Sabtu, 02 Juni 2012

Dualisme

Kamarku, 30 Mei 2012.

“sebuah jarak terbentang antara kita karena ada ketaksepahaman antara kita. Menjadikan samudra perbedaan yang memisahkan diri kita..”

Hariku baru saja hampir berakhir. Warna-warna jingga cahaya berganti gelap malam penuh bintang. Cahaya menawarkan sebuah hamparan persembahan kepadamu. Kepada kita yang telah berdiam diri di pertemuan kita. Ku dengar detak jantungku, serasa kesendirian ini menjadi perih saat aku membayangkan hal-hal yang di luar logika kala kau tak di sampingku. Entah kenapa kau selalu memulai perpisahan antara kita? Atau sekedar kebisuan yang seharusnya menjadi barang tabu untuk kita miliki. 

Aku merindukanmu lagi. Seperti saat kita menikmati manisnya malam minggu berdua. Di keramaian manusia. Menikmati secangkir es krim yang kita nikmati berdua. Aku tahu, masih ada batas di antara kita.

Sunyi malam semakin menjadi, aku terbaring di kamarku. Ku lihat langit-langit kamar menjadi sebuah video effek yang menceritakan tentangmu. Sering aku membayangkan wajah manismu ketika tertidur. Sering aku bayangkan kita berdua mengarungi samudra. Duduk bersandar di anjungan kapal, menikmati panorama malam penuh bintang dengan semilir lembut angin malam, dan suara semarak gemuruh ombak lautan, lalu kau menyandarkan kepalamu di bahuku. Membelaiku manis, ku rasakan engkau mendekat di hatiku. Namun, ini masih sebatas khayalan. Aku tahu, aku belum bisa memberimu apa-apa. Tak berarti apa-apa.

Detak-detak jam menjadi simfoni malam yang mengantarkanku kepada sebuah mimpi. Dimana ku lihat kau bersandar kepada sosok lain selain aku. Wajah gelap yang menjadikan aku ngeri untuk melihat lanjutan sebuah mimpi tersebut. “akankah kau menjadi milikku kelak?”.

Hari-hari kita menjadi musik yang membisu. Ku tak melihat lagi senyumanmu untukku. Entah kenapa kau menjadi sering marah kepadaku. Kau marah kepadaku di saat aku hampir terjatuh. Di saat seharusnya aku butuh kau sebagai semangatku. Kau mendorongku di garis batas ketiadaan. “akankah kau mengerti? Kenapa aku tak menghubungimu? Kenapa aku menjadi cuek kepadamu?”. Semua yang terjadi pasti ada sebabnya. Dan tak mungkin aku ceritakan kepadamu sekarang, hari ini, atau bahkan besok.  Namun kau memberiku jawaban lain ; “bagimu sebab itu adalah dia. Dia. Dia. Dia. Dan dia lagi..”. padahal, “hanya kau yang aku pikirkan saat ini!”.

Remuk redam. Itu saat aku melihatmu di dunia maya. Ya, dari situlah aku mencium aroma aneh yang pantas aku curigai. Aku bahkan tak tahu, acara apa yang kau rajut bersama temanmu di Saturday itu. Dengan siapa? Dan apa yang terjadi pada hari itu?

Sekarang hadir kebencian di hatiku.

Aku ingin melihat masa dimana semua musik-musik yang mempermainkan alunan hati kita berhenti. Yang kemudian membawaku memeluk keabadian yang tak bisa kau usikkan. Dengan kata-katamu. Dengan sikapmu kepadamu. Dan juga akan segalanya. Pembawaan sederhana di sayap-sayap patah.

Aku tak bisa terbang sekarang. Karena sayap yang kau patahkan menjatuhkan aku.

Tentu, “bagimu aku yang salah..”.



0 komentar:

Posting Komentar

silakan beri komentar, kritik, atau saran.

Entri Populer

"Sabar dan Jalanin aja Jef.."

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...