Selasa, 08 Januari 2013

Menjadi Guru


“Saat SD, aku bahkan tidak berfikir untuk menjadi seorang guru..”

Saat ini, aku duduk di depan nobiku. Entah kenapa, aku menjadi bertanya sendiri, “sebenarnya, sejak kapan aku berfikir untuk menjadi guru?”. Pikiranku melayang jauh, melewati hamparan kejadian yang pernah ku alami. Kembali ke masa saat aku masih TK. Banyak hal agak aku lupa, namun, aku masih ingin nama guruku saat itu, beliau bernama Bu Min. saat TK, aku hanya ingat beberapa yang beliau ajarkan, tentang bernyanyi, tentang mengeja abjad, tentang menyusun permainan. Hanya sedikit yang aku ingat. Namun, aku berterima kasih kepada beliau, karena aku memliki kenangan yang berharga  di sana. Dimana aku di ajari mencari teman, menjadi murid yang potensial, hingga akhirnya aku bisa masuk ke SD favorit di tempatku.

Saat aku kelas 1 SD, aku masih ingat nama guruku, Bu Nur namanya, jadi ketawa sendiri jika mengingat masa lalu, dulu setiap kali akan masuk, ketika Bu Nur sudah terlihat akan masuk kelas, anak-anak selalu bilang, “ono Bu Nur, ono Bu Nur, ono Bu Nur..” (ada Bu Nur, ada Bu Nur, ada Bu Nur) dengan nada nyanyian yang lucu. Kalau di pkir-pikir sekarang, kami dulu nakal banget ya, seperti mengucapkan mantra untuk memanggil guru, hehehehe….

Kelas 2 SD, guruku bernama Bu Endri. Beliau guru yang baik juga. Aku masih ingat jelas satu kata yang beliau ucapkan pada orang tuaku, “Bu, Jefri itu bagus, tapi terlalu kurus dan kecil…”. Apakah saat itu aku terlalu kecil beneran ya? Dan, di kelas ini pula, kali pertama aku suka matematika. Aku masih ingat, ketika dulu sekolah masih dalam pembangunan, kela1-3 berangkat pagi, dan kelas 4-6, berangkat siang. Saat itu, aku salah menangkap informasi, aku menangkapnya aku berangkatnya siang, padahal pagi. Saat itu, di rumah, sambil menunggu jam berangkat, aku mengerjakan soal-soal matematika di buku paket, dan wowow… bisa semua!! Senang sekali rasanya saat itu. Ketika sudah waktunya untuk berangkat, aku ke sekolah. Sampai di sana, jam sekolah sudah hampir habis. Jadi aku Cuma ikut penutupannya saja, hehehe… namun, aku jadi tahu satu hal, bagiku hal yang menyenangkan di pelajaran matematika adalah.. saat kita bisa menyelesaikannya.

Pra kelas 3, kami semua sempat takut, kalau diajar oleh guru kelas 3 yang saat tu. Namanya Pak Asek. Dengar-dengar beliau galak, dan paling ditakuti oleh murid-murid. Beliau sejatinya adalah guru olahraga, namun juga mengajar mata pelajaran lain. Namun, syukurlah.. ada revolusi saat itu, kami tidak jadi diajar oleh pak Asek beliau di rolling  untuk mengajar kelas lain, dan kursi pengajaran kelas 3 diberikan kepada Pak Hartono. Guru yang akan menjadi guruku terlama di SD. Cara pengajaran pak Hartono bagus, kekurangannya adalah seolah-olah ada yang dianakemaskan. Itu kata teman-teman yang (katanya) terpinggirkan. Masih ingat jelas kata-kata pak Hartono, ketika kami tidak bisa menjawab soal, “isi otak kalian itu apa? Jangan-jangan isinya lumpur..”. haduh. Bila itu diucapkan pada murid SMA, mungkin sudah diserang balik,hehehe.. namun, itu diucapkan pada kami. Aku saja tidak mudeng apa maksudnya,hehehe…. Aku juga masih ingat kala hari minggu dulu, kami semua disuruh berangkat ke sekolah, berpakaian bebas, membawa sekop buat….. membangun dan menambal sekolah kami, khususnya kelas kami, kelas 3. Jadi ketawa sendiri kalau ingat itu sekarang. Di kelas inilah prestasiku mulai naik.

Beranjak ke kelas 4, bisa dibilang kami tidak naik kelas, karena ini adalah bedhol kelas. Kalau pemerintah punya program bedhol desa, mungkin sekolahku punya program bedhol kelas. Sehingga satu angkatan diangkut semua lengkap dengan wali kelasnya…. Pak hartono!! Weleh. Ku ingat di kelas ini, kami ada les di sore hari. Namun, kami dibagi menjadi dua kelas, yang pertama adalah kelas yang mengulang pelajaran kelas 3 lagi, dan yang kedua adalah kelas yang mempelajari materi kelas 4 ke depan. Aku ikut kelas yang kedua. Tadinya aku ingin ikut kelas yang pertama, jujur lebih enak kelas  yang pertama, namun, aku juga ingin maju. Ku putuskan ikut kelas pertama. Yang ku suka dari kelas 4 ini, yaitu keseriusan pak Hartono. Beliau mau memberikan les tambahan tanpa dipungut biaya sepeser pun. Padahal guru-guru lain tidak ada yang berfikir sampai segitunya.

Kelas 5, kami tidak diajar lagi oleh pak Hartono. Guru kami kali ini adalah Pak Nardi. Beliau adalah bapak dari salah satu teman kami. Orangnya sibuk, sering pergi. Kami sering hanya disuru mencatat dan mempelajari sendiri. Jadi teringat kata ibuku, “dek kelas 5 itu bakal berat. Karena merupakan transisi ke kelas 6. Belajarlah yang lebih rajin..” . sekarang kalau dipikirkan, mungkin sebabnya ibuku berkata untuk lebih rajin adalah karena.. gurunya sering pergi-pergi,hehehe…. Namun, di sini, sebenarnya Pak Nardi mengajarkan tanggung jawab dan juga.. keberanian. Masih ingat, saat itu pelajaran matematika. Kami diberi soal, dan salah satu disuruh mengerjakan. Beliau menawarkan, namun tidak ada yang berani. Sampai beliau mengancam tidak aka nada istirahat kalau tidak ada yang maju… aku tahu, sebenarnya teman-teman sebenarnya bisa, namun tidak berani. Sampai akhirnya aku yang maju. Dan bisa. Kebanggaan saat itu, lebih dari segalanya,hehehehe…. Satu lagi aku tahu, hal yang menyenangkan saat ada soal adalah saat kita bisa mengerjakannya di depan guru kita.

Kelas 6 SD, lagi-lagi kami diajar oleh Pak Hartono. Ya, bisa dibilang, mungkin kelas kami adalah kelas favorit beliau,hehehe… ada satu yang jelas-jelas ku ingat saat di kelas ini, ialah bahwa aku diberi hukuman gara-gara menghina pak hartono. Walau pun ku kira itu hanya bercanda… pak Hartono, menurutku sangat care kepada siswanya walau kami mengganggap beliau terlalu mencampuri urusan kami. Pernah kami dimarahi gara-gara bermain bola jam 11 siang, padahal saat itu ujian telah usai, dan kami ingin bebas.. namun ku tahu, itu demi kesehatan kami…

SD Kasepuhan 1 pun akhirnya menjadi cerita di hatiku, kini saatnya aku beranjak ke bangku SMP. Dari sekian banyak SMP di Batang, aku memilih SMP N 1 Batang. Awal kelas 1, aku masuk ke kelas 1A, kelas yang katanya favorit, kelas unggulan. Padahal aku berasal dari kasta B saat MOS. Wali kelasku bernama Bu Sahturoh. Bu Sahturoh adalah model guru yang pakem menurutku. Beliau terobsesi kepada kebersihan kelas, pelajaran yang beliau ampu adalah Administrasi pembukuan, atau biasa disebut Skontro. Tidak ada guru yang bisa membuatku istimewa di kelas ini kecuali pak Edi. Ya, Pak Edi adalah model guru stand up comedy. Jujur, ku Cuma mudeng pada guyonannya tapi tidak pada pelajarannya,hehehe.. model guru yang aku suka, kadang aku iri, kenapa ya ada tipe manusia yang bisa menghibur seperti beliau, sedangkan aku?

Kelas 2, lagi-lagi aku masuk kelas unggulan, kelas 2E, dengan wali kelasnya ialah Pak Harjo Widodo. Pak wid adalah tipe-tipe guru beretorika tinggi, model-model ustadz gitulah. Kami sering harus mengikuti pengajian pada akhir pecan, haduh,, ya, disinilah aku ditanamkan nilai-nilai islamiyah. Kalau menurutku, daripada mengajar PPKN, mending pak wid mengajar PAI, hehehe… belum ada guru yang membuatku terkesima selain Pak Edi.

Kelas 3 SMP, adalah masa-masa kejayaanku. Ku masuk kelas 3A. tak ada kelas unggulan di kelas 3, semua anggota 2E dulu di pecah merata ke semua kelas. Di sinilah kali pertama ku merasakan sentuhan tangan dingin Bu wahyu. Beliau adalah tipe guru yang tegas dan serius. Namun, entah kenapa, ditangannya, ku bisa mengerjakan semua soal matematika dengan mudah. Jika ada guru Matematika yang pertama kali ku ucapkan terima kasih, beliaulah orangnya. Ku sering mendapat nilai seratus pada ulangan harian beliau, hingga puncaknya aku mencapai nilai sempurna dalam mapel matematika. Guru lain yang membuatku terkesima adalah Bu Suwastini. Beliau adalah guru Fisika yang tipe soalnya mudah ditebak. Beliau pulalah yang menjadi wali kelas 3A. saran buat semuanya, kalau berurusan dengan Bu guru ini, pastinya akan panjang. Akan di urus sampai ke akar-akarnya,hehehe.. aku juga tak bisa melupakan peran penting Pak Darmaji. Walau pun beliau hanya sebentar mengajar kami karena sakit, namun, karena beliaulah, aku berani memakai kacamata. Mungkin kalau tak ada beliau, aku sudah buta akan ilmu. Kini beliau telah tenang di alam sana.
Meskipun begitu, belum tercipta keinginan di hatiku untuk menjadi guru….

Lulus SMP, ku melanjutkan ke SMA Negeri 1 Batang. Di sini aku bertemu teman-teman baru, guru baru dan juga suasana baru. Kelas X, aku dimasukkan ke kelas X6 dengan wali kelasnya adalah (Alm) Pak Abu Bakar S.Pd. beliau adalah guru olahraga di Smantang. Karakter yang ada beliau adalah keras, itu sudah tergambar dari raut wajahnya, namun beliau sebenarnya amat baik. Terutama dalam menangani keindahan kelas dan taman. Guru lain yang aku sukai di saat ini adalah Bu Widi, beliau mengampu mapel matematika, walau terkesan cuek, entah kenapa, ku bisa paham saat diajarinnya. Guru lain ialah Pak Bagyo, walau Cuma sebentar diajar, namun charisma dan kebijaksanaannya sangat ku kagumi. Walau begitu, mataku juga mulai terbuka dengan adanya guru mapel yang seolah-olah berdagang nilai. Aku tak ingin menceritakannya di sini.

Kelas XI, aku dimasukkan ke kelas yang luar biasa, kelas XI IPA 4. Lagi-lagi disini aku bertemu dengan guru yang berdagang nilai, tak hanya 1, tapi malah 2. Oke, itu sebuah rahasia. Sekarang, hal lain yang luar biasa adalah bahwa di sini dipertemukan dengan wali kelas yang penuh charisma, beliau namanya adalah Ibu Sarweni. Beliau seorang guru non islam, namun punya pendirian dan kebijaksanaan yang kuat. Guru lain yang membuatku menyenangkan mengikuti kelas ialah bu Maryati, beliau adalah guru bahasa Indonesia. Pelajaran ini menjadi penuh canda dan tawa.

Waktu pun berlanjut, hingga akhirnya aku masuk ke kelas XII IPA 1. Disinilah aku kali pertama ingin menjadi guru, itu dimulai dari perkenalanku dengan seorang guru Matematika, bernama Pak Sudwikoratno atau yang lebih sering dipanggil Pak Cuk.  Pak Cuk adalah tipe guru simpel, cerdas, unik dan juga cuek. Namun dibalik semua itu, aku melihat kekuatan katalis dan juga motivasi luar biasa ketika di ajar beliau di dalam diriku. Termasuk keinginanku menjadi guru matematika, mempelajari soal Olimpiade, dan juga konsep matematika. Memang, sudah agak terlambat, namun itu lebih baik daripada tidak.  Akhirnya aku sadar, bahwa aku memang bisa mengerjakan soal, namun, dalam hal konsep, aku masih tertinggal.

Itu yang menjadi kesadaranku ketika masuk UNNES.

Ketika wawancara, satu jawaban kepada pewancara kenapa aku ingin menjadi guru, adalah bahwa aku ingin menanamkan konsep matematika ke dalam diri murid, jadi mereka tak hanya mengerjakan soal dan juga aku ingin menghapus system dagang nilai yang dilakukan oleh guruku di masa terdahulu.

Dan, ketika masa PPL, aku lebih tahu akan keinginanku…
Bahwa di sekolah itu adalah tempat yang menyenangkan, dimana bermain dan belajar (harusnya) bisa bersatu, sungguh menyenangkan melihat anak-anak didik tersenyum bergembira, mungkin ini juga yang dirasakan guruku dulu..

Saat upacara bendera, terngiang masa lalu, dimana dulu aku berdiri di depan sang saka, melihat baju batik hijau PNS, di depanku, sekarang, aku yang berdiri di belakang bendera, sembari melihat wajah anak-anak didikku mengikuti pengibaran sang saka…

“Kalau diingat-ingat, memang selama ini aku telah belajar dari banyak guru, Pak Hartono, Pak Cuk, Bu Sarweni, dan juga yang lainnya, kali ini aku harus mewariskan ilmu yang berharga ini kepada banyak orang, juga kepada murid-muridku. Aku harus berusaha lebih keras dengan segenap kemampuanku, agar tidak malu di hadapan guru-guruku dulu….”


0 komentar:

Posting Komentar

silakan beri komentar, kritik, atau saran.

Entri Populer

"Sabar dan Jalanin aja Jef.."

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...