Jumat, 13 Juli 2012

Dalam Kardus

Prolog : “ketika hati ini tetapkan pilihan… adakah kuasa diri ‘tuk coba abaikan…”

Dalam do’aku, aku ingin hidup di hatimu. Kala kesepian melandamu, kau masih memikirkanku, kala sunyi hadir di harimu, kau masih membayangkanku. Kenangan-kenangan singkat antara kita berdua, menjadi buku yang harus dimasukkan dalam kardus. Ke dalam kotak yang mungkin tak akan dibuka lagi.

Olehku, atau pun olehmu.

Kau, memvonis garis perpisahan di antara kita. Semudah itu kau ucapkan? Sebuah kata yang sangat berat aku terima kenyataannya.

Dalam diamku, aku ingin bersamamu dalam setiap hembusan nafasku. Menikmati lagi sisa hidup yang ku harapkan bersamamu. Namun, bahasa yang kau katakana padaku, adalah perpisahan. Seolah-olah apa yang terjadi di antara kita, bukan apa-apa untukmu. Apa yang pernah kita perjuangkan? Apa yang kita katakan? Apa yang pernah kita sayangkan? Menjadi album yang harus di masukkan dalam kardus. Ke dalam kotak yang mungkin tak kan di buka lagi.

Olehku, atau juga olehmu.

Dalam kesepianku nanti, aku akan sesalkan jarak antara kita. Yang membuat kita jauh seperti ini. Aku akan sesalkan waktu, yang membuat kita tak punya waktu untuk bertemu. Bukan kau yang aku sesalkan, kaulah dimensi di ruang hampaku. Kaulah detak detik di perjalanan waktuku.

“Selalu ku katakan engkaulah yang terjaga dalam setiap langkah, kau tetap milikku…”

Dalam kesendirianmu, ku harap kau tak menangis lagi. Bukan karena kesedihan akan aku, karena kau telah memilih mengakhiri musim ini tanpaku.  Tanpa canda tawa, tanpa pertemuan di ruangan kita. Tanpa ucapan sampai juga di padang nirwana. Karena kau telah melepas musim tanpaku.

Dalam hatiku, perasaan sayangku ini tak kan pernah tahu. Gejolak cinta ini tak kan pernah kau mengerti. Karena aku tak bisa menjelaskannya kepadamu. Karena selalu ada keraguan di hatimu, tentang apa yang aku perjuangkan untukmu. Tentang apa yang aku ceritakan padamu. Hanya alam semesta yang akan tahu.

Dan, cerita ini akan masuk kardus. Menjadi sebuah secarik kertas yang tak akan lagi kau baca. Mungkin akan ku temukan di antara kardus-kardus yang akan kau buang. Dan, memang aku tak bisa menjelaskan perasaan yang aku rasakan kepadamu.

Kesunyian ini, menjadi bungkus kardus dari cerita yang terserak dalam sebuah album, yang di dalamnya ada potret wajahmu, wajah kita, canda tawa kita, kesedihan kita, pertengkaran kita, kado yang tercipta antara kita dan semuanya, adalah kenangan manis yang kini harus di bungkus kardus, dan di simpan. Mungkin tak kan pernah di buka lagi.

Olehmu, atau juga mungkin olehku.

…………

“Aku tahu, kau marah banget sama aku. Mungkin juga sudah tak ingin berteman  lagi denganku. Aku hanya ingin minta maaf, aku tak berharap lebih kok, semester ini juga telah usai, dan mungkin semester besok kita juga bakal jarang banget bertemu. Aku tak ingin menambah musuh, maaf dari kemarin aku sudah buat kamu jengkel terus, sudah menyusahkan kamu terus, sekarang Insya Allah tidak akan lagi. Ku berharap semoga kita bisa tetep berteman. Maaf buat semua salahku.”

……

Sebuah bahasa halus dari permintaan perpisahan. Lupakah kau aku suka kau ganggu? atau kau sengaja agar kita memang berpisah musim depan?

……

Epilog : “meski waktu datang, dan berlalu… kau tak ‘kan lengkang dan terganti.. selamanya… selamanya…”

1 komentar:

Anonim mengatakan...

terharu,,,
cinta memang kadang menyakitkan yach.

Posting Komentar

silakan beri komentar, kritik, atau saran.

Entri Populer

"Sabar dan Jalanin aja Jef.."

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...