Jumat, 13 Juli 2012

Cerita Milik Kita

Prolog : “Inginnya aku lama bersama kamu..”

Angin laut berhembus mesra di antara kita. Seolah-olah sejuknya menawarkan selamanya ingin di sini. Seperti yang kau pernah katakan padaku, kau akan menemaniku di pantai ini. Kita melihat berdua, deburan ombak di sisi utara kota ini, dimana perlahan-lahan hari menjadi senja, dan matahari terbenam menjadi penantian kita berdua.

Ya, untuk melihat matahari terbenam di birunya laut yang menjadi gelap. Suatu hal yang kau jarang ketahui. Bebatuan ini menjadi sandaran aku untuk mendekapmu. Menghapuskan kesedihan yang sempat menerpa kita berdua. Dalam garis ketidakpercayaan yang kemudian menjadikan supremasi atas jauhnya diri kita.

Aku bercerita kepadamu tentang laut, antara laut dan gunung. “Aku lebih suka laut, karena disini aku bisa melihat ombak-ombak yang bergerak, burung-burung yang terbang bebas, kapal-kapal yang berlayar, sejuknya angin yang berhembus…”.

Tentunya kau belum tentu mengerti akan perkataanku. Wajah manismu membawaku dalam pesona yang aku sendiri tak bisa menjelaskan. Aku berharap, tak ada perpisahan setelah ini. Hamparan biru di depan kita, seolah jalanan hidup kita, bergelombang, penuh akan buih-buih yang tak terkira jumlahnya, seolah itulah gambaran yang akan kita jalani nanti. Aku terpaku, jika gambaran itu menjadi pembesaran dari kenyataan, aku ingin menggambarkan dua garis utama sebagai garis utama gambaran itu, ialah sekarang dan selamanya.

Bukan seperti masa lalu yang selalu kau permasalahkan, bukan tentang wajah lain yang selalu kau tanyakan. Tapi, semua adalah tentang kita. Ini adalah cerita milik kita. Bukan orang lain.
Suara-suara gemericik air lau menjadi penenang keraguan di antara kita. Dalam dekapanku, aku tuliskan aku memilikimu, seperti pun kau, menuliskan kau memiliku. Sebagai persyaratan atas semesta, sebagai supremasi atas diri kita berdua. Dalam do’a yang nyata, kau lah kekasihku. Dimana kasih sayangku menjadi kotak yang aku berikan padamu.

Dan, mala mini menjadi kenangan manis kita berdua. Lampu-lampu kota menjadi bahasa pujangga yang mabuk dalam asmara. Ku lihat engkau tersenyum manis membaca buku itu, dengan rambut tanpa pita terurai indah. Itulah yang aku suka. Alami.

Hangat jiwa kita berlanjut di gerobak sederhana. Dimana kau menuangkan kekuatan dalam jiwaku, seperti pun aku menuangkan kekuatan ke dalam jiwamu. Ku nikmati segala perasaan tak terkira ini, seolah-olah semuanya tak berarti, dan hanya kaulah yang berarti. Ini adalah waktu aku sangat memikirkan sayangku kepadamu.

Dan, malam ini harus berakhir. Dengan senyuman manismu, dan ucapan selamat malam yang menjadi do’a sebelum tidurku. Aku menyayangimu… setara dengan kata yang kau ucapkan kala kita akan berpindah dari bilik kita,

“Aku ingin lama bersama kamu..”.

Malam pun menutup pertemuan kita saat ini.

…………

Epilog : “hanya sekarang dan selamanya…”
(6712)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

ehem.. cie cie cie, hehhee

Posting Komentar

silakan beri komentar, kritik, atau saran.

Entri Populer

"Sabar dan Jalanin aja Jef.."

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...