“Saat
SD, aku bahkan tidak berfikir untuk menjadi seorang guru..”
Saat
ini, aku duduk di depan nobiku. Entah kenapa, aku menjadi bertanya sendiri, “sebenarnya,
sejak kapan aku berfikir untuk menjadi guru?”. Pikiranku melayang jauh,
melewati hamparan kejadian yang pernah ku alami. Kembali ke masa saat aku masih
TK. Banyak hal agak aku lupa, namun, aku masih ingin nama guruku saat itu,
beliau bernama Bu Min. saat TK, aku hanya ingat beberapa yang beliau ajarkan,
tentang bernyanyi, tentang mengeja abjad, tentang menyusun permainan. Hanya
sedikit yang aku ingat. Namun, aku berterima kasih kepada beliau, karena aku
memliki kenangan yang berharga di sana.
Dimana aku di ajari mencari teman, menjadi murid yang potensial, hingga
akhirnya aku bisa masuk ke SD favorit di tempatku.
Saat
aku kelas 1 SD, aku masih ingat nama guruku, Bu Nur namanya, jadi ketawa
sendiri jika mengingat masa lalu, dulu setiap kali akan masuk, ketika Bu Nur
sudah terlihat akan masuk kelas, anak-anak selalu bilang, “ono Bu Nur, ono
Bu Nur, ono Bu Nur..” (ada Bu Nur, ada Bu Nur, ada Bu Nur) dengan nada
nyanyian yang lucu. Kalau di pkir-pikir sekarang, kami dulu nakal banget ya,
seperti mengucapkan mantra untuk memanggil guru, hehehehe….
Kelas
2 SD, guruku bernama Bu Endri. Beliau guru yang baik juga. Aku masih ingat
jelas satu kata yang beliau ucapkan pada orang tuaku, “Bu, Jefri itu bagus,
tapi terlalu kurus dan kecil…”. Apakah saat itu aku terlalu kecil beneran
ya? Dan, di kelas ini pula, kali pertama aku suka matematika. Aku masih ingat,
ketika dulu sekolah masih dalam pembangunan, kela1-3 berangkat pagi, dan kelas
4-6, berangkat siang. Saat itu, aku salah menangkap informasi, aku menangkapnya
aku berangkatnya siang, padahal pagi. Saat itu, di rumah, sambil menunggu jam
berangkat, aku mengerjakan soal-soal matematika di buku paket, dan wowow… bisa
semua!! Senang sekali rasanya saat itu. Ketika sudah waktunya untuk berangkat,
aku ke sekolah. Sampai di sana, jam sekolah sudah hampir habis. Jadi aku Cuma
ikut penutupannya saja, hehehe… namun, aku jadi tahu satu hal, bagiku hal yang
menyenangkan di pelajaran matematika adalah.. saat kita bisa
menyelesaikannya.
Pra
kelas 3, kami semua sempat takut, kalau diajar oleh guru kelas 3 yang saat tu.
Namanya Pak Asek. Dengar-dengar beliau galak, dan paling ditakuti oleh
murid-murid. Beliau sejatinya adalah guru olahraga, namun juga mengajar mata
pelajaran lain. Namun, syukurlah.. ada revolusi saat itu, kami tidak jadi
diajar oleh pak Asek beliau di rolling untuk mengajar kelas lain, dan kursi pengajaran
kelas 3 diberikan kepada Pak Hartono. Guru yang akan menjadi guruku terlama
di SD. Cara pengajaran pak Hartono bagus, kekurangannya adalah seolah-olah
ada yang dianakemaskan. Itu kata teman-teman yang (katanya) terpinggirkan.
Masih ingat jelas kata-kata pak Hartono, ketika kami tidak bisa menjawab soal, “isi
otak kalian itu apa? Jangan-jangan isinya lumpur..”. haduh. Bila itu
diucapkan pada murid SMA, mungkin sudah diserang balik,hehehe.. namun, itu
diucapkan pada kami. Aku saja tidak mudeng apa maksudnya,hehehe…. Aku juga
masih ingat kala hari minggu dulu, kami semua disuruh berangkat ke sekolah,
berpakaian bebas, membawa sekop buat….. membangun dan menambal sekolah kami,
khususnya kelas kami, kelas 3. Jadi ketawa sendiri kalau ingat itu sekarang. Di
kelas inilah prestasiku mulai naik.
Beranjak
ke kelas 4, bisa dibilang kami tidak naik kelas, karena ini adalah bedhol
kelas. Kalau pemerintah punya program bedhol desa, mungkin sekolahku
punya program bedhol kelas. Sehingga satu angkatan diangkut semua
lengkap dengan wali kelasnya…. Pak hartono!! Weleh. Ku ingat di kelas ini, kami
ada les di sore hari. Namun, kami dibagi menjadi dua kelas, yang pertama adalah
kelas yang mengulang pelajaran kelas 3 lagi, dan yang kedua adalah kelas yang
mempelajari materi kelas 4 ke depan. Aku ikut kelas yang kedua. Tadinya aku
ingin ikut kelas yang pertama, jujur lebih enak kelas yang pertama, namun, aku juga ingin maju. Ku
putuskan ikut kelas pertama. Yang ku suka dari kelas 4 ini, yaitu keseriusan
pak Hartono. Beliau mau memberikan les tambahan tanpa dipungut biaya sepeser
pun. Padahal guru-guru lain tidak ada yang berfikir sampai segitunya.
Kelas
5, kami tidak diajar lagi oleh pak Hartono. Guru kami kali ini adalah Pak
Nardi. Beliau adalah bapak dari salah satu teman kami. Orangnya sibuk, sering
pergi. Kami sering hanya disuru mencatat dan mempelajari sendiri. Jadi teringat
kata ibuku, “dek kelas 5 itu bakal berat. Karena merupakan transisi ke kelas
6. Belajarlah yang lebih rajin..” . sekarang kalau dipikirkan, mungkin
sebabnya ibuku berkata untuk lebih rajin adalah karena.. gurunya sering
pergi-pergi,hehehe…. Namun, di sini, sebenarnya Pak Nardi mengajarkan tanggung
jawab dan juga.. keberanian. Masih ingat, saat itu pelajaran matematika. Kami
diberi soal, dan salah satu disuruh mengerjakan. Beliau menawarkan, namun tidak
ada yang berani. Sampai beliau mengancam tidak aka nada istirahat kalau tidak
ada yang maju… aku tahu, sebenarnya teman-teman sebenarnya bisa, namun tidak
berani. Sampai akhirnya aku yang maju. Dan bisa. Kebanggaan saat itu, lebih
dari segalanya,hehehehe…. Satu lagi aku tahu, hal yang menyenangkan saat
ada soal adalah saat kita bisa mengerjakannya di depan guru kita.
Kelas
6 SD, lagi-lagi kami diajar oleh Pak Hartono. Ya, bisa dibilang, mungkin kelas
kami adalah kelas favorit beliau,hehehe… ada satu yang jelas-jelas ku ingat
saat di kelas ini, ialah bahwa aku diberi hukuman gara-gara menghina pak
hartono. Walau pun ku kira itu hanya bercanda… pak Hartono, menurutku sangat care
kepada siswanya walau kami mengganggap beliau terlalu mencampuri urusan
kami. Pernah kami dimarahi gara-gara bermain bola jam 11 siang, padahal saat
itu ujian telah usai, dan kami ingin bebas.. namun ku tahu, itu demi kesehatan
kami…
SD
Kasepuhan 1 pun akhirnya menjadi cerita di hatiku, kini saatnya aku beranjak ke
bangku SMP. Dari sekian banyak SMP di Batang, aku memilih SMP N 1 Batang. Awal
kelas 1, aku masuk ke kelas 1A, kelas yang katanya favorit, kelas unggulan.
Padahal aku berasal dari kasta B saat MOS. Wali kelasku bernama Bu Sahturoh. Bu
Sahturoh adalah model guru yang pakem menurutku. Beliau terobsesi kepada
kebersihan kelas, pelajaran yang beliau ampu adalah Administrasi pembukuan,
atau biasa disebut Skontro. Tidak ada guru yang bisa membuatku istimewa di
kelas ini kecuali pak Edi. Ya, Pak Edi adalah model guru stand up comedy. Jujur,
ku Cuma mudeng pada guyonannya tapi tidak pada pelajarannya,hehehe.. model guru
yang aku suka, kadang aku iri, kenapa ya ada tipe manusia yang bisa menghibur
seperti beliau, sedangkan aku?
Kelas
2, lagi-lagi aku masuk kelas unggulan, kelas 2E, dengan wali kelasnya ialah Pak
Harjo Widodo. Pak wid adalah tipe-tipe guru beretorika tinggi, model-model
ustadz gitulah. Kami sering harus mengikuti pengajian pada akhir pecan, haduh,,
ya, disinilah aku ditanamkan nilai-nilai islamiyah. Kalau menurutku, daripada
mengajar PPKN, mending pak wid mengajar PAI, hehehe… belum ada guru yang
membuatku terkesima selain Pak Edi.
Kelas
3 SMP, adalah masa-masa kejayaanku. Ku masuk kelas 3A. tak ada kelas unggulan
di kelas 3, semua anggota 2E dulu di pecah merata ke semua kelas. Di sinilah
kali pertama ku merasakan sentuhan tangan dingin Bu wahyu. Beliau adalah tipe
guru yang tegas dan serius. Namun, entah kenapa, ditangannya, ku bisa
mengerjakan semua soal matematika dengan mudah. Jika ada guru Matematika yang
pertama kali ku ucapkan terima kasih, beliaulah orangnya. Ku sering mendapat
nilai seratus pada ulangan harian beliau, hingga puncaknya aku mencapai nilai
sempurna dalam mapel matematika. Guru lain yang membuatku terkesima adalah Bu
Suwastini. Beliau adalah guru Fisika yang tipe soalnya mudah ditebak. Beliau
pulalah yang menjadi wali kelas 3A. saran buat semuanya, kalau berurusan dengan
Bu guru ini, pastinya akan panjang. Akan di urus sampai ke akar-akarnya,hehehe..
aku juga tak bisa melupakan peran penting Pak Darmaji. Walau pun beliau hanya
sebentar mengajar kami karena sakit, namun, karena beliaulah, aku berani
memakai kacamata. Mungkin kalau tak ada beliau, aku sudah buta akan ilmu. Kini
beliau telah tenang di alam sana.
Meskipun
begitu, belum tercipta keinginan di hatiku untuk menjadi guru….
Lulus
SMP, ku melanjutkan ke SMA Negeri 1 Batang. Di sini aku bertemu teman-teman
baru, guru baru dan juga suasana baru. Kelas X, aku dimasukkan ke kelas X6
dengan wali kelasnya adalah (Alm) Pak Abu Bakar S.Pd. beliau adalah guru
olahraga di Smantang. Karakter yang ada beliau adalah keras, itu sudah
tergambar dari raut wajahnya, namun beliau sebenarnya amat baik. Terutama dalam
menangani keindahan kelas dan taman. Guru lain yang aku sukai di saat ini
adalah Bu Widi, beliau mengampu mapel matematika, walau terkesan cuek, entah
kenapa, ku bisa paham saat diajarinnya. Guru lain ialah Pak Bagyo, walau Cuma
sebentar diajar, namun charisma dan kebijaksanaannya sangat ku kagumi. Walau
begitu, mataku juga mulai terbuka dengan adanya guru mapel yang seolah-olah
berdagang nilai. Aku tak ingin menceritakannya di sini.
Kelas
XI, aku dimasukkan ke kelas yang luar biasa, kelas XI IPA 4. Lagi-lagi disini
aku bertemu dengan guru yang berdagang nilai, tak hanya 1, tapi malah 2. Oke,
itu sebuah rahasia. Sekarang, hal lain yang luar biasa adalah bahwa di sini
dipertemukan dengan wali kelas yang penuh charisma, beliau namanya adalah Ibu
Sarweni. Beliau seorang guru non islam, namun punya pendirian dan kebijaksanaan
yang kuat. Guru lain yang membuatku menyenangkan mengikuti kelas ialah bu
Maryati, beliau adalah guru bahasa Indonesia. Pelajaran ini menjadi penuh canda
dan tawa.
Waktu
pun berlanjut, hingga akhirnya aku masuk ke kelas XII IPA 1. Disinilah aku kali
pertama ingin menjadi guru, itu dimulai dari perkenalanku dengan seorang guru
Matematika, bernama Pak Sudwikoratno atau yang lebih sering dipanggil Pak
Cuk. Pak Cuk adalah tipe guru simpel,
cerdas, unik dan juga cuek. Namun dibalik semua itu, aku melihat kekuatan
katalis dan juga motivasi luar biasa ketika di ajar beliau di dalam diriku.
Termasuk keinginanku menjadi guru matematika, mempelajari soal Olimpiade, dan
juga konsep matematika. Memang, sudah agak terlambat, namun itu lebih baik
daripada tidak. Akhirnya aku sadar,
bahwa aku memang bisa mengerjakan soal, namun, dalam hal konsep, aku masih
tertinggal.
Itu
yang menjadi kesadaranku ketika masuk UNNES.
Ketika
wawancara, satu jawaban kepada pewancara kenapa aku ingin menjadi guru, adalah
bahwa aku ingin menanamkan konsep matematika ke dalam diri murid, jadi mereka
tak hanya mengerjakan soal dan juga aku ingin menghapus system dagang nilai
yang dilakukan oleh guruku di masa terdahulu.
Dan,
ketika masa PPL, aku lebih tahu akan keinginanku…
Bahwa
di sekolah itu adalah tempat yang menyenangkan, dimana bermain dan belajar
(harusnya) bisa bersatu, sungguh menyenangkan melihat anak-anak didik tersenyum
bergembira, mungkin ini juga yang dirasakan guruku dulu..
Saat
upacara bendera, terngiang masa lalu, dimana dulu aku berdiri di depan sang
saka, melihat baju batik hijau PNS, di depanku, sekarang, aku yang berdiri di
belakang bendera, sembari melihat wajah anak-anak didikku mengikuti pengibaran
sang saka…
“Kalau
diingat-ingat, memang selama ini aku telah belajar dari banyak guru, Pak
Hartono, Pak Cuk, Bu Sarweni, dan juga yang lainnya, kali ini aku harus
mewariskan ilmu yang berharga ini kepada banyak orang, juga kepada
murid-muridku. Aku harus berusaha lebih keras dengan segenap kemampuanku, agar
tidak malu di hadapan guru-guruku dulu….”


0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.