Prolog : “kala menjadi manusia dewasa, menjadi makhluk yang termakan usia, hal yang paling manis adalah cerita, kenangan-kenangan kala kecil, kala raga ini masih muda dan semuanya tentang masa lalu menjadi sangat manis untuk diingat kembali..”
Begitu banyak cerita yang ada di dalam kehidupanku, tentang masa kecilku. Ya, yang terindah dan paling menyenangkan di segala masa ini, ialah masa-masa anak-anak. Masa dimana kita bisa bermain, belajar polos tanpa beban apa pun.
Seperti pun bulan Ramadhan ini, kala aku pulang ke Batang, kampung halamanku, aku menemukan sejuta kenangan yang bisa aku ingat kembali. sejuta kenangan dari sederet rentetan manis cerita di masa lalu. Kenangan kala shalat di masjid ini. Masjid Baitul Hidayah.
Jauh sekali ingatanku berlabuh, ke sebuah pelabuhan memory saat pertama kali aku shalat di sini. Memang tak terlalu jelas, kapan dan saat waktu apa, namun, aku masih melihat bayangan wajah kecilku di sini, bergembira di tempat ini.
Sebenarnya, sebelum aku shalat di sini, aku adalah jama’ah mushola yang lainnya, mushola yang aku sebut sebagai “langgar kidul” dan masjid ini, aku dulu sebut sebagai “langgar lor”. Dulu, kalau tidak salah sejak pertama kali lahir, aku lebih dikenalkan untuk shalat di langgar kidul, kenapa? Karena, aku ikut kakekku setiap kali beliau shalat. Beliau matanya tidak bisa melihat, namun bukan bawaan sejak lahir, karena kecelakaan yang membuat beliau seperti itu. Setiap kali beliau shalat, selalu mengajakku. Nmaun, jujur, aku kurang paham makna shalat, hehehe.. maklum, masih kecil. Ya unik, adalah walau kakekku shalat di langgar kidul, namun, nenekku malah shalat di langgar lor.
Ada suatu yang masih ku kenang di langgar ini, ialah kala aku ditegur oleh temanku karena aku shalat sambil nyanyi-nyanyi, ada juga kala aku kehilangan sandal karena selokannya banjir, atau kala Cuma main main air saat yang lainnya shalat tarawih. Dan, ternyata, bapakku, ibuku dan mbakku juga shalat di sini.
Waktu berjalan tanpa aku sadari, aku mulai sadar akan dunia. Aku merasa agak tak betah di musholla ini, kenapa? Karena, di langgar kidul, semua temanku yang ada di sini bukanlah teman bermainku saat siang hari. Ya, kebanyakan anak-anak di sekitar rumahku shalat di langgar lor, sedangkan di langgar kidul kebanyakan adalah anak-anak dari kampung barat, aku merasa agak terasing di sini. Mereka sering bercerita tentang permainan atau kegiatan mereka kala siang hari, sedangkan aku sama sekali tak tahu, yah, karena aku pada siang hari tak ikut bermain dengan mereka.
Sampai pada akhirnya aku ikut temanku untuk pindah jama’ah, keputusan itu juga karena kakekku sering sakit sehingga beliau tidak bisa ke langgar. Akhirnya, aku pindah. Saat tiba di langgar lor, kesan yang pertama muncul adalah “serem”. Ya, karena tempat wudhunya saja masih berlumut, dan gelap juga. Namun, ada yang membuatku betah di sini, ada teman sepermainanku, seperti tadin, wondo, ardi, I’is, aldi dan lainnya dan juga teman sdku, semacam rini, tiwik dan novi. Ya, bila di langgar kidul aku hanya punya teman sd iko, namun, di sini lebih banyak. Di sini pulalah aku kali pertama katham turutan (juz’ama), bersama tadin, aku di ‘wisuda’, hehehe.. tadin ini teman sehatiku kala mengaji, kami punya start yang berbeda, namun akhirnya pada surat yang sama dipertengahan dan akhirnya di ‘wisuda’ bareng…. Dibandingkan dengan saat di langgar kidul, untuk mengaji, aku harus pindah ke tempat guru ngaji dulu. Lagi pula aku harus mengulang dari alif ba’ tak lagi….
Di langgar inilah kali pertama aku ikut lek-lekan buat bangunin orang sahur. Masih ingat kali pertama aku ikut, aku merasa takut, hehehe.. ya iyalah, kami tidur di langgar lagi pula langgar juganya sepi. Namun, ya, karena aku dan tadin memang pingin ikut, ya kami menurut saja. Dan, ternyata tak seseram bayanganku.
Ada juga saat kami menunda mengaji untuk menonton serial televise kapten Tsubasa, ya, akhirnya kami justru tidak jadi ngaji karena keburu isya,hehehe….
Atau, saat mencari jangkrik kala Bulan ramadhan, ya, entah kenapa saat itu banyak sekali jangkrik di sana. Kami mencarinya sampai buat kandang di masjid..
Lalu, saat bermain tebak nama saat khutbah jum’at, sampai dimarahi oleh takmirnya…
Kemudian, saat dorong-dorongan kala shalat tarawih, sampai dimarahi oleh imam shalatnya…
Atau saat aku mengaji Al-Qur’an, yang sampai saat ini belum juga khatam,hehehehe…
Dan banyak sekali kenangan-kenangan di sini…. Semuanya terasa manis kala kini aku berdiri di tiang utara langgar ini, mengenang segalanya.. aku melihat wajah-wajah kecil yang bercanda itu bagaikan diriku, diri tadin, dan juga teman-teman di masa lalu. Ada rasa kehilangan akan semuanya itu…
Masjid ini, kini telah banyak berubah, dan istilah langgar lor tak lagi dipakai, karena wujudnya sudah lebih cocok bila disebut masjid, daripada langgar. Namun, dekorasi kenangannya tak kan berubah di hatiku, perasaan damai dan tenang saat bersama kalian semua di masa lalu, adalah cahaya bintang di gelap malam.
……….
Epilog : “kini, aku merasa sepi di sini, tidak seperti dulu kala aku sebelum shalat maghrib langung ke sini.. kini bahkan aku menunggu iqomah isya selesao untuk datang ke tempat ini lagi….”



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.