinta dan benci.
Pertemuan dan perpisahan.

Hitam atau putih.
Membunuh atau dibunuh.
Menang atau kalah.
Kanan atau kiri.

Kita akan berada dalam derah perbatasan...

Cahaya akan datang di hari kemudian
Melewati daerah perbatasan
Cahaya yang menyilaukan mata para pejalan tirani
Hingga mata mereka satu-satunya buta.

Pelukan hangat akan tiba di waktu kemudian
Melewati daerah perbatasan
Pelukan yang membebaskan jiwa beku para tawanan
Pelukan yang menghangatkan pikiran bodoh para awam
Pelukan yang menyatu-utuhkan semua.

Tangan-tangan adil akan datang.
Menghukum setimpal tangan-tangan kelaliman.
Memotong jemari kefasikan.
Garis akan tegak di segala penjuru.
Damai sedamai-damainya.

Sebuah cerita bahagia.
Do’a kami yang di daerah perbatasan.

Semangat kami, yang bersiap siaga di daerah perbatasan.

Demi kisah bahagia generasi masa depan.

Sebuah cerita bahagia,
Dari do’a dan kesabaran kami di daerah perbatasan.

Malaikat membawaku turun kembali.
Aku terbangun dari mimpi.

Dia memang sudah sepatutnya menjadi Raja atas segala
Tidak seperti saat ini.

End.

0 komentar:

Posting Komentar

silakan beri komentar, kritik, atau saran.

Entri Populer

"Sabar dan Jalanin aja Jef.."

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...