Prolog : “……orang yang punya hati tegar tak mungkin bunuh diri walau menghadapi kesulitan seperti apa pun…”
Sebuah kisah.
Ini adalah cerita dari serial detektif kindaichi jilid ke 10, yang berjudul : “Pembunuhan di Sekolah Gantung Leher”. Awal dari cerita bermula dari Kindaichi-juga Miyuki-yang mengikuti tes di Colegge yang akrab disebut Sekolah Gantung Leher. Ya, karena di sekolah ini banyak yang mati gantung diri karena stress menghadapi ujian. Sayang, awal kedatangan mereka disambut kurang baik oleh ketidaknyamanan suasana, terjadi tragedi ‘darah ayam’ yang mengotori lembar jawaban tes masuk college.
Dan itu jadi awal dari sebuah kasus yang sebenarnya berasal dari dendam di masa lalu.
Setelah itu, kemudian terjadilah pembunuhan berantai yang memakan korban anggota geng naoko, merekalah yaichi, naoko dan nobuyuki. Di sini, yang menjadi kambing hitam karena ketidakadaan alibi adalah bu Yoko, guru mereka. Dalam proses pemecahan kasus, bu yoko mengatakan sesuatu yang bijak, tentang mitsuru, muridnya yang dulu, ialah yang dia katakan :
”..Mereka tidak tahan dengan tekanan berat, sehingga putus asa dan memilih mati. Tapi Miyuki, seberat apapun penderitaan yang dihadapi, orang yang punya pendorong semangat tak akan bunuh diri, seandainya ada seseorang yang menyadari lebih awal tentang anak-anak ini, pasti tak akan jadi begini.. tapi… kami tak bisa melakukannya... walaupun mereka ada di depan mata kita,..”
Singkat cerita kasus pun terkuak kebenarannya dengan memvonis bu Yoko sebagai pelaku dari semua pembunuhan ini., dan di pembeberan kasus ini, ia mengatakan kepada kindaichi, “Kindaichi, kau ingat hal yang pernah ku katakan padamu? Orang yang punya hati yang tegar tak mungkin bunuh diri walau menghadapi kesulitan seperti apa pun… suatu hari dia tiba-tiba memilih cara mati seperti itu, aku merasa itu akibat aku tidak benar-benar menjadi pendukung semangatnya….”
Dan, memang mitsuru dibunuh, bukan bunuh diri. Ada beberapa yang mengganjal pikiranku saat itu, kadang aku bertanya, “apakah seorang dokter akan menangis ketika pasiennya meninggal? Apakah seorang guru akan meneteskan air mata saat anak didiknya gagal dalam ujian? Apakah seorang pemimpin akan bersedih ketika bawahannya sedang susah?”. Kurasa tidak. Aku tak pernah melihat dokter menangis ketika pasiennya menangis. Aku tak pernah melihat guru bercucuran air mata ketika siswanya duduk merenung menyesali kegagalannya lulus ujian, dan aku tak pernah melihat seorang pemimpin bersedih ketika aku sedang susah. Ya, tak pernah.
Tapi, ketika membaca cerita ini, aku melihat visual dari seorang guru yang menangis ketika siswanya susah. Memang itu karena cinta, dan memang juga, tak ada cerita seperti itu di kehidupan nyata. Namun, ada satu yang ada di kehidupan nyata, ialah bahwa seorang yang punya pendorong semangat tak kan bunuh diri.
Seorang pendorong semangat yang bisa menjadi oasis di tengah dahaga padang pasir kehidupan. Mitsuru hampir bunuh diri ketika dia diejek, siswa-siswa di sekolah itu pun banyak yang bunuh diri karena ditekan dan diejek oleh guru, orang tua, dan juga teman-temannya. Tidak semua manusia bisa bangkit dengan di ejek, disentil terus-terusan. Tak semua. Ketika hati dalam kekacauan, tak semua bisa menerima itu. Tak semua bawahan bisa semangat ketika disindir dan diejek oleh pimpinannya.
Aku kadang bertanya, bukankah kita punya macam-macam pendekatan untuk lebih mengenal manusia. Banyak jalan untuk membangkitkan hati manusia, namun kenapa orang yang lebih tinggi selalu menyindir orang yang lebih rendah? Bukan memberikan semangat?
Kebanyakan orang hanya sekedar ingin tahu masalah seseorang, terkadang hanya bertanya, ada masalah apa? Setelah itu dia lupa. Atau hanya ingat untuk sekedar basa-basi, namun sesungguhnya orang yang mau tahu, adalah dia mencari tahu, tentang masalah yang dihadapi oleh rekannya, walaupun rekannya tidak cerita. Aku merindukan orang yang seperti itu. Sayang, orang baik pun tak seperti itu.
Bisa saja semua berakhir seperti ramalanku, tak ada dokter yang menangis ketika pasiennya mati, tak ada guru yang meneteskan air mata kala siswanya gagal, dan tak ada kesedihan dari seorang pemimpin ketika bawahannya susah. Memang orang tinggi cenderung seperti itu. Setidaknya, aku tak ingin mati gantung diri.
Epilog : ”Mitsuru sengaja menyembunyikan wajah ibu yang sebenarnya di lukisan ini, dia ingin agar bila suatu saat bisa bersama, tanpa ada halangan dari siapapun, dia ingin agar ibu tetap jadi yoko asano yang lembut, seperti dalam lukisan ini, jadi janganlah berfikir untuk bunuh diri…(Detektif Kindaichi seri 10, Pembunuhan di sekolah gantung leher) ”



0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.