Hujan baru saja berhenti turun. Ku lihat cahaya matahari berganti awan gelap yang membawa malam turun di penghujung hari.
Lilin-lilin berpendar menggantikan cahaya matahari yang menghilang. Hawa dingin merasuk jauh ke sumsum tulang. Memelukku dengan dingin beku angin malam. Aku terpana. Tak ada bayangan, karena tak ada cahaya. Hanya ada wajah-wajah gelap. Kisah pilu, tentang cinta, ketidakadilan, kemarahan, keputusasaan, dan perpisahan. Seolah-olah semuanya hanya menjadi penindasan atas sejarah.
Aku berlari menhampiri rumahku, masih sangat basah tubuhku oleh air hujan. Terdiam aku berdiri di ujung pintu. Ada tulisan di pintuku. “kau adalah diriku”.
Sesuatu kata merasuk ke dalam alam bawah sadarku.





