Mei 2012, hari kesembilan.
Di sebuah traffic light di dekat rumah sakit kota domisiliku.
Matahari sudah mendekati waktunya dia akan tertidur, lampu-lampu kota mulai bersinar perlahan menggantikan lembayung senja yang sebentar lagi akan beranjak pergi. Jalan-jalan masih ramai, walau malam sebentar lagi akan datang. Saat-saat inilah, aku melihat wajah-wajah kecil di perempatan itu. Wajah-wajah polos yang disulap menjadi robot-robot oleh pihak-pihak yang ……
Wajah-wajah kecil yang menjadi sebuah ironi, mengingat di negeri ini sangat kaya. Terhenyak nuraniku, melihat sebuah ironi yang seharusnya tak ada. Buram semua kebijakan orang pilihan manusia, entah kenapa seolah-olah mereka-mereka ini tak peduli kepada wajah-wajah itu.
Deru-deru mesin mobil bercampur debu, menjadi aroma jalanan yang membusukkan hati. Ku dengar sumpah serapah manusia terhadap pragmatis jalanan, ku dengar bisikan fitnahan manusia terhadap anomali jalanan. Deru-deru debu itu menyisakan kesempatan bagi wajah-wajah itu, debu-debu yang dia usapkan ke sekujur tubuhnya menjadi harapan agar dia diberi secarik permata . ku lihat raut memelas tergambar di wajahnya, terbersit tanya di hatiku, “apakah nasibnya akan berubah setelah aku memberinya dua lembar, tiga lembar atau bahkan sepuluh lembar?.
Lampu traffic light menunjukkan warna merah saat aku hampir mencapai wajah itu, serentak mereka menghampiri mobil-mobil yang berhenti. Yang sebagian besar pemiliknya melambaikan tangan, atau bahkan menutup kaca mobilnya. Aku melihatnya jelas. Wajah-wajah polos yang memelas, bayi-bayi yang tumbuh digendong ibunya di jalanan, dan juga sesosok wajah kecil perempuan mendekatiku. Sesaat setan menuntunku menutup kaca helmku.
Lampu traffic light makin mendekati hijau, wajah itu masih saja menungguku. Membuka kaca helm dan memberinya secarik permata. Nuraniku menuntunku kepada skenario yang wajah itu harapkan, aku membuka kaca helm dan lalu merogoh kantong celanaku, dan ku dapatkan, 200 perak. Aku tertegun, namun lampu traffic light sudah hamper berganti hijau, aku memberikannya kepada wajah itu, dan warna hijau itu pun hadir, aku melangkahkan kendaraanku, samar-samar, di antara deru-deru suara kendaraan yang bercampur debu jalanan ku dengar, suaranya,
“heleh, kok mung rong atus tok?”.
Ada ironi dan kekesalan di hatiku kepada wajah itu.
Dan juga kepada orang pilihan manusia dan juga sistem di negeri ini.



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.