Prolog : “Bila ada satu kalimat sederhana yang ingin ku ucapkan kepadamu, ialah aku sayang padamu selamanya ibuku….”
Hari ibu. Baru saja berlalu dengan semaraknya warna di berbagai media. Deru-deru yang menghiasi ponsel, Koran, internet dan berbagai media lainnya.
Ibu, adalah sesosok malaikat kecil yang diturunkan kepada kita. Walau dia tiada bersayap, atau bisa membawa kita terbang, namun aku percaya, ada sayap di dalam cintanya, yang memberikan rasa aman kala kita gundah, ada cahaya di balik sayapnya yang memberikan terang di gelapnya hari kita.
Aku pun, punya malaikat kecil itu. Malaikat kecilku itu bernama ibu Kunanik. Seorang malaikat kecil yang diutus untuk menjagaku. Betapa sungguh, ibuku sangat menyayangiku sejak aku kecil hingga sekarang. Beliau bekerja di pabrik Mikimoto, sebagai seorang buruh. Walau begitu, aku tak pernah merasakan malu atau sungkan kepada teman-teman mengenai pekerjaan ibu, justru ada suatu kebanggan dalam diriku, betapa tidak, seorang buruh pabrik, namun mampu menyekolahkan kedua anaknya sampai ke perguruan tinggi. Sebuah hal yang sangat luar biasa. Tak sedikit orang tua yang punya pekerjaan lebih baik, namun tak bisa menyekolahkan anaknya, dan tak banyak buruh-buruh lain yang bisa menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi.
Sebagai seorang ibu, beliau terlahir bertanggung jawab dan sangat mencintai keluarganya. Betapa tidak selalu dan selalu beliau berusaha menjaga agar rumah tangga kami utuh selamanya. Beliau selalu rela berkorban demi anak-anaknya. Sejak kecil aku ditanamkan oleh beliau sifat-sifat yang baik, masih jelas aku ingat, ketika ibu menasehatiku kalau mengalah itu bukan berarti kalah, biasanya itu ketika aku bertengkar dengan kakakku. Atau, kala beliau melarangku, untuk tidak merokok, dan sampai sekarang, aku belum pernah tersentuh yang namanya merokok. Aku tahu, sebenarnya di balik amarah ibuku, di balik larangan ibuku, adalah sebuah bahasa lain dari kasih sayangnya kepadaku. Aku pernah dilarang bermain di bendungan, di pantai, walau akhirnya aku tetap nekat pergi juga dan dimarahi, namun aku tahu, beliau sayang kepadaku. Karena beliau khawatir akan bahayanya bermain di pantai dan juga di bendungan.
Sebuah kisah.
Dulu, aku pernah menghilangkan sebuah benda yang sangat-sangat berharga. Ada ketakutan dalam hatiku, aku merasakan sangat dan sangat ketakutan kalau aku akan dimarahi. Bagaimana tidak, aku menghilangkan barang yang sangat berharga dan mahal harganya, namun ketika aku berbicara jujur tentang hal itu, ibuku malah berkata,
“kamu tidak apa-apa kan de, gak usah khawatir yang penting kamu sekarang tidak apa-apa, barang itu masih bisa diganti, namun jika kamu yang kenapa-kenapa, gak kan ada yang bisa ngganti. Tidak ada di dunia ini yang jualan umur..”.
sungguh, seketika aku menangis kala itu, bukan karena takut, namun karena aku merasakan belaian lembut ibuku menyentuh dinding nuraniku, perasaan cinta dan sayangnya yang begitu mendalam menyelimuti hawa takut dan dinginku menjadi hangat akan cinta. Dan, aku menangis, terharu dalam kebiruan.
……………..
Kasih ibu itu sepanjang jalan, ketika anaknya berbuat nakal atau membuat marah pun, ibuku tetap menyayangiku. Ketika dulu aku ngambek dan minta hal yang tak wajar, ibuku pun tetap sabar kepadaku. Ketika kondisi rumah dalam keadaan kritis, ibuku pula yang paling optimis semua bisa selesai. Ibuku selalu berkata, bila saja bisa, dia rela kalau nyawanya ditukarkan dengan nyawa anaknya…
Dan sekali lagi, aku menangis terharu dalam sepiku.
Ibuku adalah semangatku, ketika aku jatuh. Ketika prestasiku tak kunjung membaik, ibuku selalu yakinkan kalau akau sudah lakukan yang terbaik dan aku bisa jadi yang lebih baik dari ini.
Tiada ada orang lain yang bisa membuatku bahagia selain kebahagiaan ibuku. Tiada orang lain yang bisa membuatku terharu dan menangis selaih cinta dan kasih sayang ibuku.
Banyak hal yang aku pelajari dari ibuku, caranya menyayangi anaknya, sifat pantang menyerahnya, sifat rela berkorbannya, rasa cintanya yang sangat mendalam kepada keluarganya.. dan sifatnya yang melawan keterbatasan.
Namun, aku sadar. Waktu terus berlalu, tanpa bisa di bohongi, beliau pun semakin menua. Aku sadar, kadang ada kebohongan di kalimatnya, akan kesehatannya, ada kebohongan di ucapannya, tentang harta, dan ada yang disembunyikan di antara senyumannya.
Dan, aku tahu, semua itu demi kebahagianku. Semua beliau berikan demi anak-anaknya, yaitu demi aku dan juga mbakku. sebuah kasih sayang yang membuatku aku menangis di malam sunyi. Aku pun akan memperjuangkan untukmu. Aku pun akan berdo’a untukmu. Aku pun akan berusaha untukmu. Demi kebahagiaan ibuku.
Jika ada seorang berkata kepadaku, “Adakah orang yang mau dengan rela dengan ikhlas dan tulus menolongmu selain orang-orang yang di sini?”, dan dia jawab : “ tak ada kan”. Aku akan jawab : “Ada. Dan orang itu adalah ibuku..”.
Sayangnya, jawabanku sudah dia tumpuk dulu dengan jawabannya, sehingga aku tak jadi menjawab.
Epilog : “malaikat kecilku, aku bangga memilikimu dalam kehidupanku… tiada kalimat dariku untuk bisa menggambarkanmu, bahkan dariku ini adalah sebuah definisi sederhanaku untukmu… Aku sayang ibuku.. selamanya..”
(Ditulis sehari setelah hari ibu tahun 2011)


0 komentar:
Posting Komentar
silakan beri komentar, kritik, atau saran.