Ketika aku berbicara tentang hujan. Itu bukan
berarti benar-benar aku menyukai tentang hujan. Bukan menyukai tentang
bagaimana setiap rintiknya menjadi nada-nada romantis yang membasahi bumi.
Ketika
aku bercerita tentang hujan, tidaklah berarti aku mencintai akibat yang
ditimbulkan olehnya. Rasanya sungguh tak mengenakkan jika harus berdiam diri di
suatu tempat sembari menunggu hujan itu selesai dengan segala seluk beluknya
dengan bumi.
Ketika aku memikirkan hujan, bukan artinya jika
aku benar-benar merasakan kedamaian saat dinginnya menerpa. Sungguh, hujan itu
mengingatkanku akan rasanya kesepian. Rasanya memikirkan diri sendiri dari pada
orang lain.
Namun, ketika aku rindu akan hujan....
Itulah kerinduanku kepadamu. Kerinduan akan sebuah
pengecualian dari segala ketidaksukaanku. Kerinduan kepada sesuatu yang tak
bisa dijelaskan.
Karena kaulah hujan itu.
..................
Kaulah yang mengajarkanku untuk menunggu di kala
hujan...
Kaulah yang mengajarkanku tentang damainya bau
tanah yang dibasahi oleh hujan..
Kaulah yang mengajarkanku tentang romantisnya
dingin di kala hujan...
Kaulah Februari...
Yang aku rindukan di bulan Juni.
............................
“Kau dan
aku berjarak empat langkah.... aku dengan kamu terpisah tujuh langkah... kaulah
pemilik enam yang aku rindukan... yang aku harapkan sebagai pelita di gelap
peraduanku....”
Dan kini
aku merindukan hujan itu di bulan Juni.



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.