Rumah sakit. Tahun ’90-an...
Ini adalah cerita ibuku yang menunggui aku. Di sepinya dunia saat itu, masa-masa aku tak mengenal siapapun kecuali sesosok wajah lembut ibuku, aku bertarung dengan nafasku. Aku tak melihat apa pun atau pun merasakan apa pun. Penerjemahanku mengenai hidup masihlah kosong. Ya, mungkin karena baru berapa hari aku melihat dunia, dan itu hanya sekelumit dari kotak-kotak yang nantinya akan terbuka. Kata ibuku, nafasku seperti garis-garis diskrit,, patah-patah. Memang itulah yang diharapkan, seluruh orang yang didalam ruangan itu, kata ibuku, berharap garis-garis patah-patah itu tetap ada. Kata ibuku, nafasku terlihat pendek dan berat. Seolah-olah oksigen dalam ruangan itu, terasa terbatas. Padahal, tiga orang lain, ibuku, ayahku, nenekku, tidaklah merasakan itu. Hanyalah aku, berjuang untuk hidup. Tapi aku,