Ini adalah sebuah cerita ketika aku
menghadapi persidangan SIM yang kedua.
Ibukota, 10 Agustus. Hari jum’at.
Sudah lama sekali aku menunggu hari ini. Hari dimana aku akan membuktikan hal
yang aku tanyakan pada polisi itu. Ya, kala aku ditilang karena tidak menyalakan
lampu motor.
Belum lagi aku melihat tulisan
persidangan, ku sudah melihat kemacetan yang ditimbulkan oleh persidangan ini.
Banyak tukang parkir gelap yang membuat lahan parkir di pinggir jalan. Sambutan
kemacetan yang benar-benar enak. Aku menikmati sekali kesialanku ini.
Motorku bahkan susah untuk bergerak
ke depan, akhirnya aku putuskan untuk masuk ke dalam perangkap tukang parkir
gelap ini. Ya, akhirnya aku parkir di pinggir jalan, walau aku tahu resikonya,
yaitu kena bea Rp 2000,00 ; kepanasan dan juga tidak aman. Yah, daripada
memaksa masuk, toh di dalam juga sudah terlihat full. Jika melihat ini, ku
berfikir kalau, “Polisi –yang menilangku- perlu membuka mata sedikit lebar
untuk ini…”


