Senin, 18 Juni 2012

Introvet


Hujan baru saja berhenti turun. Ku lihat cahaya matahari berganti awan gelap yang membawa malam turun di penghujung hari.

Lilin-lilin berpendar menggantikan cahaya matahari yang menghilang. Hawa dingin merasuk jauh ke sumsum tulang. Memelukku dengan dingin beku angin malam. Aku terpana. Tak ada bayangan, karena tak ada cahaya. Hanya ada wajah-wajah gelap. Kisah pilu, tentang cinta, ketidakadilan, kemarahan, keputusasaan, dan perpisahan. Seolah-olah semuanya hanya menjadi penindasan atas sejarah. 

Aku berlari menhampiri rumahku, masih sangat basah tubuhku oleh air hujan. Terdiam aku berdiri di ujung pintu. Ada tulisan di pintuku. “kau adalah diriku”.
Sesuatu kata merasuk ke dalam alam bawah sadarku.

“aku adalah pintu”

“aku  adalah pintu”

“dan aku adalah pintu”.

Lalu aku buka pintu itu dan masuk ke dalam. Ku lihat ada pintu-pintu di sebuah ruang hampa. Tak ada udara. Tak ada wajah-wajah lain selain diriku. Seolah-olah ada ribuan aku di dalam ruangan ini. Perlahan-lahan mereka yang ‘aku’ itu menghilang. Tinggal aku tunggal di dalam ruangan ini.

Hampa.

Aku membuka salah satu pintu di dalam ruangan itu, ada warna berbeda ketika kakiku melangkah perlahan ke dalamnya. Tak ada wajah. Tak ada apa pun, namun aku tahu, semuanya adalah milikku.

Perlahan terdengar suara, “kau adalah diriku”.

Ada apa di balik semua ini?

Aku melangkah masuk jauh ke ruangan, ada pintu lagi. Ada ruangan lagi. Ada pintu lagi. Ada ribuan pintu dalam suatu ruangan di sini. Ketakutan timbul di hatiku. “akankah aku bisa kembali?”. vonis datang kepadaku. Ada suatu bayangan tulisan, “kau adalah diriku..”.

Aku takut. Perubahan merasuk ke dalam otakku. Hatiku meracaukan semuanya. Aku mendengar tangisan, teriakan, tawaan, bisik-bisik, dan aku melihat wajah-wajah menangis, tertawa, bersedih, tersenyum dan juga memelas. Semuanya memekakan telinga, memburamkan pandangan.

Aku pingsan. Dalam mimpiku aku ada dua, dia memberiku sebuah pena. Dia menuliskan lagi, 

“kau adalah diriku..”.

Dan, di hatiku, tergores kalimat : “aku adalah ruang hampa penuh pintu, saat kau masuk ke dalam diriku, kau tak kan bisa mengerti secara utuh diriku. Kau akan berbicara lain dari pemikiranku. Walau pun hanya ruang hampa, namun aku punya warna-warni di ruangan ini..”

Dan saat aku terbangun, ku lihat lilin berpendar terang. Lampu dimatikan oleh seseorang. “dimana aku?”.

Perlahan-lahan ku lihat sebuah lilin membentuk angka menyala, lampu redup perlahan menyala. Lilin itu menampakkan wujudnya, sebuah angka ‘19’. Di bawahnya ada kalimat terang bertuliskan, “selamat ulang tahu ke 19 jefri….”.

Aku terdiam. Siapakah engkau?

Perlahan-lahan suasana menjadi gelap, lilin itu redup lalu kemudian mati. Aku tergoda oleh kantukku, ku dengar samar-samar, “kau adalah diriku..”.

Aku tertidur lagi.

0 komentar:

Posting Komentar

silakan beri komentar, kritik, atau saran.

Entri Populer

"Sabar dan Jalanin aja Jef.."

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...