Sabtu, 07 Juli 2012

Satu

“Aku ini adalah dirimu, cinta ini adalah cintamu..
Aku ini adalah dirimu, jiwa ini adalah jiwamu..
Rindu ini adalah rindumu..
Darah ini adalah darahmu…”

Aku terbentuk dari sebuah gelap malam tanpa bintang. Di kala bintang-bintang enggan menampakkan wujudnya. Di kala sinar rembulan menjadi sunyi oleh terangnya. Malam-malam yang menjadi sebuah kisah romantis picisan,kisah yang menumbuhkan duri di hati tiap-tiap manusia.

Aku terlahir dari kebohongan suatu sejarah, yang menyamarkan kejahatan di tembok ketidaktahuan. Tebing kebodohan. Yang kemudian menjadi wacana di setiap generasiku, generasimu dan juga generasi mereka. Bahwa sejarah ini menjadi sebuah baju merah yang samar-samar.

Aku tercipta dari sebuah kekuatan do’a. dari sebuah nafas yang hampir hilang. Dari rasa sayang seorang wanita yang melekatkan setiap do’anya, setiap usahanya, setiap cinta dan kasih sayangnya di detak jantungku, sehingga aku bisa hidup, di jalur nadiku, tercipta aneka rasa, cinta, kasih sayang, benci, bohong, amarah, emosi, sabar, hingga aku bisa menikmati dunia, dan di jiwaku, terpartisi dalam hitam, putih hingga aku selalu mengharapkan cinta dan kasih sayang di kehidupanku.

Dalam kehidupanku, ada wajah-wajah senyap sepi tak berdasar membenahkan kesepian. Seolah-olah kini menjadi sebuah susunan yang rapi antara cinta, benci, jiwa, raga dan rindu yang kemudian mengalir di setiap tetes darah di tubuhku. Itulah engkau.

Engkau memberiku candu akan sebuah kenikmatan semu, tentang hampa yang kemudian akan datang melekat di jiwaku. Tak ada senyum malam ini, semuanya sudah tertidur. Dan aku bebas menuliskan kalimat-kalimat tentang senyap suasana ini.

Baik itu tentang kisah burukku kepadamu, atau pun perasaan sukaku kepadamu. Namun, ku tahu, dalam nama yang lebih besar, kau berkuasa atas diriku. Kau berikan aku keajaiban, kekuatan merasakan hal-hal yang akan datang, sayang, aku tak bisa menceritakan kepada manusia-manusia lainnya.

Aku tak ingin membuatmu merubah perjanjian yang telah diciptakan.

…………

“Dengan tanganmu aku meyentuh..
Dengan kakimu aku berjalan..”

………………

Aku adalah sebuah huruf dari sebuah nama yang sangat besar. Sebuah nama yang diperjuangkan di dunia ini. Sebuah nama yang sangat di cintai oleh seluruh manusia di dunia ini. Sebuah nama yang diagungkan kebesarannya. Ini menjadi sebuah analogi dari penciptaanku. Aku diciptakan satu, dan hanya satu di dunia ini. Yang menjadi awal dari sebuah nama, yang berdiri sendiri dari nama itu. Tanpa penggandeng. Tanpa  ada yang menyentuhnya.

Aku sadar akan arti nama itu. Dimana aku selalu berusaha sendiri, dan menjadi ‘awalan bunyi’ bagi suatu susunan itu. Dimana ‘bunyi’ susunan itu tak seperti seharusnya tanpa nama itu. Dimana nama itu tak bisa dipasangkan, karena inilah sifat dari nama itu.

Aku tersadar, sebab aku kembali dalam kesenyapan ini., karena sebuah nama itu.

………………

Dengan matamu aku memandang,
Dengan telingamu aku mendengar,
Dengan lidahmu aku bicara,
Dengan hatimu aku merasa….”

………………..

Aku sudah ditakdirkan memiliki nama itu.
Satu. Sembilan. Sembilan. Satu.
Aku dilahirkan pada awal satu, di akhiri satu dan juga berjumlah Sembilan.
Dan sekali lagi, Satu. Sembilan.
Menjadi suatu refleksi, Sembilan. Satu.
Dan, aku sudah memenuhi takdir untuk itu.

………………

Aku terlahir ingin merasakan cinta (sesungguhnya), persahabatan (sesungguhnya), kasih sayang (sesungguhnya) dan kebahagiaan (sesungguhnya).

Terima kasih Bunda.
……………..

Aku tercipta dari sebuah nama yang sangat besar. Dimana dari nama itu, ada namaku. Yang tak bisa digabungkan karena suatu kaidah yang berlaku. Namun, nama itu menjadi ‘awal dari sebuah bunyi’, dalam kaidah lain menjadi sebuah perpanjangan dari sebuah seruan. Sebuah kaidah yang mengistimewakan sifatnya.

Namun, aku tahu. Di balik kekuatan nama itu, aku masih milikmu. Aku masih ada dalam genggaman tanganmu. Karena Kau memang pantas untuk dipuja selamanya.

…………………

“Tak ada yang lain selain diri-Mu yang selalu ku puja.
Ku sebut nama-Mu di setiap hembusan nafasku..
Ku sebut nama-Mu..
Ku sebut nama-Mu….”

………..

Aku menyebut nama-Mu.
Begitu pun mereka.

0 komentar:

Posting Komentar

silakan beri komentar, kritik, atau saran.

Entri Populer

"Sabar dan Jalanin aja Jef.."

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...